<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>My Blog &#187; IRFAN</title>
	<atom:link href="http://parapemikir.wordpress.com/category/irfan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://parapemikir.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Mon, 14 Nov 2011 06:14:52 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='parapemikir.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>My Blog &#187; IRFAN</title>
		<link>http://parapemikir.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://parapemikir.wordpress.com/osd.xml" title="My Blog" />
	<atom:link rel='hub' href='http://parapemikir.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Pelihara Roh Anda</title>
		<link>http://parapemikir.wordpress.com/2009/06/10/pelihara-roh-anda/</link>
		<comments>http://parapemikir.wordpress.com/2009/06/10/pelihara-roh-anda/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Jun 2009 20:50:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aksesb01</dc:creator>
				<category><![CDATA[IRFAN]]></category>
		<category><![CDATA[Mailing List Parapemikir]]></category>
		<category><![CDATA[alam malakut]]></category>
		<category><![CDATA[badan]]></category>
		<category><![CDATA[jasmani]]></category>
		<category><![CDATA[jiwa]]></category>
		<category><![CDATA[Roh]]></category>
		<category><![CDATA[sufi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://parapemikir.com/?p=389</guid>
		<description><![CDATA[Pada suatu hari Abu Bashir berada di Masjid A-Haram. la terpesona rnenyaksikan ribuan orang yang bergerak mengelilingi Kabah, mendengarkan gemuruh tahlil, tasbih, dan takbir mereka. Ia membayangkan betapa beruntungnya orang-orang itu. Mereka tentu akan mendapat pahala dan ampunan Tuhan. Imam Ja&#8217;far Al-Shadiq, tokoh spiritual yang terkenal dan salah seorang ulama besar dari keluarga Rasulullah saw, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=parapemikir.wordpress.com&#038;blog=8959315&#038;post=389&#038;subd=parapemikir&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="mceTemp">
<dl class="wp-caption alignleft">
<dt class="wp-caption-dt"><a href="http://parapemikir.com/pelihara-roh-anda"><img class="size-thumbnail wp-image-390" title="roh" src="http://parapemikir.com/wp-content/uploads/2009/06/roh-150x150.jpg" alt=" " width="150" height="150" /></a></dt>
<dd class="wp-caption-dd"></dd>
</dl>
</div>
<p style="text-align:justify;">Pada suatu hari Abu Bashir berada di Masjid A-Haram. la terpesona rnenyaksikan ribuan orang yang bergerak mengelilingi Kabah, mendengarkan gemuruh tahlil, tasbih, dan takbir mereka. Ia membayangkan betapa beruntungnya orang-orang itu. Mereka tentu akan mendapat pahala dan ampunan Tuhan. Imam Ja&#8217;far Al-Shadiq, tokoh spiritual yang terkenal dan salah seorang ulama besar dari keluarga Rasulullah saw, menyuruh Abu Bashir menutup matanya. Imam Ja&#8217;far mengusap wajahnya. Ketika ia membuka lagi matanya, ia terkejut. Di sekitar Ka&#8217;bah ia melihat banyak sekali binatang dalam berbagai jenisnya- mendengus, melolong, mengaum. Imam Ja&#8217;far berkata, &#8220;Betapa banyaknya lolongan atau teriakan; betapa sedikitnya yang haji.&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;"><span id="more-389"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Apa yang disaksikan Abu Bashir pada kali yang pertama adalah tubuh-tubuh manusia. Apa yang dilihat kedua kalinya adalah bentuk-bentuk roh mereka. Kita adalah makhluk yang hidup di dua alam sekaligus. Tubuh kita hidup di alam fisik, terikat dalam ruang dan waktu. Para ulama menyebut alam fisik ini sebagai alam nasut, alam yang bisa kita lihat dan kita raba, Kita dapat menggunakan pancaindera kita untuk mencerapnya. Sementara itu, roh kita hidup di alam metafisik, tidak terikat dalam ruang dan waktu. Para ulama menyebut alam ini alam malakut. Menurut Al-Quran, bukan hanya manusia, tetapi segala sesuatu mempunyai malakut-nya. &#8220;Maka Mahasuci (Allah) yang di tangan-Nya malakut segala sesuatu. Dan kepada-Nyalah kamu dikembalikan.&#8217; (QS. Yasin 83); &#8216;Dan demikianlah kami perlihatkan kepada Ibrahim, malakut langit dan bumi.&#8221; (QS. Al-An&#8217;arn 75)</p>
<p style="text-align:justify;">Roh kita, karena berada di alam malakut, tidak dapat dilihat oleh mata lahir kita. Roh adalah bagian batiniah dari diri kita. Ia hanya dapat dilihat oleh mata batin. Ada sebagian di antara manusia yang dapat melihat roh dirinya atau orang lain. Mereka dapat menengok ke alam malakut. Kemampuan itu diperoleh karena mereka sudah melatih mata batinya dengan riyadhah kerohanian atau karena anugrah Allah (al-mawahib al-rabbaniyyah). Para Nabi, para walli, dan orang-orang saleh seringkali mendapat kesempatan melihat ke alam rnalakut itu.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Makanan Roh</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Roh -seperti tubuh-juga dapat berada dalam berbagai keadaan. Imam Ali kw berkata, &#8216;Sesungguhnya tubuh mengalami enam keadaan; sehat, sakit, mati, hidup, tidur, dan bangun. Demikian pula roh. Hidupnya adalah ilmunya, matinya adalah kebodohannya., sakitnya adalah keraguannya, dan sehatnya adalah keyakinannya, tidurnya adalah kelalaiannya, dan bangunnya ialah penjagaannya.&#8217; (BiharAl-Anwar 61:40)</p>
<p style="text-align:justify;">Seperti tubuh, roh pun memerlukan makanan. Mulla Shadra tidak menyebutnya makanan. Ia menyebutnya rezeki. Ia berkata, &#8216;Setiap yang hidup perlu rezeki, dan rezeki arwah adalah cahaya-cahaya ilahiah dan ilmu-ilmu rabbaniah.&#8217; (Mafatih AI-Ghaib 545)</p>
<p style="text-align:justify;">Untuk meningkatkan kualitas roh, supaya ia sehat dan kuat, kita perlu memberikan kepadanya cahaya-cahaya ilahiah dalam bentuk zikir, doa, dan ibadat-ibadat lainnya seperti salat, puasa, dan haji. Pada Bulan Ramadhan, kita berusaha menerangi roh kita dengan berbagai makanan rohani. Kita mandikan roh kita dengan proses pensucian batin, seperti istighfar, mengendalikan hawa nafsu, dan menjauhi kemaksiatan. Karena itu Nabi saw bersabda, &#8216;Bulan Ramadhan adalah bulan yang diwajibkan atas kamu puasanya dan disunnahkan bagimu bangun malamnya. Barangsiapa yang berpuasa dan melakukan salat malamnya dengan iman dan ikhlas, Tuhan akan mengampuni dosa-dosanya yang terdahulu. (Dalam riwayat lain) la akan keluar dari dosa-dosanya seperti ketika ia keluar dari perut ibunya.&#8217;</p>
<p style="text-align:justify;">Kita menghidupkan roh dengan ilmu-ilmu rabbaniah. Inilah yang kita maksud dengan dimensi intelektual dari keberagamaan kita. Ada ilmu-ilmu yang membantu kita untuk memelihara kesehatan tubuh kita seperti ilmu gizi, kedokteran, ekologi, dan sebagainya. Di samping itu, ada ilmu-ilmu yang menolong kita untuk menyehatkan roh kita: ilmu-ilmu tentang Al-Quran dan Sunnah (syariat), ilmu-ilmu tentang cara mendekatkan diri kita kepada Allah (thariqat), dan ilmu-ilmu berkenaan dengan pengalaman rohaniah (haqiqat).</p>
<p style="text-align:justify;">Seperti tubuh, roh yang tidak diperhatikan dan dipelihara, roh yang kekurangan makanan akan menjadi roh yang lemah, sakit-sakitan, dan akan dikuasai setan. Roh yang sakit tampak dalam gejala-gejala seperti kegelisahan, keresahan, kebingungan, hidup yang tidak bermakna, hidup tanpa tujuan, kosongan eksistensial (existential vacuum). Pendeknya, roh yang sakit tampak dalam hidup yang tidak tentram. Al-Quran melukiskannya, &#8216;Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit dan kami menghimpunkannya pada Hari Kiamat dalam keadaan buta.&#8221; (QS. Thaha 124); &#8220;Barangsiapa yang Allah menghendaki akan diberikan kepadanya pet-unjuk, niscaya dia melapangkan dadanya untuk Islam. Dan barangsiapa dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki ke langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman.&#8217; (QS. Al-An&#8217;am 120).</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Keindahan Roh</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Seperti tubuh, arwah mempunyai rupa yang bermacam-macam: buruk atau indah; juga mempunyai bau yang berbeda: busuk atau harum. Rupa roh jauh lebih beragam dari rupa tubuh. Berkenaan dengan wajah lahiriah, kita dapat saja menyebut wajahnya mirip binatang, tapi pasti ia bukan binatang. Roh dapat betul-betul berupa binatang -babi atau kera. Tuhan berkata, &#8216;Katakanlah: apakah akan Aku beritakan kepadamu tentang orang-orang yang lebih buruk kedudukannya di sisi Allah, yaitu orang-orang yang dikutuki dan dimurkai Allah, di antara mereka ada yang dijadikan kera dan babi dan penyembah Thagut? Mereka itu lebih buruk tempatnya dan lebih tersesat dari jalan yang lurus. (Al-Maidah 60)</p>
