<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>My Blog &#187; FILSAFAT</title>
	<atom:link href="http://parapemikir.wordpress.com/category/filsafat/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://parapemikir.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Mon, 14 Nov 2011 06:14:52 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='parapemikir.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>My Blog &#187; FILSAFAT</title>
		<link>http://parapemikir.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://parapemikir.wordpress.com/osd.xml" title="My Blog" />
	<atom:link rel='hub' href='http://parapemikir.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Tradisi Filsafat</title>
		<link>http://parapemikir.wordpress.com/2009/07/28/tradisi-filsafat/</link>
		<comments>http://parapemikir.wordpress.com/2009/07/28/tradisi-filsafat/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 28 Jul 2009 03:07:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aksesb01</dc:creator>
				<category><![CDATA[FILSAFAT]]></category>
		<category><![CDATA[Adam Mez]]></category>
		<category><![CDATA[Avicenna]]></category>
		<category><![CDATA[Fazlur Rahman]]></category>
		<category><![CDATA[Filsafat Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Goldziher]]></category>
		<category><![CDATA[HAR. Gibb]]></category>
		<category><![CDATA[Henry Corbin]]></category>
		<category><![CDATA[Hitti]]></category>
		<category><![CDATA[ibnu kaldun]]></category>
		<category><![CDATA[ibnu rusyd]]></category>
		<category><![CDATA[Ibnu Sina]]></category>
		<category><![CDATA[Joel Kraemer]]></category>
		<category><![CDATA[Oliver Leaman]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah Filsafat]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah Filsafat Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Seyyed Hossein Nasr]]></category>
		<category><![CDATA[Tradisi Filsafat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://parapemikir.com/?p=510</guid>
		<description><![CDATA[Tradisi filsafat : Menurut Majid Fakhry, tradisi filsafat bermula muncul di pesisir Samudera Mediterania bagian Timur pada abad ke-6 Sebelum Masehi. Sedangkan bagian Timur ini merupakan wilayah Asia. Oleh karenanya dalam dunia filsafat terkenal adanya istilah “kearifan timur” sebagai the ancient wisdom, karena memang awal mula munculnya tradisi filsafat adalah dari dunia Timur. Lalu dari [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=parapemikir.wordpress.com&#038;blog=8959315&#038;post=510&#038;subd=parapemikir&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_511" class="wp-caption alignleft" style="width: 160px"><a href="http://parapemikir.com/tradisi-filsafat.html"><img class="size-thumbnail wp-image-511" title="mulla_sadra" src="http://parapemikir.com/wp-content/uploads/2009/07/mulla_sadra-150x150.jpg" alt="Mulla Sadra" width="150" height="150" /></a><p class="wp-caption-text">Mulla Sadra</p></div>
<p style="text-align:justify;"><strong>Tradisi filsafat :</strong> Menurut Majid Fakhry, tradisi <a href="http://parapemikir.com/filsafat.html">filsafat</a> bermula muncul di pesisir Samudera Mediterania bagian Timur pada abad ke-6 Sebelum Masehi. Sedangkan bagian Timur ini merupakan wilayah Asia.</p>
<p style="text-align:justify;">Oleh karenanya dalam dunia <a href="http://parapemikir.com/filsafat.html">filsafat</a> terkenal adanya istilah “kearifan timur” sebagai <em>the ancient wisdom</em>, karena memang awal mula munculnya <a href="http://parapemikir.com/tradisi-filsafat.html">tradisi filsafat</a> adalah dari dunia Timur. Lalu dari Asia Minor yang berada di Barat Asia berpindah ke Aegen –yang bagian Utara dan Baratnya adalah daratan Yunani. Beberapa abad lamanya, tanah Yunani inilah yang menjadi tempat bersemainya <a href="http://parapemikir.com/filsafat.html">filsafat</a>.</p>
<p style="text-align:justify;"><span id="more-510"></span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Tradisi filsafat</strong> mulai merambah kembali ke daerah Timur ketika Iskandar Agung berkuasa sekitar 332 SM di Iskandariah, dan memuncak pada 529 M. Iskandariah merupakan bagian dari Mesir saat ini. Lalu ketika Mesir takluk pada bangsa Arab pada 641 Munasabah di bawah pimpinan ‘Amr bin ‘Ash, Iskandariah tetap menjadi kota budaya yang mengembangkan <strong>tradisi filsafat</strong>, sains, dan kedokteran.</p>
<p style="text-align:justify;">Perdebatan rasional-filosofis dalam tradisi Islam sebenarnya sudah dimulai pada permulaan abad munculnya Islam, yakni sekitar akhir abad ke-6 dan ke-7 yang diawali oleh aliran-aliran teologis dalam Islam, terutama aliran Mu’tazilah. Namun pembahasan yang mereka lakukan hanya terbatas pada permasalahan ketuhanan dalam bingkai agama. Permasalahan lain seperti realitas alam, manusia, dan kehidupan belum banyak mereka bicarakan dengan pemikiran yang radikal.</p>
<p style="text-align:justify;">Pengaruh <a href="http://parapemikir.com/filsafat.html">filsafat</a> Yunani yang cukup signifikan terjadi pada corak pemikiran filosofis Islam, berlangsung melalui proses penerjemahan, transferensi, dan anotasi yang dilakukan oleh tokoh-tokoh filosof muslim. Banyak sekali buku-buku yang diterjemahkan ke dalam bahasa Arab dan cukup mempengaruhi corak pemikiran para filosof muslim, di antaranya <em>Timaeus</em> karya Plato; <em>Analytica Posteriora, Categories, Hermeneutica, Generation and Corruption</em> dan <em>Nicomachean Ethics</em> karya Aristoteles; <em>Isagoge</em> karya Porphyry, dan <em>Synopsis of the Ehtics</em> karya Galen. Semua itu dilakukan pada masa kekuasaan ‘Abbasiyah.</p>
<p style="text-align:justify;">Tradisi penulisan <a href="http://parapemikir.com/filsafat.html">filsafat</a> secara sistematis baru dimulai pada abad ke-9 di kawasan <em>masyriq</em> Islam, oleh Abu Yusuf Ya’qub al-Kindi (w. 866 M). Lalu berlanjut pada beberapa tokoh yang semakin hari menampakkan kegemilangan filsafat Islam, seperti Abu Bakar al-Razi<strong> </strong>(w. 925/932/935 M), al-Farabi (w. 950 M), Ibn Sina (w. 1037 M), Ibn Miskawaih (w. 1030 M), dan al-Ghazali (w. 1111 M).</p>
<p style="text-align:justify;">Berlanjut setelahnya, <a href="http://parapemikir.com/filsafat-islam-dalam-bingkai-sejarah.html">filsafat Islam</a> pun berkembang di wilayah <em>maghrib</em> dengan beberapa tokohnya seperti Ibn Masarrah (w. 931 M), Ibn Bajjah (w. 1139 M), Ibn Thufail (w. 1185), Ibn Sab’in (w. 1270 M) dan berpuncak pada Ibn<strong> </strong>Rusyd (w. 1198 M) serta Ibn Khaldun (w. 1406 M).</p>
<p style="text-align:justify;">Selama ini berkembang <em>asumsi ahistoris</em> yang disuarakan dengan gencar oleh sebagian ahli <a href="http://parapemikir.com/filsafat.html">filsafat</a> dan para sejarawan, bahwa kajian <a href="http://parapemikir.com/filsafat-islam-dalam-bingkai-sejarah.html">filsafat Islam</a> telah mati seiring dengan meninggalnya Ibn Rusyd.</p>
<p style="text-align:justify;">Menurut Mustamin al-Mandary asumsi semacam ini, <em>pertama</em> lahir dari studi-studi <a href="http://parapemikir.com/filsafat-islam-dalam-bingkai-sejarah.html">filsafat Islam</a> yang cenderung terlalu mengagungkan (atau menyimpulkan) bahwa puncak filsafat Islam terletak pada perdebatan filosofis-historis (dialektis) antara al-Ghazali (1059-1111 M) yang menyerang Ibn Sina sebagai pendiri mazhab Parepatetik dalam <a href="http://parapemikir.com/filsafat-islam-dalam-bingkai-sejarah.html">filsafat Islam</a>, dengan Ibn Rusyd (1126-1198 M). Sehingga ketika keduanya wafat, maka tradisi <a href="http://parapemikir.com/filsafat-islam-dalam-bingkai-sejarah.html">filsafat Islam</a> diasumsikan mati.</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Kedua</em>, sebagian besar pengamat filsafat menganggap bahwa “dialektika” filosofis antar Ibn Sina-al-Ghazali-Ibn Rusyd merupakan sebuah pertentangan. Padahal jika kita cermati secara jeli, dialektika yang berlangsung antara mereka merupakan sebuah upaya untuk mempertegas arah dan posisi <a href="http://parapemikir.com/filsafat-islam-dalam-bingkai-sejarah.html">filsafat Islam</a>, dan pada saat yang sama terdapat nilai-nilai yang mesti dipertegas antara nilai-nilai keIslaman dan nilai-nilai filosofis.</p>
<p style="text-align:justify;">Kritik al-Ghazali terhadap Ibn Sina dan kaum Parepatetik mesti kita dudukkan sebagai usaha besar untuk merubah kecenderungan <a href="http://parapemikir.com/filsafat-islam-dalam-bingkai-sejarah.html">filsafat Islam</a>, dari klaim-klaim menggelitik tentang <a href="http://parapemikir.com/filsafat-islam-dalam-bingkai-sejarah.html">filsafat Islam</a> <em>( filsafat Islam hanyalah sebagai filsafat Yunani yang diterjemahkan ke dalam bahasa Arab ) </em>ke arah <a href="http://parapemikir.com/filsafat.html">filsafat</a> Islam yang khas. Sedangkan usaha kritik-balik yang dilancarkan oleh Ibn Rusyd adalah sebuah upaya bahwa kaum muslim harus benar-benar serius dalam mengedepankan nilai-nilai filosofis dalam <a href="http://parapemikir.com/filsafat-islam-dalam-bingkai-sejarah.html">filsafat Islam</a> secara mandiri.</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Ketiga</em>, pada umumnya, para pengamat sejarah <a href="http://parapemikir.com/filsafat-islam-dalam-bingkai-sejarah.html">filsafat Islam</a> cenderung melupakan adanya sinergitas dan kontinuitas tradisi <a href="http://parapemikir.com/filsafat-islam-dalam-bingkai-sejarah.html">filsafat Islam</a> di belahan dunia muslim lainnya. Yakni ketika mereka membatasi kajian <a href="http://parapemikir.com/filsafat-islam-dalam-bingkai-sejarah.html">filsafat Islam</a> pada tokoh-tokoh dari al-Kindi sampai al-Ghazali dan Ibn Rusyd.</p>
<p style="text-align:justify;">Pandangan <em>ahistoris</em> semacam ini mesti lekas kita tolak, karena pada kenyataannya <a href="http://parapemikir.com/filsafat-islam-dalam-bingkai-sejarah.html">filsafat Islam</a> terus berkembang terutama dikembangkan di sebagian besar wilayah timur dan beberapa kecil di <em>maghrib</em>. Ada beberapa tokoh yang terus melanjutkan tradisi filosofis dalam Islam meski lahir dengan berbagai perbedaan coraknya, seperti Syihab al-Din Suhrawardi (w. 1191 M) yang mendirikan mazhab filsafat <em>Illuminasionisme</em>, Muhy al-Din Ibn ‘Arabi (w. 1240 M) yang memiliki corak <em>teosofi/’irfani</em> (<em>gnostisisme</em>) di maghrib.</p>
<p style="text-align:justify;">Ajaran-ajaran Ibn ‘Arabi ini ternyata lebih berkembang di daerah Persia dengan tokoh-tokohnya semacam Shadr al-Din Qunawi (w. 1274 M), Quthb al-Din al-Syirazi (w. 1311 M). Bahkan sampai ke Turki melalui Jalal al-Din Rumi (1273 M). Tradisi Illuminasionisme berkembang melalui Syahrazuri (w. 1288 M), Ibn Kammunah (w. 1284 M), Sayyid Haydar Amuli (w. 1385 M), dan Mir Damad (w. 1631 M). Mazhab <a href="http://parapemikir.com/filsafat.html">filsafat</a> peripatetik terus berlanjut melalui Nashir al-Din al-Thusi (w. 1274 M).</p>
<p style="text-align:justify;">Puncak dari semua aliran <a href="http://parapemikir.com/filsafat.html">filsafat</a> ini berada di tangan Shadr al-Din al-Syirazi (w. 1637 M) yang mencoba memadukan semua aliran <a href="http://parapemikir.com/filsafat-islam-dalam-bingkai-sejarah.html">filsafat Islam</a> yang ada sebelumnya di bawah nama <em>al-Hikmah al-Muta’aliyah</em> atau <em>Teosofi Transenden</em>. Setelahnya tradisi <a href="http://parapemikir.com/filsafat-islam-dalam-bingkai-sejarah.html">filsafat Islam</a> tidak pernah padam bahkan sampai abad modern dewasa ini.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/parapemikir.wordpress.com/510/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/parapemikir.wordpress.com/510/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/parapemikir.wordpress.com/510/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/parapemikir.wordpress.com/510/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/parapemikir.wordpress.com/510/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/parapemikir.wordpress.com/510/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/parapemikir.wordpress.com/510/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/parapemikir.wordpress.com/510/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/parapemikir.wordpress.com/510/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/parapemikir.wordpress.com/510/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/parapemikir.wordpress.com/510/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/parapemikir.wordpress.com/510/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/parapemikir.wordpress.com/510/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/parapemikir.wordpress.com/510/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=parapemikir.wordpress.com&#038;blog=8959315&#038;post=510&#038;subd=parapemikir&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://parapemikir.wordpress.com/2009/07/28/tradisi-filsafat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/937a324ba87642b2af63ec361902dc3b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">aksesb01</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://parapemikir.com/wp-content/uploads/2009/07/mulla_sadra-150x150.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">mulla_sadra</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Filsafat Islam dalam Bingkai Sejarah</title>
		<link>http://parapemikir.wordpress.com/2009/07/27/filsafat-islam-dalam-bingkai-sejarah/</link>
		<comments>http://parapemikir.wordpress.com/2009/07/27/filsafat-islam-dalam-bingkai-sejarah/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 27 Jul 2009 03:04:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aksesb01</dc:creator>
				<category><![CDATA[FILSAFAT]]></category>
		<category><![CDATA[Adam Mez]]></category>
		<category><![CDATA[Fazlur Rahman]]></category>
		<category><![CDATA[Filsafat Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Goldziher]]></category>
		<category><![CDATA[HAR. Gibb]]></category>
		<category><![CDATA[Henry Corbin]]></category>
		<category><![CDATA[Hitti]]></category>
		<category><![CDATA[Joel Kraemer]]></category>
		<category><![CDATA[Oliver Leaman]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah Filsafat]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah Filsafat Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Seyyed Hossein Nasr]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://parapemikir.com/?p=499</guid>
		<description><![CDATA[Filsafat Islam dewasa ini menjadi domain wacana dan tema diskusi yang kuat di kalangan pemikir (pemerhati filsafat) di Timur maupun di Barat. Setidaknya hal ini terjadi pada abad ke-19 hingga kini. Sebut saja orang-orang seperti Adam Mez, Henry Corbin, Goldziher, Hitti, HAR. Gibb, atau Seyyed Hossein Nasr, Fazlur Rahman, Joel Kraemer, dan belakangan Oliver Leaman [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=parapemikir.wordpress.com&#038;blog=8959315&#038;post=499&#038;subd=parapemikir&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_500" class="wp-caption alignleft" style="width: 160px"><a href="http://parapemikir.com/filsafat-Islam-dalam-bingkai-sejarah.html"><img class="size-thumbnail wp-image-500" title="Ibnu Sina" src="http://parapemikir.com/wp-content/uploads/2009/07/Ibnu-Sina-150x150.jpg" alt="Avicenna" width="150" height="150" /></a><p class="wp-caption-text">Avicenna</p></div>
<p style="text-align:justify;"><strong>Filsafat Islam</strong> dewasa ini menjadi domain wacana dan tema diskusi yang kuat di kalangan pemikir (pemerhati filsafat) di Timur maupun di Barat. Setidaknya hal ini terjadi pada abad ke-19 hingga kini.</p>
<p style="text-align:justify;">Sebut saja orang-orang seperti Adam Mez, Henry Corbin, Goldziher, Hitti, HAR. Gibb, atau Seyyed Hossein Nasr, Fazlur Rahman, Joel Kraemer, dan belakangan Oliver Leaman serta beberapa ahli filsafat muslim yang ada di Eropa lainnya ikut mengkaji filsafat Islam secara intens.</p>
<p style="text-align:justify;">Adapun sebelumnya, wacana <a href="http://parapemikir.com/filsafat.html">filsafat</a> Islam seringkali tidak terjamah bahkan mungkin hampir ditiadakan baik itu di kalangan pemikir Barat, maupun dalam sebagian tradisi Islam sendiri. </p>
<p style="text-align:justify;"><span id="more-499"></span></p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://parapemikir.com/filsafat.html">Filsafat</a> Islam dipandang sebagai sebuah objek yang asing dan serangkaian ilmu import yang harus dilawan dan diperlakukan sebagai anak yatim oleh para sarjana Barat terutama para sejarawan kuno.</p>
<p style="text-align:justify;">Referensi yang selama ini dirujuk oleh para sarjana Barat ketika menghubungkan antara Kebangkitan <em>(Renaissance)</em> di Eropa adalah tradisi keilmuan Yunani yang dikenal dengan zaman <em>logos</em>. Hal ini sangat kuat diyakini terutama dalam cara pandang tentang kehidupan yang dilandasi oleh pemikiran filosofis Yunani. Selalu saja rujukan awal yang dicari adalah para pemikir seperti Socrates, Plato, dan Aristoteles.</p>
<p style="text-align:justify;">Memang hal ini bukanlah sebuah kesalahan fatal. Namun ketika hal tersebut tidak pernah dikaitkan dengan kejayaan yang pernah diraih oleh Islam –dan kita tahu bahwa Islam sangat banyak menyumbangkan pemikiran dan kemajuan dalam bidang ilmu pengetahuan, <a href="http://parapemikir.com/filsafat.html">filsafat</a>, sejarah, dan beberapa bidang lainnya–, ada keterputusan-sejarah yang pada akhirnya menyebabkan kerancuan-ilmiah dalam memandang filsafat secara umum terutama dalam filsafat Barat pasca <em>Renaissance</em>. Karena pada dasarnya ada kotinuitas-historis yang tidak bisa kita abaikan.</p>
<p style="text-align:justify;">Ketika Islam mengalami kejayaan peradaban pada abad ke-9 hingga abad ke-11, dunia Islam sendiri mengakui adanya andil besar gelombang helenisme yang lebih awal dalam mengais kemajuan peradaban. Dalam hal terakhir ini, pengaruh pemikiran Plato, Aristoteles, dan beberapa tokoh lain, coba ditafsirkan oleh para filosof muslim awal seperti al-Farabi, Ibn Sina, dan Ibn Rusyd.</p>
<p style="text-align:justify;">Hasan Hanafi mencoba mendongkrak asumsi-asumsi salah yang dilancarkan para pengkaji <a href="http://parapemikir.com/filsafat.html">filsafat</a> Islam, baik dari kalangan Islam sendiri, maupun dari kalangan orientalis. Menurut Hanafi, selama ini mereka menduga bahwa para filosof muslim hanya melakukan pembacaan terhadap <a href="http://parapemikir.com/filsafat.html">filsafat</a> Yunani, kemudian mengikuti, melakukan anotasi, dan meringkas karya para filsuf Yunani, serta mencampuradukkannya dengan <a href="http://parapemikir.com/filsafat.html">filsafat</a> Islam, dengan memperburuk pemahaman tentang konsep-konsep filosofis.</p>
<p style="text-align:justify;">Namun saya kira, tradisi Yunani pun tidak bisa lepas dari perkembangan tradisi <a href="http://parapemikir.com/filsafat.html">filsafat</a> Timur-Dekat sebagai pendahulunya. Secara genuin, Joel L. Kraemer menjelaskan bahwa filosof-filosof Yunani pra-Socrates seperti Empedokles, umpamanya, dikatakan telah belajar kepada Luqman “sang filosof” (Luqman al-Hakim) di Syro-Palestina pada masa Nabi Daud; atau Pythagoras diyakini telah belajar fisika dan metafisika pada murid-murid Nabi Sulaiman di Mesir, dan belajar geometri pada orang-orang Mesir. Kemudian para filosof semacam ini membawa tradisi “filosofis” yang mereka serap dari Timur menuju Yunani, untuk dikembangkan lebih lanjut.</p>
<p style="text-align:justify;">Ada khazanah yang cukup berharga dari temuan-temuan pada <a href="http://parapemikir.com/filsafat.html">filsafat</a> Islam yang selama ini tidak diakui oleh filosof dan pemerhati <a href="http://parapemikir.com/filsafat.html">filsafat</a> di Barat. Padahal Islam sendiri memiliki tradisi keilmuan yang begitu kokoh, terutama pada abad pertengahan. Atau mungkin sebenarnya mereka banyak mengambil khazanah pemikiran filsafat Islam, namun mereka enggan untuk mengakui keberadaannya secara ontologis dalam rentetan sejarah peradaban dunia.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/parapemikir.wordpress.com/499/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/parapemikir.wordpress.com/499/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/parapemikir.wordpress.com/499/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/parapemikir.wordpress.com/499/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/parapemikir.wordpress.com/499/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/parapemikir.wordpress.com/499/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/parapemikir.wordpress.com/499/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/parapemikir.wordpress.com/499/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/parapemikir.wordpress.com/499/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/parapemikir.wordpress.com/499/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/parapemikir.wordpress.com/499/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/parapemikir.wordpress.com/499/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/parapemikir.wordpress.com/499/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/parapemikir.wordpress.com/499/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=parapemikir.wordpress.com&#038;blog=8959315&#038;post=499&#038;subd=parapemikir&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://parapemikir.wordpress.com/2009/07/27/filsafat-islam-dalam-bingkai-sejarah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/937a324ba87642b2af63ec361902dc3b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">aksesb01</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://parapemikir.com/wp-content/uploads/2009/07/Ibnu-Sina-150x150.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Ibnu Sina</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Rene Descartes 3</title>
		<link>http://parapemikir.wordpress.com/2009/07/25/rene-descartes-3/</link>
		<comments>http://parapemikir.wordpress.com/2009/07/25/rene-descartes-3/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 25 Jul 2009 03:15:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aksesb01</dc:creator>
				<category><![CDATA[FILSAFAT]]></category>
		<category><![CDATA[Bapak Filsafat]]></category>
		<category><![CDATA[cogito]]></category>
		<category><![CDATA[Cogito Ergo Sum]]></category>
		<category><![CDATA[Descartes]]></category>
		<category><![CDATA[Filsafat Barat]]></category>
		<category><![CDATA[Filsuf Barat]]></category>
		<category><![CDATA[Filsuf Modern]]></category>
		<category><![CDATA[kesadaran diri]]></category>
		<category><![CDATA[rasionalis]]></category>
		<category><![CDATA[Rene Descartes]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://parapemikir.com/?p=470</guid>
		<description><![CDATA[Hubungan Jiwa dan Badan :  Descartes mengatakan bahwa aku itu terdiri dari dua substansi, yakni substansi jiwa dan substansi jasmani atau materi. Descartes selanjutnya membedakan antara substansi manusia dan hewan pada rasio atau jiwanya. Descartes mengatakan, manusia memiliki kebebasan yang mana tidak dimiliki oleh hewan. Hewan dalam prilakunya selalu terbentuk secara otomatis, bukan dengan kebebasan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=parapemikir.wordpress.com&#038;blog=8959315&#038;post=470&#038;subd=parapemikir&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_471" class="wp-caption alignleft" style="width: 160px"><a href="http://parapemikir.com/rene-descartes-3"><img class="size-thumbnail wp-image-471" title="descartes-rene" src="http://parapemikir.com/wp-content/uploads/2009/07/descartes2-150x150.jpg" alt="Rene Descartes" width="150" height="150" /></a><p class="wp-caption-text">Rene Descartes</p></div>
<p style="text-align:justify;"><strong>Hubungan Jiwa dan Badan</strong> :  <a href="http://parapemikir.com/rene-descartes-2.html">Descartes</a> mengatakan bahwa aku itu terdiri dari dua substansi, yakni substansi jiwa dan substansi jasmani atau materi. <a href="http://parapemikir.com/rene-descartes-2.html">Descartes</a> selanjutnya membedakan antara substansi manusia dan hewan pada rasio atau jiwanya.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://parapemikir.com/rene-descartes-2.html">Descartes</a> mengatakan, manusia memiliki kebebasan yang mana tidak dimiliki oleh hewan. Hewan dalam prilakunya selalu terbentuk secara otomatis, bukan dengan kebebasan karena hewan tidak memiliki jiwa sebagai dasar kemandirian substansi.</p>
<p style="text-align:justify;"><span id="more-470"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Adapun kesamaan antara hewan dan manusia adalah pada jasmani atau tubuhnya, karena itu bisa dikatakan bahwa sesungguhnya tubuh manusiapun sebenarnya berjalan secara otomatis dan tunduk kepada hukum-hukum alam.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://parapemikir.com/rene-descartes-2.html">Descartes</a> selanjutnya menyebut tubuh adalah sebagai <em>L`homme machine</em> atau mesin yang bisa berjalan secara otomatis (berjalan sendiri). Badan bisa bergerak, bernafas, mengedarkan darah dan seterusnya tanpa campur tangan pikiran atau jiwa. Perbedaannya adalah kalau pada manusia mesin ini diatur atau dikontrol oleh jiwa sementara pada hewan mesin ini berjalan secara alami atau otomatis.</p>