<p style="text-align:justify;">Al-Ghazali menulis: &#8216;Al-Khuluq dan Al-Khalq kedua-duanya digunakan. Misalnya si Fulan mempunyai khuluq dan khalq yang indah -yakni indah lahir dan batin. Yang dimaksud dengan khalq adalah bentuk lahir, yang dimaksud dengan khuluq adalah bentuk batin. Karena manusia terdiri dari tubuh yang mencerap dengan mata lahir dan roh yang mencerap dengan mata batin. Keduanya mempunyai rupa dan bentuk baik jelek maupun indah. Roh yang mencerap dengan mata batin memiliki kemampuan yang lebih besar dari tubuh yang mencerap dengan mata lahir. Karena itulah Allah memuliakan roh dengan menisbahkan kepada diri-Nya. Ia bersabda, &#8216;Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat, Aku menjadikan manusia dan&#8217; tanah. Maka apabila telah kusempurna kan kejadiannya dan kutiupkan kepadanya rohku; maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadanya.&#8217;(QS. Shad 71-72). Allah menunjukkan bahwa jasad berasal dari tanah dan roh dari Tuhan semesta alam. (Ihya Ulum Al-Din, 3:58).</p>
<p style="text-align:justify;">Khuluq -dalam bahasa Arab- berarti akhlak. Roh kita menjadi indah dengan akhlak yang baik dan menjadi buruk dengan akhlak yang buruk. Dalam teori akhlak dari Al-Ghazali, orang yang selalu mengikuti hawa nafsunya, akan memiliki roh yang berbentuk babi; orang yang pendengki dan pendendam akan memiliki roh yang berbentuk binatang buas; orang yang selalu mencari dalih buat membenarkan kemaksiatannya akan mempunyai roh yang berbentuk setan (monster) dan seterusnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Ketika turun ke bumi, karena berasal dari Mahasuci, roh kita dalam keadaan suci. Ketika kita kembali kepadanya, roh kita datang dalam bentuk bermacam-macam. Ketika pohon pisang lahir ke dunia, ia lahir sebagai pohon pisang. Ketika mati, ia kembali sebagai pohon pisang lagi. Ketika manusia lahir, ia lahir sebagai manusia. Ketika mati, ia kembali kepada Tuhan dalam berbagai bentuk, tidak hanya dalam bentuk manusia saja. Ia dapat kembali dalam bentuk binatang, setan, atau cahaya.</p>
<p style="text-align:justify;">Walhasil, untuk memperindah bentuk roh kita, kita harus melatihkan akhlak yang baik. Meningkatkan kualitas spiritual, berarti mernperindah akhlak kita. Kita menyimpulkan prinsip ini dalam doa ketika bercermin. &#8220;Allahumma kama ahsanta khalqi fa hassin khuluqi.&#8217; (Ya Allah, sebagaimana Engkau indahkan tubuhku, indahkan juga akhlakku).</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Roh dalam Maut</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Kita kutipkan di sini hadits yang panjang; </p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Kami sedang mengantarkan jenazah di Baqi. Kemudian datanglah Nabi dan duduk bersama kami di dekat jenazah. Kami tundukkan kepala kami seakan-akan burung hinggap di atasnya. Ia berkata: Aku berlindung dari siksa kubur, 3X. Sesungguhnya manusia mukmin ketika hendak memasuki akhirat dan meninggalkan dunia, turunlah malaikat kepadanya dengan wajah yang bersinar seperti cahaya matahari. Mereka duduk di dekat rnayit sepanjang mata memandang. Lalu datanglah malakal maut dan duduk di dekat kepalanya dan berkata: Hai roh yang baik, keluarlah menuju ampunan Allah dan keridhaannya. Maka keluarlah roh itu mengalir seperti rnengalirnya tetesan air dari mulut cerek. Malaikat maut mengambilnya. Apabila ia sudah mengambilnya, ia tidak membiarkannya berada di tangannya sekejap mata pun sampai ia menyimpannya di dalam kafan. Dari roh itu keluarlah bau harum semerbak memenuhi permukaan bumi. Para malaikat naik membawa roh itu. Setiap kali mereka rnelewati kelompok malaikat yang lain, mereka ditanya, &#8216;Siapa roh yang baik ini?&#8217; Mereka menyebut Fulan bin Fulan dengan nama-nama yang indah yang diperolehnya di dunia. Ketika sampai di langit dunia, dibukakanlah pintu baginya. Pada setiap langit, malaikat mengantarkannya sampai ke langit berikutnya dan seterusnya sampai ke Allah Ta&#8217;ala. </p>
<p style="text-align:justify;">Allah berfirman: &#8216;Tuliskan kitab hamba-Ku di tempat yang tinggi. Kembalikan dia ke bumi karena aku menciptakannya dari bumi, mengembalikannya ke bumi, dan mengeluarkannya dari bumi sekali lagi. Lalu rohnya dikembalikan ke jasadnya. Dua malaikat datang dan duduk bersamanya seraya berkata: Siapa Tuhanmu? Ia berkata: Tuhanku Allah. Apa agamamu? Agamaku Islam. Siapa laki-laki yang diutus kepadamu? Rasulullah. Darimana kamu mengetahui hal ini? Aku membaca Kitabullah, beriman kepadanya, dan membenarkannya. Seorang penyeru berseru dari langit: Benar hambaku. Hamparkan baginya tikar dari surga. Bukakan baginya pintu dari surga. Lalu angin dan semerbak surga datang kepadanya. Kuburan dilegakan seluas pandangan mata. Seseorang yang berwajah cantik datang kepadanya dengan baju yang indah dan bau yang harum. Ia berkata: Bergembiralah dengan apa-apa yang akan membahagiakan kamu. Inilah hari yang dijanjikan kepadamu. Mayit bertanya: siapakah kamu? Wajahmu wajah yang membawa kebaikan. Ia berkata: Saya. amal shalehmu. Ia berkata: Tuhanku, tegakkanlah hari kiamat supaya aku kembali kepada keluargaku dan kekayaanku.</p>
<p style="text-align:justify;">Bila seorang kafir meninggalkan dunia dan memasuki akhirat, dari langit turunlah mialaikat berwajah buruk dan membawa kain yang buruk. Mereka duduk di dekat mayit sepanjang mata memandang. Lalu datanglah malakal maut dan duduk di dekat kepalanya dan berkata: Hai roh yang buruk, keluarlah menuju kemurkaan Allah dan kemarahan-Nya.. Malaikat maut mencabut nyawanya seperti sisir besi mencabuti bulu yang basah. Mailakat maut mengambilnya. Apabila ia sudah mengarnbilnya, ia tidak membiarkannya berada di tangannya sekejap mata pun sampai ia menyimpannya di dalam kain buruk itu. Dari roh itu keluar bau yang lebih busuk dari bau bangkai dan memenuhi permukaan bumi. Para malaikat naik mernbawa roh itu. Setiap kali mereka melewati kelompok malaikat yang lain mereka ditanya. &#8220;Siapa roh yang buruk ini&#8221;? Mereka menjawab; Fulan bin Fulan dan menyebutnya dengan nama-nama yang buruk yang diperolehnya dari dunia. Ketika ia sampai ke langit dunia, ia minta dibukakan pintu langit, tetapi tidak dibukakan kepadanya. Kemudian. Rasulullah saw membaca ayat Al-Quran, &#8220;Sesingguhnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat kami dan menyombongkan diri terhadapnya, sekali-kali tidak akan dibukakan kepada mereka pintu-pintu langit dan tidak pula mereka masuk surga, seperti tidak mungkinnya unta masuk ke lubang jarum. (QS. Al-A&#8217;raf 40) </p>
<p style="text-align:justify;">Allah berfirman, &#8216;Tuliskan kitabnya di bumi yang paling rendah.&#8217; Maka dilemparkanlah rohnya. Kemudian Nabi membaca ayat Al-Quran, &#8216;Dan barangsiapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka adalah ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh. (QS. AI-Haj 31) Lalu rohnya dikembalikan ke jasadnya. Dua malaikat datang dan duduk bersamanya, seraya berkata: Siapa Tuhanmu? Ia berkata: Ah, aku tidak tahu. Seorang penyeru berteriak dari langit: Bohong hambaku. Hamparkan kepadanya tikar dari api neraka. Bukakan baginya pintu neraka. Panas dan keringnya neraka mendatanginya. Kuburannya disempitkan sampai pecah tulang-tulangnya. Seseorang yang berwajah buruk, berpakaian buruk, berbau busuk datang kepadanya dan berkata: Terimalah berita yang menyusahkan kamu. Inilah hari yang telah dijanjikan kepadamu. Mayit bertanya, &#8216;Siapakah kamu? Wajahmu wajah yang membawa keburukan.&#8217; Ia menjawab, &#8216;Aku amalmu yang buruk.&#8217; Mayit itu berkata: Tuhanku jangan tegakkan hari kiamat. (Ibn Qayyim Al-Jawziyyah, Al-Roh hal 44-45).</p>
<p style="text-align:justify;">Wallahu&#8217;alambishawab</p>
<p style="text-align:justify;">Oleh : Prof.Dr.KH. Jalaluddin Rakhmat</p>
<p style="text-align:justify;">Posted by :</p>
<div style="font:10pt arial;">&#8212;&#8211; Original Message &#8212;&#8211;</div>
<div style="background:#e4e4e4;font:10pt arial;"><strong>From:</strong> ismardhani</div>
<div style="font:10pt arial;"><strong>To:</strong> <a title="parapemikir@yahoogroups.com" href="mailto:parapemikir@yahoogroups.com">parapemikir@yahoogroups.com</a></div>
<div style="font:10pt arial;"><strong>Sent:</strong> Wednesday, June 10, 2009 9:00 AM</div>
<div style="font:10pt arial;"><strong>Subject:</strong> [parapemikir] Pelihara Roh Anda !</div>