<p style="text-align:justify;">Bagaimana jiwa mengatur atau mengontrol tubuh (mesin), <a href="http://parapemikir.com/rene-descartes-2.html">Descartes</a> menjelaskannya dengan menunjukkan sebuah kelenjar kecil <em>(glandula pinealis)</em> yang ada di otak sebagai semacam jembatan. Dengan adanya kelenjar kecil yang berfungsi sebagai jembatan penghubung ini maka tubuh bisa merepleksikan aktifitas-aktifitas unik seperti gembira, bersedih, tertawa , murung dan lain-lain.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Etika</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Dalam hal etika, <a href="http://parapemikir.com/rene-descartes-2.html">Descartes</a> mempunyai pandangan dualitas dimana disatu sisi dikatakan manusia bebas dan independen dan disisi lainnya dikatakan  bahwa kebebasan tersebut tidak independen melainkan dituntun oleh Tuhan.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://parapemikir.com/rene-descartes-2.html">Descartes</a> mengatakan, untuk mencapai jiwa yang bebas dan independen maka kita harus mengendalikan hasrat-hasrat yang ada didalam diri kita sehingga jiwa bisa menguasai tingkah laku kita sepenuhnya. Dengan menguasai atau mengontrol hasrat dan tingkah laku, manusia bisa memiliki kebebasan <a href="http://parapemikir.com/irfan.html">spiritual</a>. Hal ini bisa terjadi karena hasrat dan nafsu seperti  : cinta, kebencian, kekaguman, kegembiraan, kesedihan dan gairah dianggap sebagai keadaan pasif dari jiwa dan jika manusia mampu menaklukkan nafsu-nafsu ini maka dia akan bebas dan independen.</p>
<p style="text-align:justify;">Akan tetapi kata <a href="http://parapemikir.com/rene-descartes-2.html">Descartes</a>, yang disebut bebas dan independen dalam pengertian otonomi tersebut bukanlah bebas mutlak melainkan bebas berdasarkan penyelenggaraan Ilahi.</p>
<p><strong>Problem dan Pengaruh Filsafat Descartes</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Pandangan Filsafat <a href="http://parapemikir.com/rene-descartes-2.html">Descartes</a> terutama tentang dasar filsafat <em>cogito </em>nya, selanjutnya dipercaya sebagai tonggak dimulainya filsafat <em>rasionalis.</em> Dengan <em>cogito</em> <a href="http://parapemikir.com/rene-descartes-2.html">Descartes</a> mengandaikan bahwa pikiran atau kesadaran akan melukiskan kenyataan diluar pikiran kita, dengan kata lain keadaan diluar pikiran atau kenyataan yang kita temui diluar pikiran adalah bersumber dari pikiran atau kesadaran diri kita.  Dengan cara menyadari kesadaran diri kita sendiri maka kita akan mengenal dunia diluar diri kita.</p>
<p style="text-align:justify;">Pandangan <a href="http://parapemikir.com/rene-descartes-2.html">Descartes</a> tersebut dikemudian hari malah menimbulkan problem yang sangat mendasar, jika dikatakan bahwa pikiranlah yang melukiskan kenyataan diluar pikiran, namun pada kenyataan tidak disemua lukisan akan menampilkan kenyataan.</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan kata lain, <a href="http://parapemikir.com/rene-descartes-2.html">Descartes</a> hanya berpijak kepada salah satu alat sementara alat yang lainnya ( kenyataan material ) diabaikan. <a href="http://parapemikir.com/rene-descartes-2.html">Descartes</a> beranggapan bahwa hanya dengan rasio atau kesadaran <em>(cogito)</em> maka kita akan mengenali diri dan pikiran kita, sementara kenyataannya kita masih melihat adanya ada lain di alam kenyataan.<span id="_marker"> </span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/parapemikir.wordpress.com/470/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/parapemikir.wordpress.com/470/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/parapemikir.wordpress.com/470/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/parapemikir.wordpress.com/470/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/parapemikir.wordpress.com/470/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/parapemikir.wordpress.com/470/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/parapemikir.wordpress.com/470/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/parapemikir.wordpress.com/470/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/parapemikir.wordpress.com/470/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/parapemikir.wordpress.com/470/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/parapemikir.wordpress.com/470/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/parapemikir.wordpress.com/470/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/parapemikir.wordpress.com/470/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/parapemikir.wordpress.com/470/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=parapemikir.wordpress.com&#038;blog=8959315&#038;post=470&#038;subd=parapemikir&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://parapemikir.wordpress.com/2009/07/25/rene-descartes-3/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/937a324ba87642b2af63ec361902dc3b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">aksesb01</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://parapemikir.com/wp-content/uploads/2009/07/descartes2-150x150.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">descartes-rene</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Rene Descartes 2</title>
		<link>http://parapemikir.wordpress.com/2009/07/24/rene-descartes-2/</link>
		<comments>http://parapemikir.wordpress.com/2009/07/24/rene-descartes-2/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 24 Jul 2009 03:45:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aksesb01</dc:creator>
				<category><![CDATA[FILSAFAT]]></category>
		<category><![CDATA[Bapak Filsafat]]></category>
		<category><![CDATA[cogito]]></category>
		<category><![CDATA[Cogito Ergo Sum]]></category>
		<category><![CDATA[Descartes]]></category>
		<category><![CDATA[Filsafat Barat]]></category>
		<category><![CDATA[Filsuf Barat]]></category>
		<category><![CDATA[Filsuf Modern]]></category>
		<category><![CDATA[kesadaran diri]]></category>
		<category><![CDATA[Rene Descartes]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://parapemikir.com/?p=460</guid>
		<description><![CDATA[Ide-ide bawaan dan substansi : Metode keraguan yang diperkenalkan Descartes telah menemukan cogito , yaitu kesadaran, pikiran atau subjektivas. Descartes menyebut pikiran tersebut sebagai ide bawaan yang sudah melekat sejak kita lahir kedunia ini atau dalam istilahnya disebut sebagai “res cogians”. Descartes melanjutkan, bahwa dalam kenyataannya aku ini bukan hanya pikiran saja, melainkan bisa juga [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=parapemikir.wordpress.com&#038;blog=8959315&#038;post=460&#038;subd=parapemikir&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_461" class="wp-caption alignleft" style="width: 160px"><a href="http://parapemikir.com/rene-descartes-2"><img class="size-thumbnail wp-image-461" title="descartes" src="http://parapemikir.com/wp-content/uploads/2009/07/descartes1-150x150.jpg" alt="Rene Descartes" width="150" height="150" /></a><p class="wp-caption-text">Rene Descartes</p></div>
<p><strong>Ide-ide bawaan dan substansi :</strong> Metode keraguan yang diperkenalkan <a href="http://parapemikir.com/rene-descartes.html">Descartes</a> telah menemukan <em>cogito </em>, yaitu kesadaran, pikiran atau subjektivas. <a href="http://parapemikir.com/rene-descartes.html">Descartes</a> menyebut pikiran tersebut sebagai ide bawaan yang sudah melekat sejak kita lahir kedunia ini atau dalam istilahnya disebut sebagai <em>“res cogians”</em>.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://parapemikir.com/rene-descartes.html">Descartes</a> melanjutkan, bahwa dalam kenyataannya aku ini bukan hanya pikiran saja, melainkan bisa juga dilihat dan diraba, kejasmanianku ini bisa saja merupakan tipuan atau kesan yang telah menipu saya sejak lahir, namun demikian bukankah sudah sejak lahir itu pula kesan itu ada yang mana berarti kejasmanianku ini juga merupakan ide bawaan karena sudah terbawa sejak lahir.</p>
<p style="text-align:justify;"><span id="more-460"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Untuk menjelaskan maksudnya ini <a href="http://parapemikir.com/rene-descartes.html">Descartes</a> kemudian menyebutnya dengan istilah <em>“res extensa”</em> atau keluasan.</p>
<p style="text-align:justify;">Merangkai cerita kejasmanian tersebut lalu kemudian <a href="http://parapemikir.com/rene-descartes.html">Descartes</a> menunjuk kepada dirinya sendiri dan mengatakan bahwa aku juga mempunyai ide tentang yang sempurna dan ide itu sudah ada didalam diriku dan sudah menjadi bawaanku. Kemudian tentang Tuhan, Tuhan juga merupakan ide bawaan.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam masalah ide bawaan ini, <a href="http://parapemikir.com/rene-descartes.html">Descartes</a> secara ringkas mengatakan bahwa terdapat 3 buah ide bawaan, yaitu :</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Ide tentang pikiran</li>
<li>Ide tentang keluasan <em>(res extensa)</em></li>
<li>Ide tentang Tuhan</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Sekarang yang menjadi pertanyaan adalah apakah ketiga ide itu hanya ada didalam pikiran kita saja atau adanya berada diluar pikiran?</p>
<p style="text-align:justify;">Mengenai yang pertama, tentang ide pikiran <a href="http://parapemikir.com/rene-descartes.html">Descartes</a> mengatakan bahwa <em>cogito erfo sum </em>atau aku berpikir maka aku ada, yang artinya berpikir adalah merupakan suatu substansi atau suatu kenyataan yang berdiri sendiri atau dengan kata lain berpikir itu adalah jiwa itu sendiri.</p>
<p style="text-align:justify;">Mengenai yang kedua, tentang keluasaan <a href="http://parapemikir.com/rene-descartes.html">Descartes</a> mengatakan, tidak mungkin Tuhan yang maha sempurna itu menipu kita tentang adanya kejasmanian, karenanya bisa dikatakan bahwa kematerian adalah juga merupakan sebuah substansi.</p>
<p style="text-align:justify;">Mengenai yang ketiga, tentang Tuhan <a href="http://parapemikir.com/rene-descartes.html">Descartes</a> mengatakan ketika kita memiliki ide tentang Tuhan, maka Tuhan itu ada dan karena Tuhan ada maka adanya itu sendiri haruslah merupakan substansi ontologis. Dalam hal ini nampaknya <a href="http://parapemikir.com/rene-descartes.html">Descartes</a> sejalan dengan Anselmus.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/parapemikir.wordpress.com/460/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/parapemikir.wordpress.com/460/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/parapemikir.wordpress.com/460/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/parapemikir.wordpress.com/460/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/parapemikir.wordpress.com/460/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/parapemikir.wordpress.com/460/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/parapemikir.wordpress.com/460/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/parapemikir.wordpress.com/460/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/parapemikir.wordpress.com/460/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/parapemikir.wordpress.com/460/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/parapemikir.wordpress.com/460/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/parapemikir.wordpress.com/460/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/parapemikir.wordpress.com/460/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/parapemikir.wordpress.com/460/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=parapemikir.wordpress.com&#038;blog=8959315&#038;post=460&#038;subd=parapemikir&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://parapemikir.wordpress.com/2009/07/24/rene-descartes-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/937a324ba87642b2af63ec361902dc3b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">aksesb01</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://parapemikir.com/wp-content/uploads/2009/07/descartes1-150x150.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">descartes</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Rene Descartes</title>
		<link>http://parapemikir.wordpress.com/2009/07/23/rene-descartes/</link>
		<comments>http://parapemikir.wordpress.com/2009/07/23/rene-descartes/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 23 Jul 2009 13:47:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aksesb01</dc:creator>
				<category><![CDATA[FILSAFAT]]></category>
		<category><![CDATA[Bapak Filsafat]]></category>
		<category><![CDATA[cogito]]></category>
		<category><![CDATA[Cogito Ergo Sum]]></category>
		<category><![CDATA[Descartes]]></category>
		<category><![CDATA[Filsafat Barat]]></category>
		<category><![CDATA[Filsuf Barat]]></category>
		<category><![CDATA[Filsuf Modern]]></category>
		<category><![CDATA[kesadaran diri]]></category>
		<category><![CDATA[Rene Descartes]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://parapemikir.com/?p=454</guid>
		<description><![CDATA[Rene Descartes lahir di La Haye Touraine-Prancis pada tanggal 31 maret 1596 dari sebuah keluarga borjuis. Ayahnya adalah seorang pengacara yang aktif berpolitik sementara ibunya telah meninggal pada saat usia Descartes masih 1 tahun. Descartes dimasukkan ke sekolah La Fleche pada usia 8 tahun , disana dia belajar ilmu-ilmu alam dan filsafat skolastik lalu kemudian [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=parapemikir.wordpress.com&#038;blog=8959315&#038;post=454&#038;subd=parapemikir&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_455" class="wp-caption alignleft" style="width: 160px"><a href="http://parapemikir.com/rene-descartes.html"><img class="size-thumbnail wp-image-455" title="descartes" src="http://parapemikir.com/wp-content/uploads/2009/07/descartes-150x150.jpg" alt="Rene Descartes" width="150" height="150" /></a><p class="wp-caption-text">Rene Descartes</p></div>
<p style="text-align:justify;">Rene Descartes lahir di La Haye Touraine-Prancis pada tanggal 31 maret 1596 dari sebuah keluarga borjuis. Ayahnya adalah seorang pengacara yang aktif berpolitik sementara ibunya telah meninggal pada saat usia Descartes masih 1 tahun.</p>
<p style="text-align:justify;">Descartes dimasukkan ke sekolah La Fleche pada usia 8 tahun , disana dia belajar ilmu-ilmu alam dan filsafat skolastik lalu kemudian pada tahun 1613 melanjutkan study-nya di Poitier, bukan memperdalam filsafat melainkan belajar ilmu hukum.</p>
<p style="text-align:justify;">Dua tahun kemudian, atau tepatnya tahun 1615 Descartes pergi ke Paris untuk belajar Matematika dan setelah itu pada tahun 1617 Dia dikirim ke Jerman untuk dinas militer.</p>
<p style="text-align:justify;"><span id="more-454"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Dalam karir militernya Descartes tidak terlalu menonjol, dia lebih banyak memanfaatkan fasilitas militer untuk belajar kepada buku besar alam dan melancong keberbagai negara ketimbang terlibat pertempuran dalam peperangan.</p>
<p style="text-align:justify;">Sementara melancong, Descartes tetap membaca dan menulis pikiran-pikirannya sehingga dia bisa berkenalan dengan tokoh-tokoh pemikir lainnya. Didalam kematangan berpikirnya, Descartes juga tidak sepi dari orang-orang yang mengecam pemikirannya, bahkan kecaman yang terkeras datang dari almamaternya sendiri, yaitu para Yesuit yang pernah mengasuhnya di sekolah La Fleche. Ajarannya dianggap sesat karena telah menyimpang jauh dari ajaran agama katolik.</p>
<p style="text-align:justify;">Cogito Ergo Sum</p>
<p style="text-align:justify;">Satu hal yang membuat Descartes sangat terkenal adalah bagaimana dia menciptakan satu metode yang betul-betul baru didalam berfilsafat yang kemudian dia beri nama metode keraguan atau kalau dalam bahasa aslinya dikatakan sebagai Le Doubte Methodique. Berdasarkan metode ini, berfilsafat menurut Descartes adalah membuat pertanyaan metafisis untuk kemudian menemukan jawabannya dengan sebuah fundamen yang pasti, sebagaimana pastinya jawaban didalam matematika.</p>
<p style="text-align:justify;">Untuk menentukan titik kepastian tersebut Descartes memulainya dengan meragukan semua persoalan yang telah diketahuinya. Misalnya, dia mulai meragukan apakah asas-asas metafisik dan matematika yang diketahuinya selama ini bukan hanya sekedar ilusi belaka. Jangan-jangan apa yang diketahuinya selama ini hanyalah tipuan dari khayalan belaka, jika demikian adanya maka apakah yang bisa menjadi pegangan untuk menentukan titik kepastian?</p>
<p style="text-align:justify;">Menurut Descartes, setidak-tidaknya “aku yang meragukan” semua persoalan tersebut bukanlah hasil tipuan melainkan sebuah kepastian. Semakin kita dapat meragukan segala sesuatu maka semakin pastilah bahwa kita yang meragukan itu adalah ada dan bahkan semakin mengada (exist).</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan demikian tidak bisa dipungkiri lagi bahwa keraguan justru akan membuktikan keberadaan kita semakin nyata dan pasti. Semakin kita ragu maka kita akan semakin merasa pasti bahwa keraguan itu adalah ada, karena keraguan itu adanya pada diri kita maka sudah tentu kita sebagai tempat bercantolnya rasa ragu itu pasti sudah ada terlebih dahulu.</p>
<p style="text-align:justify;">Meragukan sesuatu adalah berpikir tentang sesuatu, dengan demikian bisa dikatakan bahwa kepastian akan eksistensi kita bisa dicapai dengan berpikir. Descartes kemudian mengatakan cogito ergo sum atau kalau dalam bahasa aslinya dikatakan Je pense donc je suis yang artinya adalah aku berpikir maka aku ada.</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan metode keraguan ini, Descartes ingin mengokohkan kepastian akan kebenaran, yaitu “cogito”  atau kesadaran diri. Cogito adalah sebuah kebenaran dan kepastian yang sudah tidak tergoyahkan lagi karena dipahami sebagai hal yang sudah jelas dan terpilah-pilah ( claire et distincte).</p>
<p style="text-align:justify;">Cogito tidak ditemukan didalam metode deduksi ataupun intuisi, melainkan ditemukan didalam pikiran itu sendiri, yaitu sesuatu yang dikenali melalui dirinya sendiri, tidak melalui Kitab Suci, pendapat orang lain, prasangka ataupun dongeng dan lain-lain yang sejenisnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Karena ini sifatnya hanyalah sebuah metode maka tidak berarti Descartes menjadi seorang skeptis, melainkan sebaliknya Descartes ingin menunjukkan kepastian akan kebenaran yang kokoh jelas dan terpilah melalui metode yang diperkenalkannya ini.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/parapemikir.wordpress.com/454/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/parapemikir.wordpress.com/454/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/parapemikir.wordpress.com/454/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/parapemikir.wordpress.com/454/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/parapemikir.wordpress.com/454/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/parapemikir.wordpress.com/454/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/parapemikir.wordpress.com/454/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/parapemikir.wordpress.com/454/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/parapemikir.wordpress.com/454/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/parapemikir.wordpress.com/454/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/parapemikir.wordpress.com/454/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/parapemikir.wordpress.com/454/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/parapemikir.wordpress.com/454/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/parapemikir.wordpress.com/454/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=parapemikir.wordpress.com&#038;blog=8959315&#038;post=454&#038;subd=parapemikir&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://parapemikir.wordpress.com/2009/07/23/rene-descartes/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/937a324ba87642b2af63ec361902dc3b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">aksesb01</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://parapemikir.com/wp-content/uploads/2009/07/descartes-150x150.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">descartes</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Filsafat dan tasawuf</title>
		<link>http://parapemikir.wordpress.com/2009/05/05/filsafat-dan-tasawuf/</link>
		<comments>http://parapemikir.wordpress.com/2009/05/05/filsafat-dan-tasawuf/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 05 May 2009 08:19:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aksesb01</dc:creator>
				<category><![CDATA[FILSAFAT]]></category>
		<category><![CDATA[filsafat dan irfan]]></category>
		<category><![CDATA[Filsafat dan tasawuf]]></category>
		<category><![CDATA[irfan dan filsafat]]></category>
		<category><![CDATA[irfan tasawuf]]></category>
		<category><![CDATA[tasawuf dan filsafat]]></category>
		<category><![CDATA[tasawuf irfan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://parapemikir.com/?p=238</guid>
		<description><![CDATA[Sekarang kita akan melihat secara umum, bagaimanakah sebenarnya hubungan antara filsafat dengan mistisisme, yang dalam konteks filsafat Islam disebut dengan tasawuf. Tasawuf dipahami sebagai mistisisme Islam -kadang disebut juga Sufisme- (karena dinisbatkan kepada ahli tasawwuf yang disebut sufi). Tasawuf dimasukkan oleh Ibn Khaldun ke dalam kelompok ilmu-ilmu naqliyyah (agama). Sebagai salah satu ilmu naqliyyah, maka [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=parapemikir.wordpress.com&#038;blog=8959315&#038;post=238&#038;subd=parapemikir&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Sekarang kita akan melihat secara umum, bagaimanakah sebenarnya hubungan antara <a href="http://parapemikir.com/filsafat-dan-sains">filsafat</a> dengan <a href="http://parapemikir.com/irfan">mistisisme</a>, yang dalam konteks <a href="http://parapemikir.com/filsafat-dan-sains">filsafat</a> Islam disebut dengan <a href="http://parapemikir.com/irfan">tasawuf</a>.</p>
<div id="attachment_239" class="wp-caption alignleft" style="width: 160px"><a href="http://parapemikir.com/filsafat-dan-tasawuf"><img class="size-thumbnail wp-image-239" title="filsafat-dan-tasawuf" src="http://parapemikir.com/wp-content/uploads/2009/05/filsafat-dan-tasawuf-150x150.jpg" alt="tasawuf dan filsafat" width="150" height="150" /></a><p class="wp-caption-text">tasawuf dan filsafat</p></div>
<p style="text-align:justify;">Tasawuf dipahami sebagai <a href="http://parapemikir.com/irfan">mistisisme</a> Islam -kadang disebut juga <em>Sufisme</em>- (karena dinisbatkan kepada ahli <a href="http://parapemikir.com/irfan">tasawwuf</a> yang disebut <a href="http://parapemikir.com/irfan">sufi</a>). <a href="http://parapemikir.com/irfan">Tasawuf</a> dimasukkan oleh Ibn Khaldun ke dalam kelompok <a href="http://parapemikir.com/ilmu">ilmu-ilmu</a> <em>naqliyyah</em> (agama). Sebagai salah satu <a href="http://parapemikir.com/ilmu">ilmu</a> <em>naqliyyah</em>, maka <a href="http://parapemikir.com/irfan">tasawuf</a>, didasarkan pada otoritas, yaitu Al-Qur&#8217;an dan Hadits, dan  bukan pada <a href="http://parapemikir.com/logika">nalar rasional</a> seperti <a href="http://parapemikir.com/filsafat-dan-sains">filsafat</a>.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://parapemikir.com/irfan">Tasawuf</a> dan <strong><a href="http://parapemikir.com/filsafat-dan-sains">Filsafat</a></strong> memang bisa kita bedakan, karena sementara yang pertama  bertumpu pada wahyu dan penafsiran esoterik (batini) sedangkan yang kedua bertumpu pada <a href="http://parapemikir.com/logika">akal.</a></p>
<p style="text-align:justify;">Meskipun begitu, tidak selalu berarti bahwa kedua disiplin ini bertentangan satu sama lainnya. Walapun untuk kebanyakan orang, <strong><a href="http://parapemikir.com/filsafat-dan-sains">filsafat</a></strong> akan terasa aneh karena mereka hanya menafsirkan agama secara harfiah atau eksoterik.<span id="more-238"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Menurut Ibn Rusyd, kalau terkesan bahwa <a href="http://parapemikir.com/filsafat-dan-sains">filsafat</a> seolah-olah bertentangan dengan <a href="http://parapemikir.com/agama-dan-filsafat">agama</a>, maka kita harus melakukan <em>ta&#8217;wil</em> kepada naskah-naskah <a href="http://parapemikir.com/agama-dan-filsafat">agama</a>. Alasannya adalah karena naskah-naskah <a href="http://parapemikir.com/agama-dan-filsafat">agama</a> bersifat simbolis dan kadang memiliki banyak makna.</p>
<p style="text-align:justify;">Dari sudut boleh tidaknya penafsiran eksoterik atau ta&#8217;wil, maka <a href="http://parapemikir.com/filsafat-dan-sains">filsafat</a> dan <a href="http://parapemikir.com/irfan">tasawuf</a>, seiya-sekata. Tetapi dilihat dari <a href="http://parapemikir.com/mengenal-metode-pemikiran-islam">metode penelitiannya</a> maka keduanya berbeda.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://parapemikir.com/filsafat-dan-sains">Filsafat</a> memanfaatkan dimensi <a href="http://parapemikir.com/logika">rasional</a> <a href="http://parapemikir.com/pengetahuan">pengetahuan</a>, sementara <a href="http://parapemikir.com/irfan">tasawuf</a> dimensi <a href="http://parapemikir.com/irfan">spiritual</a>. Namun, karena keduanya (dimensi rasional dan spiritual) adalah dimensi sejati dari kebenaran sejati yang sama, maka keduanya berpotensi untuk saling melengkapi.</p>
<p style="text-align:justify;">Menurut Al-Farabi dan Ibn Sina, sumber <a href="http://parapemikir.com/pengetahuan">pengetahuan</a> para <a href="http://parapemikir.com/filsafat-dan-sains">filosof</a> dan para nabi (termasuk para sufi), adalah sama dan satu, yaitu akal aktif <em>(al-&#8217;aql al-fa&#8217;al)</em>, atau malaikat Jibril dalam istilah agamanya. Hanya saja sementara para filosof mencapai pengetahuan darinya (akal aktif) melalui <a href="http://parapemikir.com/logika">penalaran</a> akal-beserta latihan yang intensif, sementara para Nabi (sufi) memperolehnya secara langsung tanpa perantara.</p>