<p style="text-align:justify;"> </p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/parapemikir.wordpress.com/389/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/parapemikir.wordpress.com/389/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/parapemikir.wordpress.com/389/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/parapemikir.wordpress.com/389/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/parapemikir.wordpress.com/389/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/parapemikir.wordpress.com/389/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/parapemikir.wordpress.com/389/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/parapemikir.wordpress.com/389/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/parapemikir.wordpress.com/389/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/parapemikir.wordpress.com/389/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/parapemikir.wordpress.com/389/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/parapemikir.wordpress.com/389/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/parapemikir.wordpress.com/389/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/parapemikir.wordpress.com/389/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=parapemikir.wordpress.com&#038;blog=8959315&#038;post=389&#038;subd=parapemikir&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://parapemikir.wordpress.com/2009/06/10/pelihara-roh-anda/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/937a324ba87642b2af63ec361902dc3b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">aksesb01</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://parapemikir.com/wp-content/uploads/2009/06/roh-150x150.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">roh</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Etika dan Irfan</title>
		<link>http://parapemikir.wordpress.com/2009/05/19/etika-dan-irfan/</link>
		<comments>http://parapemikir.wordpress.com/2009/05/19/etika-dan-irfan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 19 May 2009 05:50:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aksesb01</dc:creator>
				<category><![CDATA[IRFAN]]></category>
		<category><![CDATA[Etika]]></category>
		<category><![CDATA[etika dan irfan]]></category>
		<category><![CDATA[etika dan tasawuf]]></category>
		<category><![CDATA[irfan dan etika]]></category>
		<category><![CDATA[tasawuf]]></category>
		<category><![CDATA[tawawuf dan etika]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://parapemikir.com/?p=286</guid>
		<description><![CDATA[Sebagaimana pernah kita singgung sebelumnya tentang irfan, dari pengertiannya terlihat irfan sama saja dengan akhlak (etika) dan  keduanya memang merupakan ilmu praktik. Namun demikian, walaupun dari sudut pengertian antara irfan dan akhlak lebih kurang sama saja, tapi dalam &#8216;aturan main&#8217;  dan fokusnya terdapat beberapa perbedaan diantara keduanya. Sekarang kita akan coba bahas tentang fokus dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=parapemikir.wordpress.com&#038;blog=8959315&#038;post=286&#038;subd=parapemikir&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://parapemikir.com/etika-dan-irfan"><img class="size-thumbnail wp-image-287 alignleft" title="etika" src="http://parapemikir.com/wp-content/uploads/2009/05/etika-150x150.gif" alt="etika" width="150" height="150" /></a></p>
<p style="text-align:justify;">Sebagaimana pernah kita singgung <a href="http://parapemikir.com/mengenal-irfan">sebelumnya</a> tentang <em><a href="http://parapemikir.com/irfan">irfan</a></em>, dari pengertiannya terlihat <em><a href="http://parapemikir.com/irfan">irfan</a></em> sama saja dengan akhlak (etika) dan  keduanya memang merupakan ilmu praktik.</p>
<p style="text-align:justify;">Namun demikian, walaupun dari sudut pengertian antara <em><a href="http://parapemikir.com/irfan">irfan</a></em> dan akhlak lebih kurang sama saja, tapi dalam &#8216;aturan main&#8217;  dan fokusnya terdapat beberapa perbedaan diantara keduanya.</p>
<p style="text-align:justify;"><span id="more-286"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Sekarang kita akan coba bahas tentang fokus dan perbedaa antara <a href="http://parapemikir.com/irfan">irfan</a> dengan akhlak (etika). </p>
<p style="text-align:justify;"> </p>
<p style="text-align:justify;">Kita mulai dulu dari persamaannya, kenapa antara <em><a href="http://parapemikir.com/irfan">irfan</a></em> dan akhlak disebutkan sama saja. Dari pengertian masing-masing didapat kesamaan bahwa antara <em><a href="http://parapemikir.com/irfan">irfan</a></em> dan etika  keduanya bertumpu pada bahasan tentang &#8221; APA YANG HARUS DILAKUKAN&#8221;.</p>
<p style="text-align:justify;">Sekarang apa perbedaannya yang paling penting diantara keduanya?</p>
<p style="text-align:justify;">Mari  Kita lihat&#8230;</p>
<p style="text-align:justify;"><em><a href="http://parapemikir.com/irfan">Irfan</a></em> membahas dan menguraikan hubungan dan tanggung jawab yang diemban manusia terhadap dirinya sendiri, kepada alam semesta dan kepada Allah. Dan sesuai dengan latihan-latihannya dan fahamnya tentang tauhid terlihat jelas bahwa penekanan yang paling utama dalam <em><a href="http://parapemikir.com/irfan">irfan</a></em> dari aspek prakteknya adalah kepada hubungan dan tanggung jawab antara manusia dengan Allah.</p>
<p style="text-align:justify;">Sedangkan dari sisi Ilmu Etika, tidak semua sistem akhlak memandang perlu membahas dan menguraikan hubungan antara manusia dengan Allah. Hanya sistem akhlak agama saja yang menganggap penting memberikan perhatian dan bahasan khusus tentang masalah ini.</p>
<p style="text-align:justify;">Perbedaan selanjutnya adalah bahwa metodelogi gerak maju rohani  s<em>ayr </em>(perjalanan) dan <em> Suluk</em> ( bepergian) merupakan metodelogi yang dinamis, sementara metodelogi etika adalah statis.</p>
<p style="text-align:justify;"><em><a href="http://parapemikir.com/irfan">Irfan</a></em> berbicara tentang perjalanan rohani, yaitu bermula dari sebuah titik keberangkatan, stasiun-stasiun, tempat tujuan dan tahapan-tahapan dalam aturan yang benar. Dan dalam pandangan ahli <em><a href="http://parapemikir.com/irfan">irfan</a></em>, yang disebut dengan perjalanan dan jalan tersebut adalah betul-betul jalan dalam pengertian harfiah, yakni jalan. Bukan jalan dalam pengertian kiasan atau metapora, dan yang disebutkan sebagai jalan itu harus betul-betul diikuti setahap demi setahap, stasiun demi stasiun. Untuk sampai kepada stasiun mana saja tanpa melewati stasiun sebelumnya, menurut pandangan  para ahli <em><a href="http://parapemikir.com/irfan">irfan</a></em> adalah sesuatu hal yang tidak mungkin.</p>
<p style="text-align:justify;">Para ahli <em><a href="http://parapemikir.com/irfan">irfan</a></em> memandang roh manusia persis seperti organisme hidup, seperti benih atau seperti seorang anak, yang mana kesempurnaannya tergantung kepada pertumbuhan dan kematangannya sesuai dengan sistem dan aturan tertentu.</p>
<p style="text-align:justify;">Sedangkan didalam etika subjek yang ditangani hanya serangkaian kebijakan seperti kewajaran, kejujuran, keikhlasan, kesucian, keadilan dan kemurahan hati serta mementingkan kepentingan umum ketimbang kepentingan pribadi dan seterusnya. Fokusnya lebih kepada menghiasi roh dengan keperibadian yang indah, anggun dan lembut.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam pandangan etika, roh itu diibaratkan sebagai sebuah rumah, dimana keindahan dan keserasian rumah tersebut tergantung kepada hiasan apa yang menghiasi rumah tersebut. Bagaiman dekorasinya, bagaimana tata ruangnya, bagaimana infrastrukturnya, bagaimana taman dan halamannya dan seterusnya. Dalam hal penyempurnaan keindahan sebuah rumah, urutan pengerjaannya tidak harus berurutan, bisa dilakukan dan dimulai dari mana saja dan di akhiri dimana saja, boleh menghiasi taman dulu dan bisa juga mempercantik ruang tamu atau kamar tidur, mulai darimana saja dianggap saja saja.</p>
<p style="text-align:justify;">Perbedaan ketiga diantara kedua disiplin ilmu ini adalah, bahwa unsur-unsur rohani dari etika terbatas pada konsep dan gagasan yang pada umumnya biasa, sementara unsur rohani dari <em><a href="http://parapemikir.com/irfan">irfan</a></em> jauh lebih mendalam dan luas.</p>