<p style="text-align:justify;">Sementara itu, untuk memperoleh pengetahuan para filosof menggunakan penalaran diskursif, para Nabi (sufi) menangkapnya lewat daya mimitik imajinasi (menurut Al-Farabi) atau akal suci atau intuisi (menurut Ibn Sina).</p>
<p style="text-align:justify;">Sehingga bisa kita saksikan bahwa, bahasa <a href="http://parapemikir.com/filsafat-dan-sains">filsafat</a> bersifat <a href="http://parapemikir.com/logika">rasional</a>, sementara bahasa profetik/mistik bersifat simbolis dan mistis. Namun menurut kedua filosof muslim tersebut, baik <a href="http://parapemikir.com/filsafat-dan-sains">filsafat</a> maupun <a href="http://parapemikir.com/irfan">tasawuf</a> berbicara tentang kebenaran yang sama. Hanya saja mereka menggunakan cara dan bahasa yang berbeda.</p>
<p style="text-align:justify;">Perbedaan yang mencolok antara modus pengenalan <a href="http://parapemikir.com/logika">rasional</a> dan pengenalan <a href="http://parapemikir.com/irfan">intuitif</a> atau <a href="http://parapemikir.com/irfan">mistik</a> adalah, bahwa pengetahuan akal membutuhkan &#8220;perantara&#8221;, berupa konsep atau representasi-semisal kata-kata atau simbol-untuk mengetahui objek yang ditelitinya. Dan mungkin karena itu, maka modus pengenalan <a href="http://parapemikir.com/logika">rasional</a> (falsafi) disebut <a href="http://parapemikir.com/ilmu">ilmu</a> <em>hushuli (acquired knowledge)</em>.</p>
<p style="text-align:justify;">Untuk mengetahui pikiran seorang misalnya, kita harus mempelajari pikiran-pikirannya dengan membaca tulisan-tulisan atau mendengarkan ceramah-ceramahnya. Berbeda, tentunya, dengan orang itu sendiri, ketika ia ingin memahami pemikiran-pemikirannya sendiri, ia tidak perlu atau tergantung pada kata-katanya, karena orang itu dapat memahaminya dengan begitu saja, tanpa representasi apapun.</p>
<p style="text-align:justify;">Oleh karena sifatnya yang tidak langsung itulah, maka <a href="http://parapemikir.com/pengetahuan">pengetahuan</a> <a href="http://parapemikir.com/logika">rasional</a> tidak bisa betul-betul menangkap objeknya secara langsung. Modus pengetahuan seperti itu, menurut Rumi, akan sama dengan orang yang berusaha memetik setangkai bunga mawar dari &#8220;M.A.W.A.R.&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">Anda, kata Rumi, &#8220;tidak akan mampu memetik mawar dari M.A.W.A.R., karena anda baru menyebut namanya. Cari yang empunya nama!&#8221;.</p>
<p style="text-align:justify;">Berbeda dengan modus pengenalan <a href="http://parapemikir.com/logika">rasional</a>, pengenalan intuitif atau <a href="http://parapemikir.com/irfan">mistik</a> (seperti yang dialami oleh para Sufi atau nabi) bersifat langsung, dalam arti tidak butuh pada simbol atau representasi  apapun. Ia tidak butuh pada bacaan, huruf atau bahkan konsep dan sebangsanya.</p>
<p style="text-align:justify;">Contoh yang mudah dari pengenalan seperti ini adalah, misalnya, <a href="http://parapemikir.com/pengetahuan">pengetahuan</a> kita tentang diri kita sendiri, atau yang biasa disebut <em>self-knowledge.</em> Untuk mengetahui diri kita sendiri, apakah kita perlu perantara, seperti halnya ketika kita hendak mengerti orang lain? Tentu saja tidak.</p>
<p style="text-align:justify;">Kita tahu tentang diri kita-dengan begitu saja, karena keinginan kita dengan diri kita adalah satu dan sama. Pikiran kita misalnya, bahkan bisa dikatakan telah menyatu dengan diri kita. Ia hadir dan dan tidak bisa dipisahkan lagi dari diri kita. Itulah sebabnya, mengapa modus pengenalan ini disebut <a href="http://parapemikir.com/ilmu">ilmu</a> <em>hudhuri</em> (<em>knowledge by presence / presential knowledge</em>).</p>
<p style="text-align:justify;">Karena objek yang diteliti (misalnya pikiran atau keinginan) telah hadir dalam diri kita, bahkan telah menyatu dalam diri kita, maka terjadi kesatuan (identitas) antara subjek dan objek, antara yang berpikir dengan yang dipikirkan, antara alim dan maklum. Akibatnya, maka <a href="http://parapemikir.com/pengetahuan">pengetahuan</a> kita tentang objek tersebut (yang tidak lain dari pada diri kita sendiri) adalah sama dan satu. Di sini kita mengalami bahwa &#8220;mengetahui&#8221; (to know) adalah sama dengan &#8220;ada&#8221; itu sendiri (to be).</p>
<p style="text-align:justify;">Meskipun <a href="http://parapemikir.com/irfan">tasawuf</a> dikategorikan oleh Ibn Khaldun sebagai <a href="http://parapemikir.com/ilmu">ilmu</a> <em>naqliyyah </em>(agama) dan karena itu berdasarkan pada otoritas, namun menurut kesaksian  Ibn Khaldun sendiri dalam Al Muqaddimah-nya, <a href="http://parapemikir.com/irfan">Tasawuf,</a> pada perkembangan berikutnya, telah banyak memasuki dunia <a href="http://parapemikir.com/filsafat-dan-sains">filsafat</a> , sehingga sulit bagi keduanya untuk dipisahkan.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam kasus <a href="http://parapemikir.com/filsafat-dan-sains">filsafat</a> suhrawardi, misalnya, kita bisa melihat bahwa <a href="http://parapemikir.com/irfan">tasawuf</a> bahkan telah dijadikan dasar bagi <a href="http://parapemikir.com/filsafat-dan-sains">filsafatnya</a>, sehingga orang menyebutnya filosof mistik <em>(muta&#8217;allih)</em>. Sementara pada diri Ibn &#8220;Arabi, kita melihat analisis yang sangat filosofis merasuki hampir setiap lembar karya-karyanya. Sehingga tasawufnya sering disebut tasawuf falsafasi. Pada masa berikutnya, kita tahu bahwa Mulla Shadra, pada akhirnya telah dapat mensintesiskan keduanya, dalam apa yang kita sebut filsafat Hikmah Muta&#8217;aliyyah, atau teosofi transenden. Disini, unsur-unsur filosofis dan mistik berpadu erat dan saling melengkapi satu sama lain.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/parapemikir.wordpress.com/238/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/parapemikir.wordpress.com/238/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/parapemikir.wordpress.com/238/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/parapemikir.wordpress.com/238/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/parapemikir.wordpress.com/238/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/parapemikir.wordpress.com/238/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/parapemikir.wordpress.com/238/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/parapemikir.wordpress.com/238/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/parapemikir.wordpress.com/238/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/parapemikir.wordpress.com/238/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/parapemikir.wordpress.com/238/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/parapemikir.wordpress.com/238/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/parapemikir.wordpress.com/238/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/parapemikir.wordpress.com/238/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=parapemikir.wordpress.com&#038;blog=8959315&#038;post=238&#038;subd=parapemikir&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://parapemikir.wordpress.com/2009/05/05/filsafat-dan-tasawuf/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/937a324ba87642b2af63ec361902dc3b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">aksesb01</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://parapemikir.com/wp-content/uploads/2009/05/filsafat-dan-tasawuf-150x150.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">filsafat-dan-tasawuf</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sebab</title>
		<link>http://parapemikir.wordpress.com/2009/05/04/sebab/</link>
		<comments>http://parapemikir.wordpress.com/2009/05/04/sebab/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 04 May 2009 01:51:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aksesb01</dc:creator>
				<category><![CDATA[FILSAFAT]]></category>
		<category><![CDATA[Akibat]]></category>
		<category><![CDATA[Sebab]]></category>
		<category><![CDATA[Sebab Akibat]]></category>
		<category><![CDATA[Sebab atau Akibat]]></category>
		<category><![CDATA[Sebab dan Akibat]]></category>
		<category><![CDATA[Sebab dan Akibatnya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://parapemikir.com/?p=216</guid>
		<description><![CDATA[Hukum sebab akibat, demikian bunyi kalimat yang sering kita jumpai disekitar kita. Apakah yang dibicarakan orang-orang disekitar hukum sebab akibat ini? Pembicaraan tentang hukum sebab akibat ini walaupun dibolak balik rumus dan teorinya tetapi dalam satu hal haruslah selalu sama yaitu suatu sebab tertentu  haruslah menghasilkan akibat tertentu pula sesuai dengan ciri khusus penyebabnya. Atau [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=parapemikir.wordpress.com&#038;blog=8959315&#038;post=216&#038;subd=parapemikir&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Hukum sebab akibat, demikian bunyi kalimat yang sering kita jumpai disekitar kita. Apakah yang dibicarakan orang-orang disekitar hukum sebab akibat ini?</p>
<div id="attachment_217" class="wp-caption alignleft" style="width: 160px"><a href="http://parapemikir.com/sebab"><img class="size-thumbnail wp-image-217" title="akibat" src="http://parapemikir.com/wp-content/uploads/2009/05/akibat-150x150.jpg" alt="sebab" width="150" height="150" /></a><p class="wp-caption-text">sebab</p></div>
<p style="text-align:justify;">Pembicaraan tentang hukum sebab akibat ini walaupun dibolak balik rumus dan teorinya tetapi dalam satu hal haruslah selalu sama yaitu suatu sebab tertentu  haruslah menghasilkan akibat tertentu pula sesuai dengan ciri khusus penyebabnya. Atau bisa juga dikatakan bahwa suatu akibat tertentu haruslah bersumber dari sebab tertentu pula dan bukan berasal dari suatu sebab yang tidak ada sangkut paut dan kesesuaian sama sekali.</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan kata lain, Antara berbagai keberadaan (<a href="http://parapemikir.com/eksistensi">eksistensi</a>) dialam raya ini, terdapat hubungan satu sama (hubungan korespondensi). Dengan begitu maka &#8216;setiap sesuatu&#8217; <a href="http://parapemikir.com/logika">tidak mungkin</a> memunculkan &#8216;apa saja!&#8217; , dan juga &#8216;setiap sesuatu &#8216; <a href="http://parapemikir.com/logika">tidak mungkin</a> BERASAL DARI &#8216;apa saja&#8217; , Sesuatu itu haruslah muncul dari sesuatu yang mempunyai hubungan korespondensi.</p>
<p style="text-align:justify;">Kita lihat&#8230; <span id="more-216"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Belajar adalah ‘suatu’ SEBAB untuk menjadi pandai..<br />
Minum adalah SEBAB bagi hilangnya rasa haus…<br />
Makan adalah SEBAB bagi hilangnya rasa lapar…</p>
<p style="text-align:justify;">Contoh diatas adalah contoh hubungan korespondensi antara suatu sebab dengan akibat yang dihasilkannya, dan untuk mengetahui akibat-akibat tersebut kita harus terlebih dahulu meneliti sebab-sebab khususnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Kita harus teliti, apakah makan bisa menyebabkan pintar?<br />
Kita harus teliti, apakah minum bisa menyebabkan bodoh?<br />
Kita harus teliti, apakah belajar bisa menyebabkan kenyang?</p>
<p style="text-align:justify;">Tentu saja kita tidak pernah mendengar dan beranggapan demikian karena kita tidak pernah melihat hubungan antara sebab dan akibat yang serupa itu akan menghasilkan suatu korespondensi khusus.</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan contoh sederhana tersebut, kita bisa melihat bahwa dalam perkara memetakan hubungan korespondesi itu, kita dituntut harus menggunakan <a href="http://parapemikir.com/logika">aturan berpikir yang benar</a> sebagai tumpuan untuk meneliti sebab-sebab khusus dari suatu perkara, sehingga dibenak kita tidak akan terjadi <a href="http://parapemikir.com/logika">kekeliruan</a> atau <a href="http://parapemikir.com/logika">kekacauan berpikir</a> seperti beranggapan bahwa segala sesuatu di alam semesta ini terdiri dari sekumpulan kejadian yang tidak teratur dan terjadi &#8216;semaunya&#8217; tanpa ada hubungan satu sama lain secara korenpondensi.</p>
<p style="text-align:justify;">Alam ini memiliki suatu sistem yang tersusun rapi yang masing-masing partikularianya mempunyai hubungan ke khususan satu sama lain. Tidak ada satu partikulariapun yang menempati partikularia yang lain yang tidak mempunyai hubungan khusus.</p>
<p style="text-align:justify;">Sekarang kita bertanya, apa sih yang dimaksud dengan sebab-sebab khusus itu? Menjawab pertanyaan semacam ini sebenarnya tidak bisa langsung spontan dengan mengemukakan definisi dan ciri kekhususan dari aneka sebab-sebab itu. Hal ini karena ditemukan fakta bahwa terdapat berbagai jawaban yang &#8216;menantang&#8217; dalam <a href="http://parapemikir.com/ilmu">ilmu</a> pengetahuan modern. Misalnya, <a href="http://parapemikir.com/ilmu">ilmu</a> fisika, kimia, sosial, demokrasi, budaya dan lain-lain itu akan menjawab kekhususan suatu hubungan itu dengan pendekatan &#8216;terdekat&#8217; dari bidang kajian masing-masing. Namun demikian apakah kita kemudian tidak mempunyai patokan atau acuan apapun dalam perkara meneliti sebab khusus itu?</p>
<p style="text-align:justify;">Tentu saja kita punya, dan sebagai acuan terbanyak para ilmuwan masih mengacu kepada &#8216;ilmu lama&#8217; dari <a href="http://parapemikir.com/filsafat">Aristoteles</a> yang membuat acuan dasar dalam meneliti kekhususan sebab, yakni :</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">1. SEBAB EFEKTIF</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">2. SEBAB FORMAL</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">3. SEBAB MATERIAL</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">4. SEBAB FINAL</span></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Sekarang kita akan lihat tentang  acuan yang dipakai oleh para ilmuwan sekarang ini berdasarkan  &#8216;ilmu lama&#8217; yang ditulis oleh <a href="http://parapemikir.com/filsafat">Aristoteles</a> tersebut. <a href="http://parapemikir.com/filsafat">Aristoteles</a> jauh-jauh hari memang sudah mengatakan walaupun dalam perkembangannya nanti akan ditemukan aneka &#8216;<a href="http://parapemikir.com/pengetahuan">pengetahuan baru</a>&#8216;  maka <a href="http://parapemikir.com/pengetahuan">pengetahuan</a> baru tersebut pada dasarnya pastilah memiliki  keempat sebab kekhususan tersebut.</p>
<p style="text-align:justify;">Kita lihat&#8230;</p>
<p style="text-align:justify;">Misalnya kita akan membangun sebuah rumah, kita bisa teliti satu persatu sebab-sebab khusus bagi terciptanya sebuah rumah .</p>
<p style="text-align:justify;">Kita mulai dari Tukang Bangunan , Tukang bangunan bagi terciptanya suatu rumah adalah SEBAB EFEKTIF, Dengan adanya tukang bangunan maka menciptakan suatu rumah akan menjadi mungkin dan efektif.</p>
<p style="text-align:justify;">Yang kedua, adalah SEBAB FORMAL, yaitu bagaimana kita harus membuat rumah yang baik, disain yang benar, izin bangunan yang legal dan lain-lain sebagainya sebagai syarat khusus untuk terbentuk rumah yang ideal dan sekaligus legal.</p>
<p style="text-align:justify;">Yang ketiga adalah SEBAB MATERIAL, bahan bangunan, semen, pasir, batu, besi , keramik, genteng, air dan lain-lain adalah SEBAB Material yang memungkinkan Tukang Bangunan untuk menciptakan rumah.</p>
<p style="text-align:justify;">Kemudian yang terakhir, Keinginan kita untuk tinggal dirumah tersebut. Keinginan dan kemampuan kita untuk membeli bahan material, tanah dan alat-alat yang terkait dengan bangunan rumah tersebut disebut sebagai SEBAB FINAL.</p>
<p style="text-align:justify;">Perumpamaan membangun rumah tersebut, apakah demikian juga urutan sebab-sebab khususnya bagi seseorang yang menelaah <a href="http://parapemikir.com/filsafat-dan-sains">science</a>, <a href="http://parapemikir.com/agama-dan-filsafat">agama</a>, dan <a href="http://parapemikir.com/ilmu">ilmu-ilmu</a> sosial lainnya? Apa kata orang -orang fisika misalnya?</p>
<p style="text-align:justify;">Bagi fisikawan, tidak ada yang lain kecuali urusannya gerak menggerak , bagi fisikawan yang disebut dengan sebab khusus adalah PENGGERAK dan yang disebut dengan akibat khusus adalah yang BERGERAK.</p>
<p style="text-align:justify;">Untuk contoh diatas, Tukang Bangunan bagi fisikawan adalah SEBAB, karena Tukang Bangunanlah yang membongkar dan memasang aneka bahan bangunan di posisi-posisi yang tepat untuk terciptanya sebuah bangunan.</p>
<p style="text-align:justify;">Dan jangan kaget kalau nanti diprotes oleh ahli teologi yang mengatakan bahwa Tukang Bangunan tidaklah pantas disebut sebagai SEBAB karena mereka itu tidak lebih hanya menyusun barang-barang material yang sudah ada betebaran dimana-mana.</p>
<p style="text-align:justify;">Begitu juga kalau kita ambil contoh yang lain, misalnya hubungan ayah dan ibu yang menghasilkan anak. Bagi fisikawan hal semacam ini adalah hal yang jelas dan terang benderang, bahwa mak dan bapak itu adalah SEBAB khusus akan terciptanya anak. Dan protes yang serupa juga datang dari ahli teologis, bahwa mak dan bapak si anak itu tidaklah pantas dikatakan sebagai SEBAB, karena kapasitas mereka berdua itu tidaklah lebih dari sekedar fasilitator saja.  </p>
<p style="text-align:justify;">Nah lho, baru sedikit kita melihat kedalam tentang apa yang dibicarakan diseputar sebab akibat ini sudah kita temukan &#8216;obrolan yang hangat&#8217; antara 2 kubu , ini yang bicara baru 2 kubu lho, bagaimana kalau 200 kubu?</p>
<p style="text-align:justify;">Dan khabar baiknya adalah, walaupun yang bicara 200 kubu atau lebih, satuhal yang sudah disepakati oleh hampir semua kubu adalah bahwa alam semesta ini tidak tersusun secara acak-acakan, tidak tersusun secara kacau balau, melainkan tersusun dan tertata rapi&#8230;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/parapemikir.wordpress.com/216/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/parapemikir.wordpress.com/216/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/parapemikir.wordpress.com/216/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/parapemikir.wordpress.com/216/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/parapemikir.wordpress.com/216/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/parapemikir.wordpress.com/216/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/parapemikir.wordpress.com/216/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/parapemikir.wordpress.com/216/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/parapemikir.wordpress.com/216/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/parapemikir.wordpress.com/216/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/parapemikir.wordpress.com/216/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/parapemikir.wordpress.com/216/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/parapemikir.wordpress.com/216/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/parapemikir.wordpress.com/216/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=parapemikir.wordpress.com&#038;blog=8959315&#038;post=216&#038;subd=parapemikir&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://parapemikir.wordpress.com/2009/05/04/sebab/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/937a324ba87642b2af63ec361902dc3b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">aksesb01</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://parapemikir.com/wp-content/uploads/2009/05/akibat-150x150.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">akibat</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Agama dan filsafat</title>
		<link>http://parapemikir.wordpress.com/2009/05/02/agama-dan-filsafat/</link>
		<comments>http://parapemikir.wordpress.com/2009/05/02/agama-dan-filsafat/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 02 May 2009 23:02:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aksesb01</dc:creator>
				<category><![CDATA[FILSAFAT]]></category>
		<category><![CDATA[agama]]></category>
		<category><![CDATA[agama atau filsafat]]></category>
		<category><![CDATA[agama dan filsafat]]></category>
		<category><![CDATA[filsafat agama]]></category>
		<category><![CDATA[filsafat dan agama]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://parapemikir.com/?p=211</guid>
		<description><![CDATA[Sebagaimana yang telah kita ketahui bersama, bahwa telah terjadi hujatan dan penentangan yang begitu keras dan sekaligus membabi buta dari beberapa kalangan mengenai kehadiran filsafat ke dalam kajian/wilayah agama. Mereka mengatakan filsafat sangat bertentangan dengan ajaran agama, khususnya agama Islam. Apakah betul bahwa filsafat sangat bertentangan dengan agama? Mengutip apa yang dikatakan oleh Al-Kindi, bahwa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=parapemikir.wordpress.com&#038;blog=8959315&#038;post=211&#038;subd=parapemikir&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Sebagaimana yang telah kita ketahui bersama, bahwa telah terjadi hujatan dan penentangan yang begitu keras dan sekaligus membabi buta dari beberapa kalangan mengenai kehadiran <a href="http://parapemikir.com/filsafat">filsafat</a> ke dalam kajian/wilayah agama. Mereka mengatakan <a href="http://parapemikir.com/filsafat">filsafat</a> sangat bertentangan dengan ajaran agama, khususnya agama Islam.</p>
<div id="attachment_212" class="wp-caption alignleft" style="width: 160px"><a href="http://parapemikir.com/agama-dan-filsafat"><img class="size-thumbnail wp-image-212" title="agama-dan-filsafat" src="http://parapemikir.com/wp-content/uploads/2009/05/agama-dan-filsafat-150x150.jpg" alt="filsafat dan agama" width="150" height="150" /></a><p class="wp-caption-text">filsafat dan agama</p></div>
<p style="text-align:justify;">Apakah betul bahwa <a href="http://parapemikir.com/filsafat">filsafat</a> sangat bertentangan dengan agama?</p>
<p style="text-align:justify;">Mengutip apa yang dikatakan oleh Al-Kindi, bahwa <a href="http://parapemikir.com/filsafat">filsafat</a> dan agama sesungguhnya adalah sama-sama berbicara dan mencari kebenaran, dan karena <a href="http://parapemikir.com/ilmu">pengetahuan</a> tentang kebenaran itu meliputi juga <a href="http://parapemikir.com/ilmu">pengetahuan</a> tentang Tuhan, tentang keesaan-Nya, tentang apa yang baik dan berguna, maka barang siapa saja yang menolak untuk mencari kebenaran dengan alasan bahwa pencarian seperti itu adalah kafir, maka sesungguhnya yang mengatakan kafir tersebutlah yang sebenarnya kafir.</p>
<p style="text-align:justify;">Diantara filsuf muslim yang paling peduli untuk menjawab perihal hubungan <a href="http://parapemikir.com/filsafat">filsafat</a> dengan agama ini adalah Ibn Rusyd. Ibn Rusyd bahkan menulis sebuah karya khusus untuk menjelaskan<span id="more-211"></span> bagaimana sesungguhnya dan seharusnya hubungan antara <a href="http://parapemikir.com/filsafat">filsafat</a> dan agama. Menurut Ibn Rusyd, antara <a href="http://parapemikir.com/filsafat">filsafat</a> dan agama sesungguhnya tidak ada pertentangan. Agama alih-alih melarang, bahkan justru mewajibkan pemeluknya untuk belajar <a href="http://parapemikir.com/filsafat">filsafat.</a></p>
<p style="text-align:justify;">Jika <a href="http://parapemikir.com/filsafat">filsafat</a> mempelajari secara kritis tentang segala wujud yang ada dan merenungkannya sebagai petunjuk &#8216;dalil&#8217; adanya sang pencipta dari satu sisi dan syari&#8217;ah pada sisi yang lain telah memerintahkan untuk merenungkan segala wujud yang ada, maka sesungguhnya antara apa yang dikaji oleh <a href="http://parapemikir.com/filsafat">filsafat</a> dan apa yang dianjurkan oleh syari&#8217;ah telah saling bertemu. Dengan kata lain bisa dikatakan bahwa mempelajari <a href="http://parapemikir.com/filsafat">filsafat</a> sesungguhnya telah diwajibkan oleh syari&#8217;ah.</p>
<p style="text-align:justify;">Penekanan al&#8217;quran didalam surat 59 ayat 2 yang berbunyi : <strong>&#8220;Fa&#8217;tabiru ya uli al abshar&#8221;</strong> (<em>Renungkanlah olehmu, wahai orang-orang yang mempunyai pandangan (visi))</em> sesungguhya lebih kepada penekanan pentingnya untuk  menggunakan akal, atau gabungan antara penalaran intelektual (filsafat) dan penalaran hukum (syari&#8217;at).</p>
<p style="text-align:justify;">Demikian juga surat 185 ayat 7 yang mengatakan :</p>
<p style="text-align:justify;"><em>&#8220;Dan apakah mereka tidak memperhatikan kerajaan langit dan bumi dan segala sesuatu yang diciptakan Allah&#8221;</em></p>
<p style="text-align:justify;">Juga adalah ayat yang menganjurkan supaya manusia menggunakan <a href="http://parapemikir.com/logika">akal</a> dan penalarannya untuk mempelajari totalitas wujud. Dengan demikian maka sesungguhnya syari&#8217;at telah mewajibkan kepada kita untuk menggali pengetahuan tentang alam semesta ini dengan penalaran. Namun demikian, untuk bisa melakukan penalaran yang benar maka disyaratkan seseorang itu harus mengetahui terlebih dahulu beberapa metode atau cara berpikiran yang <a href="http://parapemikir.com/logika">logis</a> dengan mempelajari <a href="http://parapemikir.com/logika">ilmu logika</a> supaya bisa melakukan pembuktian yang demonstratif.</p>
<p style="text-align:justify;">Ibn Rusyd kemudian membandingkan kewajiban mempelajari <a href="http://parapemikir.com/logika">ilmu logika</a> sebagai <a href="http://parapemikir.com/epistemologi">alat</a> untuk <a href="http://parapemikir.com/filsafat">berfilsafat</a> dengan kewajiban yang ditetapkan oleh para <em>fuqaha</em> untuk mempelajari katagori-kategori hukum yang termuat dalam <em>ushul al-fiqh.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Ibn Rusyd menyatakan jika para <em>fuqaha</em> menyimpulkan kewajiban untuk memperoleh pengetahuan tentang penalaran hukum dari ayat <strong><em>&#8220;fa&#8217;tabiru ya uli al abshar&#8221;</em></strong>, maka alangkah lebih pantas jika ayat tersebut dijadikan sebagai dalil wajibnya untuk mempelajari pengetahuan rasional <em>(rasional reasoning)</em> bagi mereka yang ingin mengetahui Tuhan dan ciptaan-Nya.</p>