<p style="text-align:justify;">Didalam metodelogi spiritual <em><a href="http://parapemikir.com/irfan">irfan</a></em>, yang banyak disinggung adalah hati serta keadaan dan kejadian yang dialaminya, dan pengalaman pengalaman ini hanya diketahui oleh musafir yang menempuh perjalanan itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Cabang <a href="http://parapemikir.com/irfan">i<em>rfan</em></a> yang lain berhubungan dengan interprestasi wujud, yakni Tuhan, alam semesta dan manusia. Tentang interprestasi wujud ini, terdapat beberapa kemiripan antara apa yang dipahami oleh <em>irfan</em> dengan apa yang dipahami oleh filsafat, tentang hal ini nanti akan kita bicarakan dalam artikel khusus lainnya.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/parapemikir.wordpress.com/286/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/parapemikir.wordpress.com/286/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/parapemikir.wordpress.com/286/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/parapemikir.wordpress.com/286/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/parapemikir.wordpress.com/286/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/parapemikir.wordpress.com/286/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/parapemikir.wordpress.com/286/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/parapemikir.wordpress.com/286/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/parapemikir.wordpress.com/286/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/parapemikir.wordpress.com/286/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/parapemikir.wordpress.com/286/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/parapemikir.wordpress.com/286/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/parapemikir.wordpress.com/286/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/parapemikir.wordpress.com/286/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=parapemikir.wordpress.com&#038;blog=8959315&#038;post=286&#038;subd=parapemikir&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://parapemikir.wordpress.com/2009/05/19/etika-dan-irfan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/937a324ba87642b2af63ec361902dc3b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">aksesb01</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://parapemikir.com/wp-content/uploads/2009/05/etika-150x150.gif" medium="image">
			<media:title type="html">etika</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mengenal Irfan</title>
		<link>http://parapemikir.wordpress.com/2009/05/18/mengenal-irfan/</link>
		<comments>http://parapemikir.wordpress.com/2009/05/18/mengenal-irfan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 18 May 2009 08:09:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aksesb01</dc:creator>
				<category><![CDATA[IRFAN]]></category>
		<category><![CDATA[irfan praktek]]></category>
		<category><![CDATA[irfan teori]]></category>
		<category><![CDATA[Mengenal]]></category>
		<category><![CDATA[mengenal irfan]]></category>
		<category><![CDATA[sufi]]></category>
		<category><![CDATA[sufism]]></category>
		<category><![CDATA[tasawuf]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://parapemikir.com/?p=272</guid>
		<description><![CDATA[Ditulisan sebelumnya kita sudah mengetahui bahwa irfan/tasawuf terdiri dari dua aspek, yakni aspek teori dan praktek. Sekarang kita akan lihat lebih kedalam lagi apa saja yang dibicarakan dan dipraktekkan itu. Ajaran praktik irfan dikenal dengan istilah teknisnya sebagai &#8216;sayr wa suluk&#8217;  atau &#8221; Perjalanan Rohani&#8221;. Arti sebenarnya dari kata sayr wa suluk adalah &#8216;perjalanan&#8217; atau [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=parapemikir.wordpress.com&#038;blog=8959315&#038;post=272&#038;subd=parapemikir&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="mceTemp">
<dl class="wp-caption alignleft">
<dt class="wp-caption-dt"><a href="http://parapemikir.com/mengenal-irfan"><img class="size-thumbnail wp-image-273" title="mengenal" src="http://parapemikir.com/wp-content/uploads/2009/05/mengenal-150x150.jpg" alt=" " width="150" height="150" /></a></dt>
<dd class="wp-caption-dd"></dd>
</dl>
</div>
<p style="text-align:justify;">Ditulisan <a href="http://parapemikir.com/irfan">sebelumnya</a> kita sudah mengetahui bahwa <em>irfan</em>/tasawuf terdiri dari dua aspek, yakni aspek teori dan praktek. Sekarang kita akan lihat lebih kedalam lagi apa saja yang dibicarakan dan dipraktekkan itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Ajaran praktik <em><a href="http://parapemikir.com/irfan">irfan</a></em> dikenal dengan istilah teknisnya sebagai &#8216;<em>sayr wa suluk&#8217;  </em>atau &#8221; Perjalanan Rohani&#8221;. Arti sebenarnya dari kata <em>sayr wa suluk</em> adalah &#8216;perjalanan&#8217; atau &#8216;bepergian&#8217; , diterjemahkan secara bebas dengan menambah kata rohani untuk lebih memudahkan kita dalam pembahasannya nanti.</p>
<p style="text-align:justify;"><span id="more-272"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Perjalanan rohani  biasanya dimulai dari mempersiapkan si calon musafir <em>(salik) </em>yang ingin mencapai tujuan <strong>puncak keagungan manusia, yakni tauhid.</strong> Dijelaskan dengan ditail oleh seorang guru khusus darimana dia harus mulai berangkat, tahapan-tahapan apa saja yang harus dilalui dan dilakukan, stasiun-stasiun mana saja yang harus dilewati, kondisi dan situasi apa saja yang nanti akan dialami disetiap stasiun yang akan dilewati dan peristiwa-peristiwa apa saja nanti yang akan dialami.</p>
<p style="text-align:justify;">Guru khusus yang disebutkan tadi adalah HARUS betul-betul seorang guru khusus yang sudah dianggap mempunyai keteladanan dan kesempurnaan dalam membimbing para musafir (<em>salik</em>) . Hal ini penting mengingat perjalanan disetiap tahapan dan stasiunnya nanti akan menuntut kewaspadaan tingkat tinggi. Tidak jarang orang yang terjebak kedalam bahaya dan menjadi sesat dalam melakukan perjalanan rohaninya karena tidak mempunyai guru dan pengarah yang khusus. Guru khusus dalam perjalanan rohani ini, dikalangan para ahli <em><a href="http://parapemikir.com/irfan">irfan</a></em> dikenal dengan nama khusus pula, yaitu <em>khidir </em>atau <em>Ta&#8217;ir al Quds </em>(Burung Suci).</p>
<p style="text-align:justify;">Bagi kita yang awam dengan <em><a href="http://parapemikir.com/irfan">irfan</a></em>, melihat aturan khusus dan cara khusus yang dilakukan dengan cara yang sedemikian rupa itu tentu akan mengundang pertanyaan besar dibenak kita, Apakah tauhid yang dimaksud <em><a href="http://parapemikir.com/irfan">irfan</a></em> dan tauhid yang kita maksud sebagai masyarakat awam adalah berbeda? Atau apakah sama saja?</p>
<p style="text-align:justify;">Jawabannya tentu saja sudah jelas berbeda, mari kita lihat perbedaannya&#8230;.</p>
<p style="text-align:justify;">Bagi para ahli <em><a href="http://parapemikir.com/irfan">irfan/tasawuf</a></em> <em>(Arif)</em> yang disebut tauhid adalah puncak keagungan kemanusiaan  dan TUJUAN AKHIR dari &#8216;perjalanan rohaninya&#8217; .</p>
<p style="text-align:justify;">Sementara bagi kita yang awam, bahkan para filsuf sekalipun berpendapat  bahwa tauhid adalah kesatuan dasar dari <em>Wajib al Wujud.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Bagi ahli <em><a href="http://parapemikir.com/irfan">irfan</a></em> <em>(Arif)</em> , tauhid berarti bahwa &#8220;selain Allah adalah tidak ada&#8221; , dan kemudian dilanjutkan lagi dengan pernyataan berikutnya, bahwa yang disebut dengan tauhid itu adalah berarti realitas terakhir hanyalah Allah dan segala sesuatu selain Allah hanyalah penampilan luar, bukan realitas.</p>
<p style="text-align:justify;">Bagi Ahli <em><a href="http://parapemikir.com/irfan">Irfan</a></em>, tauhid artinya mengikuti jalan dan tiba pada tahap ketika dia tidak melihat apa-apa kecuali Allah.</p>
<p style="text-align:justify;">Tentu saja setiap pendapat yang ektrim akan menuai kritik yang ektrim pula, pendapat para ahli <em><a href="http://parapemikir.com/irfan">irfan</a> </em> ini mendapat penentangan dari banyak ulama-ulama islam lainnya, bahkan para ahli fiqih <em>(Fuqaha)</em> menggangap sekte/mazhab ini adalah ahli bid&#8217;ah (Mengada-ada). Tapi para ahli <em><a href="http://parapemikir.com/irfan">irfan</a></em> juga tidak mau kalah dalam memberikan &#8216;penjelasan&#8221; dan bagi mereka hanya tauhid yang model tadilah yang benar dan yang selain mengikuti tahapan-tahapan seperti itu tidaklah betul karena tidak akan terlepas dari syirik.</p>
<p style="text-align:justify;">Ahli <em><a href="http://parapemikir.com/irfan">irfan</a></em> tidak setuju bahwa untuk mencapai tahapan ideal tauhid dengan menggunakan fungsi akal dan renungan. Menurut Ahli <a href="http://parapemikir.com/irfan">irfan</a> untuk mencapai tahapan ideal tauhid yang betul adalah dengan perjalanan rohani, pembersihan hati, usaha yang keras dan pendisiplinan diri.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/parapemikir.wordpress.com/272/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/parapemikir.wordpress.com/272/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/parapemikir.wordpress.com/272/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/parapemikir.wordpress.com/272/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/parapemikir.wordpress.com/272/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/parapemikir.wordpress.com/272/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/parapemikir.wordpress.com/272/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/parapemikir.wordpress.com/272/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/parapemikir.wordpress.com/272/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/parapemikir.wordpress.com/272/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/parapemikir.wordpress.com/272/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/parapemikir.wordpress.com/272/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/parapemikir.wordpress.com/272/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/parapemikir.wordpress.com/272/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=parapemikir.wordpress.com&#038;blog=8959315&#038;post=272&#038;subd=parapemikir&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://parapemikir.wordpress.com/2009/05/18/mengenal-irfan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/937a324ba87642b2af63ec361902dc3b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">aksesb01</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://parapemikir.com/wp-content/uploads/2009/05/mengenal-150x150.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">mengenal</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Irfan</title>
		<link>http://parapemikir.wordpress.com/2009/04/16/irfan/</link>
		<comments>http://parapemikir.wordpress.com/2009/04/16/irfan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 16 Apr 2009 09:09:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aksesb01</dc:creator>
				<category><![CDATA[IRFAN]]></category>
		<category><![CDATA[irfan tasawuf]]></category>
		<category><![CDATA[sufi]]></category>
		<category><![CDATA[sufi urafa]]></category>
		<category><![CDATA[tasawuf]]></category>
		<category><![CDATA[urafa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://parapemikir.com/?p=52</guid>
		<description><![CDATA[Irfan atau tasawuf  merupakan sebuah fenomena tersendiri didalam kehidupan beragama dan bermasyarakat. Tidak seperti disiplin ilmu lainnya  seperti ilmu fiqih, ilmu hadist, ilmu tafsir alquran, ilmu teologi, ilmu filsafat dan lainnya, ilmu irfan dianggap unik karena bisa dilihat dari dua sudut pandang, yaitu sudut pandang akademis dan sudut pandang sosial. Para ahli irfan, jika dilihat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=parapemikir.wordpress.com&#038;blog=8959315&#038;post=52&#038;subd=parapemikir&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Irfan atau <a href="http://parapemikir.com/irfan">tasawuf</a>  merupakan sebuah fenomena tersendiri didalam kehidupan beragama dan bermasyarakat.</p>
<div id="attachment_53" class="wp-caption alignleft" style="width: 160px"><a href="http://parapemikir.com/irfan"><img class="size-thumbnail wp-image-53" title="irfan" src="http://parapemikir.com/wp-content/uploads/2009/04/irfan-150x150.jpg" alt="tasawuf" width="150" height="150" /></a><p class="wp-caption-text">tasawuf</p></div>
<p style="text-align:justify;">Tidak seperti disiplin <a href="http://parapemikir.com/ilmu">ilmu</a> lainnya  seperti <a href="http://parapemikir.com/ilmu">ilmu</a> fiqih, <a href="http://parapemikir.com/ilmu">ilmu</a> hadist, <a href="http://parapemikir.com/ilmu">ilmu</a> tafsir alquran, <a href="http://parapemikir.com/ilmu">ilmu</a> teologi, <a href="http://parapemikir.com/ilmu">ilmu</a> <a href="http://parapemikir.com/filsafat">filsafat</a> dan lainnya, <a href="http://parapemikir.com/ilmu">ilmu</a> <em><a href="http://parapemikir.com/irfan">irfan</a></em> dianggap unik karena bisa dilihat dari dua sudut pandang, yaitu sudut pandang akademis dan sudut pandang sosial.</p>
<p style="text-align:justify;">Para ahli <em><a href="http://parapemikir.com/irfan">irfan</a></em>, jika dilihat dari sudut pandang akademis, mereka disebut <em><a href="http://parapemikir.com/irfan">urafa</a>, </em> dan jika dilihat dari sudut pandang sosial, mereka disebut <a href="http://parapemikir.com/irfan">sufi <em>(mutasawwifah)</em></a>.</p>
<p style="text-align:justify;"><em></em></p>
<p style="text-align:justify;"><em><a href="http://parapemikir.com/irfan">Urafa</a> </em>dan <a href="http://parapemikir.com/irfan">sufi</a> tidak dipandang sebagai sekte yang terpisah didalam islam dan mereka sendiri mengakui perihal itu.</p>
<p style="text-align:justify;"><span id="more-52"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Mereka bisa ditemui hampir disetiap sekte dan mazhab islam, tetapi pada saat tertentu mereka juga bisa bersatu membentuk kelompok sosial yang berbeda satu sama lain.</p>
<p style="text-align:justify;">Kelompok-kelompok sosial yang mereka bentuk sering menyita perhatian banyak  orang-orang disekitarnya. Mereka sering mengasingkan diri dan atau diasingkan dari kelompok masyarakat islam lainnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Faktor-faktor  yang mengasingkan mereka dari kelompok masyarakat islam lainnya diantaranya karena serangkaian gagasan dan pendapat mereka yang sering dianggap aneh dan berbeda, seperti aturan khusus yang menentukan pergaulan sosial mereka, pakaian dan kadang-kadang cara mereka menata rambut dan jenggotnya serta tempat tinggal bersama mereka seperti pasantren-pasantren khusus dan lain sebagainya.</p>
<p style="text-align:justify;">Saya sebutkan demikian, bukan berarti secara serta merta semua penganut faham atau aliran <em><a href="http://parapemikir.com/irfan">irfan</a></em> menunjukkan tanda-tanda lahiriah seperti itu untuk membedakan mereka dengan masyarakat umum lainnya, banyak juga diantara mereka yang tidak ikut-ikutan  mengikuti pola berpakaian dan tampilan lahiriah dengan aturan-aturan khusus yang sedemikian itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Namun demikian, walaupun diantara mereka ada yang berpakaian dan berpenampilan sebagaimana layaknya masyarakat umum lainnya, tapi pada saat-saat tertentu mereka semua bisa saja secara bersama-sama  dalam metodelogi <em>irfan</em>/tasawuf <em>(sayr wa suluk).</em> Saya lebih condong untuk mengatakan bahwa golongan yang terakhir inilah yang disebut dengan <a href="http://parapemikir.com/irfan">sufi</a>, bukan kelompok yang mengada-ada dengan pakaian dan jenggotnya supaya kelihatan <a href="http://parapemikir.com/irfan">sufi</a> <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p style="text-align:justify;">Sebagaimana yang telah kita ketahui sebelumnya, bahwa <em><a href="http://parapemikir.com/irfan">irfan</a></em>/<a href="http://parapemikir.com/irfan">tasawuf</a> bisa dilihat dari dua sudut pandang yaitu sudut pandang sosial dan sudut pandang akademis. Kita akan kesulitan membicarakan <em><a href="http://parapemikir.com/irfan">irfan</a></em> dari sudut sosial karena kita harus meneliti terlalu banyak mazhab/sekte-sekte dengan corak dan kebiasaan mereka yang satu sama lain sering sangat berbeda.</p>
<p style="text-align:justify;">Saat ini yang mungkin dan yang mudah untuk kita telaah adalah melihat <em><a href="http://parapemikir.com/irfan">irfan</a></em> sebagai disiplin ilmu secara akademis. Dilihat dari sudut pandang <a href="http://parapemikir.com/filsafat">akademis</a>, sebagai mana <a href="http://parapemikir.com/ilmu">ilmu</a> pengetahuan dan <a href="http://parapemikir.com/ilmu">ilmu</a> akademis lainnya, maka <a href="http://parapemikir.com/ilmu">ilmu</a> <em><a href="http://parapemikir.com/irfan">irfan</a></em>-pun bisa dibagi menjadi dua cabang/aspek, yaitu aspek teori dan aspek praktik.</p>
<p style="text-align:justify;">Dari aspek praktik <em><a href="http://parapemikir.com/irfan">irfan</a></em> menjelaskan dan menguraikan hubungan dan tanggung jawab yang diemban manusia kepada dirinya sendiri, kepada alam semesta dan kepada Allah.</p>
<p style="text-align:justify;">Kalau seperti itu terlihat pengertian <em><a href="http://parapemikir.com/irfan">irfan</a></em> sama saja dengan pengertian akhlak (etika) , dan  keduanya memang merupakan <a href="http://parapemikir.com/ilmu">ilmu</a> praktik. Namun demikian, walaupun dari sudut pengertian antara <em><a href="http://parapemikir.com/irfan">irfan</a></em> dan akhlak lebih kurang sama saja, tapi dalam &#8216;aturan main&#8217;  dan fokusnya terdapat beberapa perbedaan diantara keduanya. Bagaimana aturan main dan apa saja yang khas dari <em><a href="http://parapemikir.com/irfan">irfan</a></em> ini nanti akan kita bahas pada artikel berikutnya yang kita beri judul &#8216;Mengenal <em>Irfan</em>&#8220;.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/parapemikir.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/parapemikir.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/parapemikir.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/parapemikir.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/parapemikir.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/parapemikir.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/parapemikir.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/parapemikir.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/parapemikir.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/parapemikir.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/parapemikir.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/parapemikir.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/parapemikir.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/parapemikir.wordpress.com/52/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=parapemikir.wordpress.com&#038;blog=8959315&#038;post=52&#038;subd=parapemikir&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://parapemikir.wordpress.com/2009/04/16/irfan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/937a324ba87642b2af63ec361902dc3b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">aksesb01</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://parapemikir.com/wp-content/uploads/2009/04/irfan-150x150.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">irfan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Menghilangkan aku menghadirkan Tuhan</title>