<p style="text-align:justify;">Bagi mereka yang tetap ngotot mengatakan bahwa belajar <a href="http://parapemikir.com/filsafat">filsafat</a> tersebut adalah <em>bid&#8217;ah</em>, Ibn Rusyd mengatakan, &#8220;anggaplah <a href="http://parapemikir.com/filsafat">filsafat</a> itu <em>bid&#8217;ah</em> karena tidak terdapat dikalangan orang-orang Islam pertama <em>(salaf)</em>. Tetapi apakah hal serupa tidak berlaku juga bagi studi penalaran hukum <em>(ushul al-fiqh)</em> yang tercipta juga setelah periode salaf.</p>
<p style="text-align:justify;">Bagaimana mungkin jika yang satu dikatakan tidak <em>bid&#8217;ah</em> tetapi yang lainnya dikatakan <em>bid&#8217;ah</em> padahal keduanya membicarakan penalaran  hukum dan penalaran rasional yang sama-sama diciptakan setelah periode salaf.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/parapemikir.wordpress.com/211/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/parapemikir.wordpress.com/211/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/parapemikir.wordpress.com/211/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/parapemikir.wordpress.com/211/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/parapemikir.wordpress.com/211/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/parapemikir.wordpress.com/211/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/parapemikir.wordpress.com/211/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/parapemikir.wordpress.com/211/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/parapemikir.wordpress.com/211/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/parapemikir.wordpress.com/211/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/parapemikir.wordpress.com/211/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/parapemikir.wordpress.com/211/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/parapemikir.wordpress.com/211/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/parapemikir.wordpress.com/211/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=parapemikir.wordpress.com&#038;blog=8959315&#038;post=211&#038;subd=parapemikir&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://parapemikir.wordpress.com/2009/05/02/agama-dan-filsafat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/937a324ba87642b2af63ec361902dc3b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">aksesb01</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://parapemikir.com/wp-content/uploads/2009/05/agama-dan-filsafat-150x150.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">agama-dan-filsafat</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Lama dan Baru</title>
		<link>http://parapemikir.wordpress.com/2009/05/02/lama-dan-baru/</link>
		<comments>http://parapemikir.wordpress.com/2009/05/02/lama-dan-baru/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 02 May 2009 01:49:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aksesb01</dc:creator>
				<category><![CDATA[FILSAFAT]]></category>
		<category><![CDATA[baru]]></category>
		<category><![CDATA[baru atau lama]]></category>
		<category><![CDATA[baru dan lama]]></category>
		<category><![CDATA[lama]]></category>
		<category><![CDATA[lama atau baru]]></category>
		<category><![CDATA[Lama dan baru]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://parapemikir.com/?p=205</guid>
		<description><![CDATA[Apakah manusia adalah sesuatu yang baru? Apakah bumi ini adalah sesuatu yang baru? Apakah kehidupan adalah sesuatu yang baru? Atau apakah kesemua-annya itu adalah barang lama? Atau &#8216;stok lama&#8217; barang baru?  Sederet pertanyaan serupa diatas sering membikin para cerdik pandai dan tokoh ulama &#8216;tengkar&#8217; dan saling menghujat karena sering diakhir cerita kedua kelompok saling &#8216;mempertahankan&#8217; [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=parapemikir.wordpress.com&#038;blog=8959315&#038;post=205&#038;subd=parapemikir&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Apakah manusia adalah sesuatu yang baru? Apakah bumi ini adalah sesuatu yang baru? Apakah kehidupan adalah sesuatu yang baru? Atau apakah kesemua-annya itu adalah barang lama? Atau &#8216;stok lama&#8217; barang baru? </p>
<div id="attachment_206" class="wp-caption alignleft" style="width: 160px"><a href="http://parapemikir.com/lama-dan-baru"><img class="size-thumbnail wp-image-206" title="lama-dan-baru" src="http://parapemikir.com/wp-content/uploads/2009/05/lama-dan-baru-150x150.jpg" alt="Manusia Baru?" width="150" height="150" /></a><p class="wp-caption-text">Manusia Baru?</p></div>
<p style="text-align:justify;">Sederet <a href="http://parapemikir.com/eksistensi-dan-esensi">pertanyaan</a> serupa diatas sering membikin para <a href="http://parapemikir.com/filsafat">cerdik pandai</a> dan tokoh ulama &#8216;tengkar&#8217; dan <a href="http://parapemikir.com/mutazilah">saling menghujat</a> karena sering diakhir cerita kedua kelompok saling &#8216;mempertahankan&#8217; Tuhan dengan kesungguhannya dalam pemahaman masing-masing.</p>
<p style="text-align:justify;">Perkara ini beda dengan &#8216;sindiran&#8217; Gus Dur yang  mengatakan &#8216;Tuhan kok dibela-bela, Tuhan tidak membutuhkan pembelaan dari makhluknya&#8217; .</p>
<p style="text-align:justify;">Dimana bedanya?</p>
<p style="text-align:justify;">Sindiran Gus Dur itu ditujukan kepada orang-orang yang hobbinya ribut/tengkar ketimbang mencari solusi, dan perseteruan di kalangan <a href="http://parapemikir.com/filsafat">cerdik pandai (filsuf)</a> dengan tokoh <a href="http://parapemikir.com/irfan">ulama</a> (teologis) ditujukan kepada kebenaran akan fakta yang dibuktikan dengan <a href="http://parapemikir.com/logika">argumen rasional.</a><span id="more-205"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Kita lihat apa yang dikatakan oleh para ulama <em>(Mutakallimin)</em> tentang <a href="http://parapemikir.com/eksistensi">alam di sekeliling kita</a>. Menurut para ulama besar tempoe doeloe bahwa segala sesuatu yang ada di <a href="http://parapemikir.com/eksistensi">alam semesta</a> ini adalah barang baru, termasuk manusia, bumi, planet, bintang , peyek, bakwan, ikan, setan, malaikat dan lain-lain. Semua hal mulai dari yang receh sampai dengan yang terbesar seperti <a href="http://parapemikir.com/eksistensi">langit dan bumi</a> beserta isinya adalah sesuatu yang baru&#8230;</p>
<p style="text-align:justify;">Pendapat ini disodorkan sebagai argumen <a href="http://parapemikir.com/logika">rasional</a> dengan memberikan contoh-contoh yang paling sederhana sampai kepada contoh yang kompleks. Contoh sederhana misalnya, manusia.</p>
<p style="text-align:justify;">Manusia adalah barang baru karena dulu sebelum bermilyar-milyar tahun yang lalu manusia tidak/belum ada. Dari tidak ada menjadi ada disebut sebagai sesuatu yang baru. Mobil adalah sesuatu yang baru, karena pada jaman romawi belum ada mobil. Adanya mobil saat ini berasal dari tidak ada sebelumnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Setan, Jin, Malaikat, Strum listrik, Nuklir, gelombang infra merah, Sinar X, juga adalah barang baru. Alasannya sama&#8230;duuuluuuu bertriliun-triliun tahun sebelum ada langit dan bumi &#8216;benda-benda&#8217; inipun belum ada. Karena mereka ada dari sesuatu yang tadinya tidak ada, maka benda-benda tersebut adalah benda baru.</p>
<p style="text-align:justify;">Pertanyaannya sekarang, kalau semua &#8216;benda-benda&#8217; itu baru, baik yang phisik, metaphisik, prophisik dan yang imateri apakah ada gerangan yang tidak baru?</p>
<p style="text-align:justify;">Tentu ada, menurut para ulama besar (Mutakallimin) yang bukan barang baru adalah Tuhan semata. Tuhan bukanlah barang baru karena kalau dirunut sampai kemanapun, ber milyar-milyar triliun tahun sekalipun&#8230;, Tuhan sudah ada dan tidak pernah berawal. Jadi bagi <a href="http://parapemikir.com/kemungkinan-epistemologi">Imam Ghozali</a> misalnya, <em>(tokoh mutakallimin)</em> kafirlah mereka yang mengatakan bahwa ada &#8216;barang&#8217; lain yang ada sejak jaman sebelum penciptaan.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://parapemikir.com/logika">Argumen</a> kelompok ulama ini mengatakan, kalau ada sesuatu yang &#8216;ada&#8217; dan tidak pernah tidak ada selain Tuhan, maka sesuatu itu pasti tidak membutuhkan pada satu penciptaan, atau penyebab keterciptaannya.</p>
<p style="text-align:justify;">Ini tidak mungkin karena kalau demikian adanya maka &#8216;sesuatu&#8217; itu sudah menyamai Tuhan. Dan Tuhan adalah keberadaan yang niscaya secara <a href="http://parapemikir.com/eksistensi-dan-esensi">esensi</a>. Dalam berbagai <a href="http://parapemikir.com/logika">argumen</a> pembuktian, jelas menunjukkan hasil akhir bahwa sesuatu yang keberadaannya niscaya secara <a href="http://parapemikir.com/eksistensi-dan-esensi">esensial</a> adalah TUNGGAL. Jadi tidak mungkin ada 2 TUNGGAL&#8230;, Tunggal dibawa kemanapun artinya tetap sama , yaitu SATU!</p>
<p style="text-align:justify;">Argumen <a href="http://parapemikir.com/logika">rasional</a> dari kelompok ulama ini dijawab oleh para <a href="http://parapemikir.com/filsafat">cerdik pandai (filsuf)</a> abad pertengahan dengan mengatakan &#8216;Bahwa kebutuhan akan sebab dan penciptaan tidak ada kait mengkaitnya dengan apakah &#8216;benda&#8217; itu  tidak pernah tidak ada, tapi lebih tergantung kepada <a href="http://parapemikir.com/eksistensi-dan-esensi">esensi</a> (zhat) itu sendiri. Apakah <a href="http://parapemikir.com/eksistensi-dan-esensi">esensi</a>  keberadaannya <a href="http://parapemikir.com/eksistensi-dan-esensi">niscaya atau mungkin</a>. <em>(eksistensi niscaya atau eksistensi mungkin)</em> .</p>
<p style="text-align:justify;">Sebagai contoh,</p>
<p style="text-align:justify;">Sinar matahari berasal dari matahari.<br />
Dan sinar itu tidak mungkin bisa terpisah dari matahari. <br />
Keberadaan sinar matahari itu tergantung 100% kepada matahari.<br />
Dan satu hal lagi, keberadaan sinar matahari adalah pemberian dari matahari.<br />
Sinar matahari ini akan senantiasa ada, baik kita bayangkan ataupun tidak, sinar matahari ini tidak akan pernah terlepas dari matahari.<br />
Sinar matahari ‘ada’ sejak awal keberadaan matahari.</p>
<p style="text-align:justify;">Disini coba kita ambil satu perumpamaan, umpamanya matahari ini tidak berpermulaan, apakah kemudian sinarnya mempunyai permulaan? Tentu tidak, Adanya matahari otomatis adanya sinar matahari.<br />
Matahari adalah matahari, dan sinar matahari adalah sinar matahari.</p>
<p style="text-align:justify;">Begitu pula dengan keberadaan ‘sesuatu’ yang lain yang tidak pernah berpermulaan, bukan berarti ‘sesuatu’ itu sama dengan Tuhan. Bedanya perumpamaan diatas dengan Tuhan adalah di ‘KEHENDAK DAN PERBUATANNYA’. Matahari tidak mempunyai kehendak terhadap sinarnya, tapi Tuhan mengetahui apa yang diperbuatNya.</p>
<p style="text-align:justify;">Perumpaman seperti ini jelas ditulis dikitab suci Al-quran :</p>
<p style="text-align:justify;"><em>&#8220;Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.(An-Nuur : 35 )</em></p>
<p style="text-align:justify;">Sekarang kita sudah melihat dua kelompok menterjemahkan isi <a href="http://parapemikir.com/eksistensi-dan-esensi">alam semesta</a> ini, ulama jaman dulu mengatakan semua yang ada dialam semesta ini  adalah sesuatu yang baru dan berasal dari ketidak adaan, dan kelompok <a href="http://parapemikir.com/filsafat">cerdik pandai</a> mengatakan bukan demikian, semuanya berasal dari sesuatu yang ada.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/parapemikir.wordpress.com/205/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/parapemikir.wordpress.com/205/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/parapemikir.wordpress.com/205/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/parapemikir.wordpress.com/205/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/parapemikir.wordpress.com/205/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/parapemikir.wordpress.com/205/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/parapemikir.wordpress.com/205/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/parapemikir.wordpress.com/205/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/parapemikir.wordpress.com/205/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/parapemikir.wordpress.com/205/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/parapemikir.wordpress.com/205/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/parapemikir.wordpress.com/205/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/parapemikir.wordpress.com/205/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/parapemikir.wordpress.com/205/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=parapemikir.wordpress.com&#038;blog=8959315&#038;post=205&#038;subd=parapemikir&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://parapemikir.wordpress.com/2009/05/02/lama-dan-baru/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/937a324ba87642b2af63ec361902dc3b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">aksesb01</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://parapemikir.com/wp-content/uploads/2009/05/lama-dan-baru-150x150.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">lama-dan-baru</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Alam Materi</title>