		<link>http://parapemikir.wordpress.com/2008/09/26/menghilangkan-aku/</link>
		<comments>http://parapemikir.wordpress.com/2008/09/26/menghilangkan-aku/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 26 Sep 2008 12:54:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aksesb01</dc:creator>
				<category><![CDATA[IRFAN]]></category>
		<category><![CDATA[Mailing List Parapemikir]]></category>
		<category><![CDATA[antropomorfisme]]></category>
		<category><![CDATA[Menghilangkan aku menghadirkan Tuhan]]></category>
		<category><![CDATA[skularisme]]></category>
		<category><![CDATA[teomorfisme]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://parapemikir.com/?p=199</guid>
		<description><![CDATA[In parapemikir@ yahoogroups. com, Ahmad Samantho &#60;ay_samantho@ &#8230;&#62; wrote: Dalam kehidupan modern, sering dibedakan antara kebenaran Tuhan dengan kebenaran manusia. Sehingga teologi harus diturunkan pada level kemanusiaan (antropomorfisme). Ketuhanan baru berarti, jika mampu menyelesaikan dan berangkat dari paradigma kemanusiaan. Sampai-sampai sekularisme mensyaratkan &#8220;hilangnya Tuhan&#8221; demi kemajuan dunia. Kita tentu bertanya, bagaimana bisa ciptaan terbebas dari [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=parapemikir.wordpress.com&#038;blog=8959315&#038;post=199&#038;subd=parapemikir&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>In parapemikir@ yahoogroups. com, Ahmad Samantho</p>
<p>&lt;ay_samantho@ &#8230;&gt;</p>
<p>wrote:</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam kehidupan modern, sering dibedakan antara kebenaran Tuhan dengan kebenaran manusia. Sehingga teologi harus diturunkan pada level kemanusiaan (antropomorfisme). Ketuhanan baru berarti, jika mampu menyelesaikan dan berangkat dari paradigma kemanusiaan. Sampai-sampai sekularisme mensyaratkan &#8220;hilangnya Tuhan&#8221; demi kemajuan dunia.</p>
<p style="text-align:justify;">Kita tentu bertanya, bagaimana bisa ciptaan terbebas dari pencipta? Bisa kata Newton, sebab alam seperti jam yang memiliki mesin sendiri. Jadi, setelah Tuhan mencipta &#8220;jam&#8221; itu, maka Dia dianggap nganggur. Manusia dengan akalnya telah mampu melihat dan bahkan menguasai mesin (hukum alam) yang membuat jam berdetak. Maka dimana lagi tersedia ruang bagi Tuhan?</p>
<p style="text-align:justify;">Adalah Muhammad Bagir MA, dosen filsafat dan tasawuf pada Islamic College for Advanced Studies (ICAS) Jakarta, yang menjadi salah satu garda depan, dari pihak yang mengritik paradigma ini. Melalui filsafat perenial, sebuah disiplin keilmuan yang menggabungkan antara rasionalitas filosofis dengan dimensi irfani dari tasawuf, ia mencoba mengklarifikasi salah paham akal modern, yang menciptakan degradasi makna berpikir, dari intelek (akal batin), kepada reason (rasio). Baginya, pemisahan antara akal dan jiwa inilah yang membuat manusia modern, menjadi tuhan-tuhan kecil diatas bumi, yang sayangnya tak mampu melepaskan diri dari jerat samsara (kesengsaraan), akibat kedunguan spiritualitas, dan arogansi egoisme. Meminjam Lukacs, manusia modern tengah mengalami transcendental homelessness : hilangnya hubungan harmonis dan keterkaitan batiniyah dengan dunia. Orang tidak lagi menemukan makna dan tujuan hidup, justru ketika berbagai alat kemanusiaan telah dikuasai. Berikut ini wawancara Cahaya Sufi dengan dosen kelahiran Singapura dan lulusan Universitas Qum Teheran tersebut.<span id="more-199"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Menurut Mas Bagir, bagaimana tasawuf bisa menjelaskan, bahwa ketika berada di jalan Tuhan, maka kita bisa menyelesaikan masalah dunia (kemanusiaan)?</p>
<p style="text-align:justify;">Kita lihat dalam Kristen dulu ya. Dalam Kristen, the word (kalimat) itu mendaging, meat, flesh. Antropomorfisme. Maknanya, Tuhan turun dalam form manusia. Ketika Tuhan turun dalam form manusia, sepertinya Tuhan merasakan kesengsaraan manusia. Dia mau menunjukkan, bahwa Aku dalam form manusia bisa menyelamatkan kalian dari kesengsaraan. Tuhan berkata, bahwa ketika manusia terhubung dengan Aku, mereka bisa selamat, salvation. Sementara dalam Islam kan teo-morfisme, bukan antropomorfisme. Tuhan tidak &#8220;mendaging&#8221; dalam manusia, tetapi manusia melangit. Jadi teo-morfisme merupakan tajalli Tuhan. Perbedaannya ada tapi tidak mencari mana yang benar mana yang salah. Disini manusia jadi tajalli-nya Tuhan. Berarti manusia jadi refleksi. Dan ketika manusia menjadi tajalli Tuhan, dirinya sendiri sudah tidak ada lagi. Jadi dalam Islam, manusia bisa menghilangkan individualisme untuk mencapai pada the divine (ketuhanan).</p>
<p style="text-align:justify;">Apa kaitannya dengan individualisme?</p>
<p style="text-align:justify;">Semua suffering, masalah dunia di hidup kita kan karena individualitas kita. Karena kita mengakui &#8220;aku&#8221;, dalam Buddhism kan gitu juga. Kalau aku-nya hilang, ya nggak akan ada masalah. Misalnya kalau kita bawa dalam preposisi: ada subjek ada predikat. Predikat bisa gembira, sedih, aku sedih, aku gembira, aku stress. Coba kalau subjek (aku) -nya hilang, nggak ada apa-apa lagi kan? Kita boleh saja sedih, sakit, tetapi karena &#8220;aku&#8221; tak ada, maka tak ada yang merasakan segala kesakitan itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Nah disini bedanya ilmu akhlak dan metafisik. Misalnya, akhlak takabur. Dalam ilmu akhlak dijelaskan, definisi takabur itu apa, efek yang akan merusak jiwa kita gimana? Jadi kita harus gantikan pada predikat yang positif. Disini ilmu akhlak lebih konsentrasi pada predikat. Tapi selagi ada subjek, tetap ada predikat kan? Sementara irfan dan tasawuf konsentrasi pada subjek. Hilangkan subjek dong. Ketika subjek hilang, Subjek dengan &#8220;S&#8221; besar muncul. Aku (Ana) yang besar, maka predikat-predikatnya muncul kan, Asmaul husna. Itu namanya tajalli. Dengan cara itu manusia selamat dari segala kesengsaraan dalam kehidupan individualisnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Bagaimana cara untuk menghilangkan &#8220;aku&#8221;?</p>
<p style="text-align:justify;">Harus ada ilmu. Ilmu yang selama ini kita pelajari ada dua macam. Ada accumulatif knowledge, ada yang annihilatif knowledge. Accumulatif itu kan akumulasi. Kita semakin banyak mencari ilmu. Ketika terjadi akumulasi, maka harus ada subjek, dan subjek ini mengakumulasi knowledge. Aku &#8216;alim, aku mengetahui, aku lebih pintar. Tetapi annihilation, nihilasi (fana&#8217;), ilmu yang menghilangkan subjek. Misalnya, laa ilaahaillallah, tiada Tuhan selain Allah. Kenapa? Karena Dia mutlak. Sesuatu yang mutlak, jelas tidak terbatas. Sesuatu yang tidak terbatas, tidak mengizinkan dua realitas. Ketika dia terbatas, pasti ada yang lain. Jadi konsep tauhid juga berkata seperti itu. Tidak ada realitas, selain Dia menghilang semuanya. Kalau hilang subjek ya sudah. Kita akan melihat seluruh alam ini dengan kaca mata Dia, bukan kaca mata individualis lagi. Jadi kalau ada masalah, kita kan sering lari darinya, dan masuk masalah lain. Yang harus kita lakukan seharusnya beyond, melampaui. Apa yang bisa bawa kita keluar dari masalah.</p>
<p style="text-align:justify;">Karena masyarakat modern kan, kalau ingin menyelesaikan masalah ekonomi ya dengan ekonomi, politik dengan politik, dsb. Nah kalau pendekatan spiritual, misalnya kalau kita menghadapi masalah politik, yang kita lakukan adalah &#8220;penghancuran kedalam&#8221; ya?</p>
<p style="text-align:justify;">Ya, karena kalau sudah hancur aku-nya, yang muncul kan tajalli-nya Allah. Contoh, Banyak teman-teman yang tanya sama saya, &#8220;Saya takut mau suluk&#8221;. Kenapa? &#8220;Kalau saya suluk, mungkin saya akan tinggalkan dunia ini&#8221;. Seorang istri akan bimbang kalau suaminya tinggalkan dia, tidak perdulikan nafkah, anak-anak.</p>
<p style="text-align:justify;">Seolah-olah Tuhan itu di barat, dan dunia di timur ya. Kalau ke barat ya harus ninggalin timur?</p>