		<link>http://parapemikir.wordpress.com/2009/04/30/alam-materi/</link>
		<comments>http://parapemikir.wordpress.com/2009/04/30/alam-materi/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 30 Apr 2009 11:51:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aksesb01</dc:creator>
				<category><![CDATA[FILSAFAT]]></category>
		<category><![CDATA[alam ide]]></category>
		<category><![CDATA[Alam materi]]></category>
		<category><![CDATA[alam materi dan alam mental]]></category>
		<category><![CDATA[alam mental]]></category>
		<category><![CDATA[alam objektif]]></category>
		<category><![CDATA[alam objektif dan alam mental]]></category>
		<category><![CDATA[alam rasio]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://parapemikir.com/?p=191</guid>
		<description><![CDATA[Berbicara tentang alam materi memang mengasyikkan, orang-orang pintar jaman sekarang lebih menyukai apa-apa yang bisa dilihat dan didengar dengan mata kepala sendiri sebagai bukti nyata tentang keberadaan dan kebenaran suatu perkara daripada membicarakan yang &#8216;ndak jelas&#8217; seperti alam ide, alam rasio, dan alam ketuhanan. Ini sih masih bagus, ada diantara kita bahkan tidak peduli dengan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=parapemikir.wordpress.com&#038;blog=8959315&#038;post=191&#038;subd=parapemikir&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Berbicara tentang <a href="http://parapemikir.com/eksistensi">alam materi</a> memang mengasyikkan, orang-orang pintar jaman sekarang lebih menyukai apa-apa yang bisa dilihat dan didengar dengan mata kepala sendiri sebagai bukti nyata tentang keberadaan dan kebenaran suatu perkara daripada membicarakan yang &#8216;ndak jelas&#8217; seperti <a href="http://parapemikir.com/eksistensi-dan-esensi">alam ide</a>, <a href="http://parapemikir.com/eksistensi-dan-esensi">alam rasio</a>, dan <a href="http://parapemikir.com/eksistensi-dan-esensi">alam ketuhanan.</a></p>
<div id="attachment_192" class="wp-caption alignleft" style="width: 160px"><a href="http://parapemikir.com/alam-materi"><img class="size-thumbnail wp-image-192" title="alam-materi" src="http://parapemikir.com/wp-content/uploads/2009/04/alam-materi-150x150.jpg" alt="alam-ide" width="150" height="150" /></a><p class="wp-caption-text">alam-ide</p></div>
<p style="text-align:justify;">Ini sih masih bagus, ada diantara kita bahkan <a href="http://parapemikir.com/eksistensi-dan-esensi">tidak peduli dengan dunia sekitarnya</a>, ada yang <a href="http://parapemikir.com/eksistensi-dan-esensi">tidak peduli</a> karena memang tidak tahu tapi ada juga <a href="http://parapemikir.com/eksistensi-dan-esensi">yang tahu tapi tetap tidak peduli.</a></p>
<p style="text-align:justify;">Lha, apakah kita memang harus peduli dengan alam sekitar dan semua permasalahannya? Apakah kita perlu tahu tentang jarak antara satu planet dengan planet yang lainnya? Apakah kita harus peduli berapa kedalaman samudra dimana kita tidak pernah &#8216;berurusan&#8217;  dengannya? Apakah kita harus &#8216;ikut campur&#8217; dengan permasalahan perang ditimur tengah  dan lain-lain ?</p>
<p style="text-align:justify;">Mempertanyakan hal-hal yang tidak &#8216;relevan&#8217; dengan kehidupan kita sehari-hari yang disibukkan dengan urusan kantor, urusan cari makan, urusan sekolah anak-anak dan lain-lain AKAN kelihatan konyol dan &#8216;aneh&#8217; bagi kebanyakan orang. <span id="more-191"></span>Tapi apakah pertanyaan seperti diatas itu sebenarnya konyol bin aneh dalam hubungannya dengan kehidupan kita sehari-hari?</p>
<p style="text-align:justify;">Sungguh pertanyaan-pertanyaan seperti diatas bukanlah pertanyaan konyol dan aneh untuk kita semua, tidak peduli apapun latar belakang kita, seharusnya kita mau duduk bersimpuh sebentar untuk <a href="http://parapemikir.com/filsafat">memperhatikan alam sekitar</a> kita, merenung dan bersyukur akan anugrah akal yang telah diberikanNya kepada kita.</p>
<p style="text-align:justify;">Kita <a href="http://parapemikir.com/logika">pantas</a> untuk <a href="http://parapemikir.com/logika">mempertanyakan</a> apakah alam materi itu sesungguhnya <a href="http://parapemikir.com/eksistensi-dan-esensi">&#8216;ADA&#8217;</a> dan BENAR ADA-nya?</p>
<p style="text-align:justify;">Kita lihat sebentar isi dari <a href="http://parapemikir.com/eksistensi-dan-esensi">alam materi</a> itu&#8230;, apa sajakah isinya?</p>
<p style="text-align:justify;">Kita semua bisa dengan mudah menyaksikan disekitar kita ada gunung, ada laut, ada gedung-gedung, ada rumah, ada mobil. Pertanyaannya adalah apakah benda itu ada dan benar adanya?</p>
<p style="text-align:justify;">Jawabnya tentu ada dan benar adanya. Benda-benda itu ada dan bisa ditemukan dengan mudah disekitar kita. Benda-benda yang bisa dilihat dengan mata kepala ini disebut dengan &#8216;ada eksternal&#8217; , yaitu &#8216;adanya&#8217; diluar diri kita (terpisah dengan kita).</p>
<p style="text-align:justify;">Dari jaman kuda gigit besi sampai dengan jaman secanggih sekarang ini kita telah menyaksikan betapa &#8216;ada eksternal&#8217; <em>(<a href="http://parapemikir.com/eksistensi-dan-esensi">Eksistensi eksternal</a>)</em>  ini telah merubah peradaban anak manusia, dan faktanya memang sebagian besar dari &#8216;ada eksternal&#8217; ini memang betul-betul BENAR dan NYATA.</p>
<p style="text-align:justify;">Kita perhatikan&#8230;bahwa dengan bantuan pancaindra dan alat perasa kita mampu membedakan panas dan dingin, api dan es, siang dan malam, panjang dan pendek, tinggi dan rendah, jauh dan dekat, besar dan kecil, bohong dan jujur, koruptor dan orang jujur, sapi dan dendeng. Sungguh fakta itu adalah kebenaran dan sama sekali tidak keliru. Maka sangat aneh kalau orang seperti Berkeley <em>(filsup yang sekaligus uskup terkenal) </em> mengatakan tidak ada realitas eksternal?</p>
<p style="text-align:justify;">Itu sekilas tentang <a href="http://parapemikir.com/eksistensi-dan-esensi">eksistensi</a> eksternal, sekarang kita ke &#8216;benda&#8217; yang berikutnya, kita bisa &#8216;membayangkan&#8217; ada monas dijakarta, ada kota london di inggris, ada rendang diwarung padang, ada  laut di di Timur tengah , ada pulau ditengah laut, ada cewek cantik dikampus. Pertanyaan yang sama, apakah betul yang kita bayangkan tadi &#8216;barangnya&#8217; betul-betul ada didunia nyata?</p>
<p style="text-align:justify;">Jawabnya, bisa ya bisa juga tidak, bisa ada bisa juga tidak. Membayangkan tentang adanya sesuatu ini disebut dengan &#8216;ada mental&#8217;, yaitu &#8216;adanya&#8217; didalam pikiran kita (&#8216;dikepala&#8217; kita)</p>
<p style="text-align:justify;">Kenapa &#8216;ada mental&#8217;  (<a href="http://parapemikir.com/eksistensi-dan-esensi">eksistensi</a> mental) ini mendapat jawaban tidap pasti? Bisa iya bisa tidak, bisa ada bisa tidak? Ini menarik&#8230;, yuk kita lihat ilustrasinya.</p>
<p style="text-align:justify;">Misal, saya membayangkan ada monas dijakarta&#8230;, apakah &#8216;bayangan&#8217; saya itu betul-betul &#8216;benar&#8217; (kebenaran) atau salah (kekeliruan)? Setelah saya lihat dengan mata kepala saya sendiri memang betul &#8216;ada&#8217; monas dijakarta, maka apa yang saya &#8216;bayangkan&#8217; tadi adalah suatu kebenaran (fakta monas betul-betul ada).</p>
<p style="text-align:justify;">Fakta yang saya temukan dilapangan ini adalah merupakan &#8216;<a href="http://parapemikir.com/pengetahuan">pengetahuan</a> dan sumber <a href="http://parapemikir.com/pengetahuan">pengetahuan</a>&#8216; bagi mental saya.</p>
<p style="text-align:justify;">Dan bagaimana kalau sebaliknya? misalnya monas yang saya &#8216;bayangkan&#8217; tadi  tidak ada? Tentu saja &#8216;bayangan&#8217; saya tentang &#8216;ada&#8217; monas dijakarta tadi menjadi suatu kekeliruan.</p>
<p style="text-align:justify;">Fakta &#8216;yang saya temukan dilapangan ini juga merupakan <a href="http://parapemikir.com/pengetahuan">&#8216;pengetahuan </a>dan sumber <a href="http://parapemikir.com/pengetahuan">pengetahuan&#8217;</a> bagi mental saya. Dalam dua skenario diatas, kita sekarang bisa memahami kenapa <a href="http://parapemikir.com/eksistensi-dan-esensi">eksistensi</a> mental tidak langsung otomatis bisa menjawab ada atau tidak ada.</p>
<p style="text-align:justify;">Sekarang kita telah mengetahui perbedaan tentang keberadaan alam materi, yaitu  alam materi yang bisa disaksikan secara gamblang dan alam mental yang harus dengan sedikit mikir <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p style="text-align:justify;">Kemarin disuatu <em>milist yahoogroups</em> ada yang tanya kepada saya, kenapa yang ada dipikiran disebut sebagai <a href="http://parapemikir.com/eksistensi-dan-esensi">eksistensi</a> mental (ada mental)?  Apakah setiap perkara &#8216;ada&#8217; (<a href="http://parapemikir.com/eksistensi-dan-esensi">esksistensi</a>) dinamai sesuai dengan keberadaan-nya? Misalnya, ada lukisan gambar Nyi Loro Kidul, Lukisan Kuda Terbang, Lukisan Bidadari, Lukisan gambar Yesus. Apakah &#8216;ada&#8217; seperti itu disebut dengan &#8216;<a href="http://parapemikir.com/eksistensi-dan-esensi">Eksistensi</a> Lukisan &#8216;atau &#8216;<a href="http://parapemikir.com/eksistensi-dan-esensi">Eksistensi</a> Dinding&#8217; (karena digantung didinding,red).</p>
<p style="text-align:justify;">Tentu saja perkara seperti itu tidak bisa dinamai dengan &#8216;<a href="http://parapemikir.com/eksistensi-dan-esensi">eksistensi</a> lukisan&#8217; ataupun &#8216;<a href="http://parapemikir.com/eksistensi-dan-esensi">eksistensi</a> dinding&#8217; . Ada substansi yang sangat penting yang ketinggalan disitu, Bagi dinding lukisan gambar yang dilukis atau digantungkan disana tidaklah menjadi bagian dari dinding itu, bagi dinding lukisan itu bukanlah <a href="http://parapemikir.com/pengetahuan">PENGETAHUAN</a> DAN SUMBER <a href="http://parapemikir.com/pengetahuan">PENGETAHUAN</a> dinding tentang <a href="http://parapemikir.com/eksistensi-dan-esensi">eksistensi</a> gambar (keberadaan gambar itu dalam alam nyata). Sedangkan lukisan yang ada dialam mental  merupakan <a href="http://parapemikir.com/pengetahuan">pengetahuan </a>dan sumber <a href="http://parapemikir.com/pengetahuan">pengetahuan</a> bagi orang yang membayangkannya.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/parapemikir.wordpress.com/191/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/parapemikir.wordpress.com/191/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/parapemikir.wordpress.com/191/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/parapemikir.wordpress.com/191/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/parapemikir.wordpress.com/191/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/parapemikir.wordpress.com/191/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/parapemikir.wordpress.com/191/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/parapemikir.wordpress.com/191/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/parapemikir.wordpress.com/191/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/parapemikir.wordpress.com/191/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/parapemikir.wordpress.com/191/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/parapemikir.wordpress.com/191/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/parapemikir.wordpress.com/191/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/parapemikir.wordpress.com/191/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=parapemikir.wordpress.com&#038;blog=8959315&#038;post=191&#038;subd=parapemikir&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://parapemikir.wordpress.com/2009/04/30/alam-materi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/937a324ba87642b2af63ec361902dc3b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">aksesb01</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://parapemikir.com/wp-content/uploads/2009/04/alam-materi-150x150.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">alam-materi</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