<p style="text-align:justify;">Makanya saya terus bilang, &#8220;Bu, kalau orang suluk, dia akan hilang egonya, individualnya, ananiyah-nya. Yang akan tajalli itu Tuhan. Ketika Tuhan tajalli, Tuhan al-&#8217;alim, Tuhan al-raziq, Tuhan arrahman. Lalu ibu akan berinteraksi dengan siapa? Jadi suami ibu nggak ada, yang ada hanya Yang Pengasih dan Penyayang. Pasti dia al-raziq. Ketika dia kerja, kasih uang, dia sebagai al-raziq, bukan sebagai manusia yang memberi nafkah pada isteri. Nah banyak orang melupakan hal ini. Ketika manusia menyatu dengan Tuhan, orang pikir kalau kita mau suluk, kita akan tinggalkan semuanya. Padahal dalam al-Qur&#8217;an Allah itu kan wahuwa ma&#8217;akum, Dia bersama dengan kalian, ainamaa kuntum, dimana saja kalian berada. Jadi kalau kita menjadi manifestasi Tuhan, kita bukan hanya dengan keluarga, kita bersama dengan semua manusia, pohon, alam, dsb. Contoh. Nabi Muhammad saw. sampai sekarang hadir bersama kita. Nabi Muhammad saw. bukan keberadaan temporal. Sampai sekarang ia bersama kita. Assalamu&#8217;alaika ayyuhan Nabi. Jadi bukan terputus dari kehidupan, justru semakin terkait dengan kehidupan.</p>
<p style="text-align:justify;">Nah, ada juga problem Mas. Masyarakat kan sering memisahkan akal dengan hati. Artinya, mungkin bisa dijelaskan perbedaan fungsional antara reason (rasio) dengan intelek (qalbu)?</p>
<p style="text-align:justify;">Kalau reason, kan berada di wilayah ilmu hushuli, konseptual. Padahal ilmu konseptual sebenarnya produksi manusia sendiri. Tapi kalau intelek itu ilmu hudhuri, dimana subjek dan objek tidak terpisah. Antara yang mengetahui dan yang diketahui tidak pernah terpisah. Dia menyatu. Seperti, saya sadar dengan diri saya sendiri. Aku tahu aku. Aku subjek, aku juga objek kan. Demikian juga, aku lapar. Lapar itu satu objek pengetahuan, kita tahu. Subjek ilmu, saya kan. Tapi lapar bukan berada diluar saya, tetapi didalam diri saya sendiri. Bukan identitas saya juga, tetapi sebagian dari aspek saya.</p>
<p style="text-align:justify;">Kalau Maulana Rumi menceritakan perbedaan itu. Diceritakan ada kompetisi melukis, menggambar taman bunga. Satu group minta kanvas, kuas, dan cat yang paling bagus. Sementara group lain hanya minta cermin. Setelah jadi dilihat, oh ini lukisannya bagus, lukisan di kanvas, persis seperti taman, tapi cuma satu dimensi saja. Sementara cermin kan refleksi, oh ini persis sekali. Nah, kalau filsuf itu melukis realitas, dengan konsep, ide dan pemahamannya. Kalau seorang &#8216;arif, realitas dimasukkan dalam hatinya, cermin itu qalbu-nya. Realitasnya ada didalam cermin, jadi tidak terpisah dari dia. Makanya dalam hadist, &#8220;Bumi tidak bisa menempatkan Aku, langit juga tidak bisa, kecuali qalbu mu&#8217;min&#8221;. Nah dimana kita menempatkan Tuhan yang tidak terbatas? Dengan merefleksikan Dia tentunya.</p>
<p style="text-align:justify;">Cermin itu didalam manusia?</p>
<p style="text-align:justify;">Qalbu itu cermin. Allah ada disitu. Qalbu kan divine, bukan human. Gimana qalbu bisa menempatkan Tuhan yang tidak terbatas, kecuali kalau qalbu itu sendiri adalah Tuhan. Man &#8216;arafa nafsahu faqad &#8216;arafa Rabbahu, maksudnya ya Tuhan yang mengenal diri-Nya sendiri. Nggak mungkin manusia kenal Tuhan. Jadi Tuhan itu mengenal diri-Nya sendiri.</p>
<p style="text-align:justify;">Intelek seperti itu. Kalau ilmu hushuli kan konsep, melukis realitas. Kalau ilmu hudhuri, kita masukkan realitas dalam hati. Kalau kita melihat politik dengan kaca mata Tuhan gimana? Nabi melihat politik dengan kaca mata Tuhan gimana? Jadi Nabi setiap ada permasalahan selalu bertanya kepada Allah, itu bahasa teologisnya. Tetapi sebenarnya, Aku adalah Dia. Jadi bukan politik humanis lagi, tapi politik divine. Disini filsafat perennial, tasawuf, atau irfan, mau menghidupkan divinity (ketuhanan) dalam diri manusia. Ketika Tuhan hadir, kan alaa bi dzikrillahi tathmainnul qulub. Salah satu nama Tuhanpun al-Mu&#8217;min, Yang Memberi Keamanan. Jadi ketika Dia hadir, Dia akan memberi keamanan pada semunya. Khan ada hadist, al-mu&#8217;min miratul mu&#8217;min (mukmin adalah cermin bagi mukmin). Disini yang bercermin bukan antara dua manusia mukmin, tetapi antara mukmin manusia dengan al-Mukmin (Tuhan).</p>
<p style="text-align:justify;">Di Paramadina saya pernah ditanya, &#8220;Tuhan dengan manusia kan beda?&#8221; Saya jelaskan, dalam al-Qur&#8217;an ada ayat tentang Nabi Muhammad, innama ana basyarun mistlukum (Sesungguhnya aku adalah manusia seperti kalian). Saya bertanya pada Bapak itu, &#8220;Pak, disini jelas bahwa Muhammad itu seperti manusia, seperti kalian, mistlukum. Seperti, jadi sebenarnya bukan persis manusia. Lalu kalau begitu, Muhammad itu apa?&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">Maksudnya?</p>
<p style="text-align:justify;">Tuhan mau menyelamatkan manusia di bumi ini. Tetapi kalau Tuhan menurunkan manusia, sama kan, kualitas, kharakter. Jadi nggak bakal selamat. Maka yang harus membimbing manusia itu harus Aku, kata Tuhan. Makanya Aku akan jadikan manusia, khalifah: cermin Aku sendiri. Jadi Tuhan, mau membimbing manusia tanpa meninggalkan langit, caranya bagaimana? Bahasa simbolisnya kan. Kalau Tuhan turun, langit kosong dong. Khan di al-Qur&#8217;an, fi al-samaai Ilaahun fi al-ardli Ilaahun (di langit Tuhan, di bumi Tuhan). Satu cara untuk Tuhan turun ke bumi, tanpa meninggalkan langit itu, taruh cermin dibawah, namanya khalifatullah. Dia sendiri yang datang. Al-Haadi, Yang Memberi Petunjuk.</p>
<p style="text-align:justify;">Cara atau metodologi dalam kedua ilmu yang berbeda itu seperti apa Mas? Al-Ghazali berkata, bahwa pencarian kebenaran tidak hanya melalui rasio, tetapi juga eksperimental ruhaniyah. Apakah seperti itu?</p>
<p style="text-align:justify;">Mereka yang belum menyadari kehadiran intelek, paling tidak memiliki panca indera, dan rasio. Indera kita gunakan untuk melihat, afalaa tadabbarun, kamu lihat langit dan bumi, dan kamu kontemplasi. Rasio untuk berpikir. Sementara proses pemikiran kan berada dibawah bimbingan wahyu, dari Dia juga. Jadi tidak terputus dari Tuhan. Nah kita gunakan semua ini, untuk diarahkan pada kesadaran intelektus tadi. Ada beberapa langkah yang harus kita lakukan.</p>
<p style="text-align:justify;">Pertama, kita harus menempatkan diri kita dalam ruang agama. Tidak mungkin diluar agama. Sekarang di Barat ada yang nggak pakai agama, spiritual universal. Kata mereka, kalau sudah terikat oleh agama, maka tidak universal lagi. Padahal kalau kita terikat pada satu agama, kita makin universal. Karena tidak mungkin ada universal tanpa partikular. Contoh. Orang bilang kalau sudah ada batin, nggak butuh dhahir lagi. Bisa nggak saya bilang, saya kenal atas, tapi bawah saya nggak tahu? Nggak bisa kan. Kenal atas karena kenal bawah. Dhahir itu ada, karena ada batin kan, demikian sebaliknya. Nah, dalam agama ada jalan esoteris, jalan yang menghubungan manusia dengan al-Haq. Manusia harus ikut jalan itu. Itu syarat yang berada diluar diri manusia.</p>
<p style="text-align:justify;">Kedua, cara yang ada dalam diri manusia. Yakni himmah (aspirasi yang tinggi). Kata Syeh Ahmad Mustafa al-Alawy, dalam buku Sufi Abad ke-20 (Mizan), syarat minimal jika manusia ingin menuju Tuhan adalah himmah, aspirasi yang tinggi untuk mendekatkan diri pada-Nya. Misal, dalam satu tempat yang gelap, maka satu lubang cahaya yang dikit saja, itu sudah cukup. Kalau nggak ada lubang, semua tertutup, kita nggak bisa melampaui ruang yang gelap.</p>
<p style="text-align:justify;">Kata hadist Qudsy, &#8220;Jika hamba-Ku mendekati-Ku sejengkal, maka Aku akan mendekatinya sehasta&#8221;.</p>
<p style="text-align:justify;">Ya. Ketika ada aspirasi baru ada respon, Jadi adzkuruunii adzkurukum, jika kau mengingat Aku, maka Aku pun mengingatmu. Setelah himmah, maka harus ada iman. Iman kepada agama. Agama terbentuk dari wahyu, dan wahyu sebenarnya manifestasi dari Dia, jadi iman kepada Dia sebenarnya. Ini yang subjektif, himmah dan iman. Sementara yang objektif tadi, agama dan jalan dalam agama. Seorang sufi berkata, &#8220;Dari Tuhan kepada manusia ada jalannya. Tapi dari manusia ke Tuhan, nggak ada jalannya&#8221;. Jadi kalau ada orang tenggelam, yang melempar tali itu siapa? Orang yang dikapal atau yang tenggelam? Jadi jalan dari kapal ke laut ada, tapi kalau sebaliknya tidak ada. Oleh karena itu syariat dari Tuhan, bukan manusia yang membuat syariat. Jalan thariqah pun harus dari Tuhan. Karena kita kan berada di luar, mau kedalam. Apa kita buat jalan sendiri? Nggak mungkin. Itu yang saya maksudkan, agama harus ada &#8220;jalan kedalam&#8221;, dari batin agama itu sendiri.</p>
<p style="text-align:justify;">=======================</p>
<p style="text-align:justify;">&gt; &gt; Nidlol Masyhud &lt;nidlol@&#8230;. com&gt; wrote:</p>
<p style="text-align:justify;">Pertanyaan serius untuk para pendukung filsafat perenial aliran wihdatul wujud, ittihad, dan wujud mutlak seperti Pak Bagir ini,serta aliran-aliran seperguruan lainnya yang sama-sama parakonsisten:</p>
<p style="text-align:justify;">Ketika aku dihilangkan, apa logikanya sehingga aku itu digantikan oleh &#8220;Aku&#8221;? Mengapa yang menggantikannya bukan &#8220;syetan&#8221; atau &#8220;tetangga&#8221;? Segini dulu..</p>
<p style="text-align:justify;">Salam,</p>
<p style="text-align:justify;">Nidlol.</p>
<p style="text-align:justify;">========================</p>
<p style="text-align:justify;"> &#8212; On Tue, 9/16/08, Johnson Derry &lt;steffan74derry@ &#8230;&gt; wrote:</p>
<p style="text-align:justify;">From: Johnson Derry &lt;steffan74derry@ &#8230;&gt;</p>
<p style="text-align:justify;">Subject: Re: [parapemikir] Re: Menghilangkan Aku : Menghadirkan Tuhan</p>
<p style="text-align:justify;">To: parapemikir@ yahoogroups. com</p>
<p style="text-align:justify;">Date: Tuesday, September 16, 2008, 1:33 AM</p>
<p style="text-align:justify;"> </p>
<p style="text-align:justify;">Dear all,</p>
<p style="text-align:justify;">Mistikus dan spiritualis tak gampang dibedah oleh filsuf. Yang disebut terakhir akan paham jika ia mengalami pengalaman kedua yang disebut pertama.</p>
<p style="text-align:justify;"> </p>
<p style="text-align:justify;">Salam dan Hormat,</p>
<p style="text-align:justify;"> </p>
<p style="text-align:justify;">Johnson</p>
<p style="text-align:justify;"> </p>
<p style="text-align:justify;">========================</p>
<p style="text-align:justify;"> </p>
<p style="text-align:justify;"> </p>
<p style="text-align:justify;">&#8212; In parapemikir@ yahoogroups. com, Ahmad Samantho &lt;ay_samantho@ &#8230;&gt;</p>
<p style="text-align:justify;"> </p>
<p style="text-align:justify;">wrote:</p>
<p style="text-align:justify;"> </p>
<p style="text-align:justify;">Akhi Nidhol, Anda belum paham apa yang dipahami ustadz Muhammad Bagir.  Apakah setan itu secara hakiki benar-benar &#8220;Ada&#8221; (Eksis)? Bukankah tiada Yang Ada selain Tuhan Allah. &#8220;Kemana pun kamu hadapkan wajahmu, maka yang akan terlihat hanyalah wajah Allah.&#8221; (terj. Al Qur&#8217;an), &#8220;Semua selain-Nya adalah fana, yang baqo (Abadi) hanyalah Wajah Tuhan Rabb-mu Dzul Jalali wal Ikrom&#8230;&#8221; (Terjm. Al-Qur&#8217;an).</p>
<p style="text-align:justify;"> </p>
<p style="text-align:justify;">Kalau Antum belum kenal siapa hakikat diri Antum sendiri, maka Antum tak akan kenal Siapa Tuhanmu (&#8220;Man arofa nafsahu fa qad arofa Rabbahu.&#8221;).</p>
<p style="text-align:justify;">Semua di sisa umur Antum, Antum akan dapat menemukan kembali jalan pulang ke asalmu (dan asal kita semua: Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun).</p>
<p style="text-align:justify;"> </p>
<p style="text-align:justify;">============================</p>
<p style="text-align:justify;"> </p>
<p style="text-align:justify;">&#8212; On Tue, 9/16/08, Nidlol Masyhud &lt;nidlol@&#8230;&gt; wrote:</p>
<p style="text-align:justify;">From: Nidlol Masyhud &lt;nidlol@&#8230;&gt;</p>
<p style="text-align:justify;">Subject: [parapemikir] Re: Menghilangkan Aku : Menghadirkan Tuhan</p>
<p style="text-align:justify;">To: parapemikir@yahoogroups.com</p>
<p style="text-align:justify;">Date: Tuesday, September 16, 2008, 9:39 PM</p>
<p style="text-align:justify;"> </p>
<p style="text-align:justify;">Pak Ahmad,</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan logika itu, yang disebut sebagai Ustadz Muhammad Bagir itu juga tidak benar-benar ada.. Yang disebut milis &#8216;parapemikir&#8217; itu juga sebenarnya tidak ada.. Moderatornya yang disebut Mas Iman Alexander itu juga tidak ada.. Saya dan Anda juga tidak ada.. Pokoknya semua selain Tuhan itu tidak ada.</p>
<p style="text-align:justify;"> </p>
<p style="text-align:justify;">Sesuatu yang tidak ada, kok bisa ya berkata2..</p>
<p style="text-align:justify;">Sesuatu yang tidak ada, apa gunanya dikenali?</p>
<p style="text-align:justify;">Statemen &#8220;man &#8216;arofa nafsahu, &#8216;arofa rabbahu&#8221; dalam logika wihdatul</p>
<p style="text-align:justify;">wujud ini, akan otomatis berubah menjadi:</p>
<p style="text-align:justify;"> </p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;man &#8216;arofa laa syai&#8217; fa qod arofa rabballaa syai&#8217;&#8221; (&#8220;siapa yang telahmengenal nothing, berarti telah mengenal tuhannya nothing&#8221;).</p>
<p style="text-align:justify;"> </p>
<p style="text-align:justify;">Sebuah statemen yang sangat absurd, tidak masuk akal, tidak masuk jiwa, tidak masuk hati, dan tidak diajarkan oleh Rasulullah saw.</p>
<p style="text-align:justify;"> </p>
<p style="text-align:justify;">BTW, tejemahan yang betul untuk ayat di Al-Baqorah tersebut adalah:</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Kemanapun engkau menghadap, maka di situlah kiblat Allah&#8221; (versi penafsiran Imam Asy-Syafi&#8217;i dll)</p>
<p style="text-align:justify;"> </p>
<p style="text-align:justify;">atau:</p>
<p style="text-align:justify;"> </p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Kemanapun engkau menghadap, maka di arah itulah wajah Allah&#8221; (versi penafsiran Imam Ath-Thabari dll)</p>
<p style="text-align:justify;"> </p>
<p style="text-align:justify;">Sedangkan versi penafsiran yang Bapak sebutkan, saya belum menjumpai imam otoritatifnya.</p>
<p style="text-align:justify;"> </p>
<p style="text-align:justify;">=======================</p>
<p style="text-align:justify;"> </p>
<p style="text-align:justify;">&#8212; In parapemikir@yahoogroups.com, Ahmad Samantho &lt;ay_samantho@&#8230;&gt;</p>
<p style="text-align:justify;">wrote:</p>
<p style="text-align:justify;"> </p>
<p style="text-align:justify;">Assalamu&#8217;alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh,</p>
<p style="text-align:justify;"> </p>
<p style="text-align:justify;">Akhi Nidhol Mashyud, Ana memahami kenapa Antum masih punya pemahamanseperti itu, yang belum sepaham dengan Ustadz Muhammad Bagir.  Karena Antum alumni universitas Al-Azhar Mesir, maka disiplin ilmu keislaman yang Antum kuasai dan pahami mungkin dominan paham fiqhiyahnya atau kalam (teologi), dibanding falsafah atau tasawuf (irfan/islamic mysticism).</p>
<p style="text-align:justify;"> </p>
<p style="text-align:justify;">Pengertian &#8220;Ada&#8221; yang saya pakai Antum juga masih salah paham.Baiklah ijinkanlah saya menjelaskannya, semoga Antum mendapat hidayah Allah untuk dapat memahaminya.</p>
<p style="text-align:justify;"> </p>
<p style="text-align:justify;">Tuhan Allah, menurut para hukama wal arifin (filosof dan para sufi,seperti Ibnu A&#8217;rabi, Jalaluddin Rumi, dan Mulla Sadra), adalah Wajibal-Wujud (Wujud Mutlak= &#8220;Ada Mutlak&#8221; = &#8220;Absolute Existence&#8221;), Yang keber-ADA-an-Nya, tidak disebabkan oleh eksistensi (ada-ada) yang lain.  Dia &#8216;Ada&#8217; dengan sendirinya, Huwal awwalu wa alakhiru, dzahiru wal batinu,</p>
<p style="text-align:justify;"> </p>
<p style="text-align:justify;">Sedangkan yang selain Allah adalah makhluk ciptaan Allah, yang keberadaannya tidaklah mutlak (mumkin al wujud), karena keberadaannya hanyalah mungkin bisa ada karena disebabkan oleh &#8216;ADA&#8217; yang Mutlak (Absolute Existence), yaitu Allah SWT. Maka secara hakiki (Haqiqat) yang sebenarnya ADA (EXISTENCE) itu hanyalah Allah SWT saja. Yang lainnya hanya bisa ada atau mungkin ada kalau Tuhan Allah SWT menciptakannya dan mengadakannya. Silahkan kaji ayat-ayat al-Qur&#8217;an lebih banyak dan lebih mendalam, dengan menggunakan kacamata (epistemologi dan ontologi) yang lebih besar dan lebih jernih dan fokus ketika menerawang hal-hal yang detil dan lebih complex.</p>
<p style="text-align:justify;"> </p>
<p style="text-align:justify;">Bahkan keberdaan Antum dengan segala kondisinya saat ini, itupun tak lepas dari Causa Prima: Wajib al Wujud (Allah SWT), dan Antum, sebagaimana saya dan semua keberadaan lainnya, hanyalah tajaliyat (manifestasi dan refleksi/cerminan) dari Wajib al Wujud (Tuhan Allah SWT). Inilah yang dimaksud dengan &#8220;Wahdatul Wujud&#8221;. Alam semesta, kata ustadz Quraisy Shibab, Ahli tafsir Qur&#8217;an, hanyalah merupaka alamat atau tanda-tanda (addres) yang akan menyingkap dan menujukkan Realitas Al-Alim, Tuhan Yang Maha Mengetahui, Maha ber-Ilmu. Antum kan sudah tahu term Alam, Ilmu dan Alamat, masdarnya sama, yang terdiri dari huruf Alif, Lam, Mim.</p>
<p style="text-align:justify;"> </p>
<p style="text-align:justify;">Inilah pemahaman Tauhidi dari para Hukama wal &#8216;Arifin, terhadap asas pokok Islam dan asas pokok alam semesta: Wahdatul Wujud / Wihdatul Wujud atau &#8220;Ketuhanan Yang Maha Esa&#8221; (dalam bahasa Pancasila). konsekuensinya selain daripada Allah, hanyalah merupakan mumkinul wujud (contingent existence/contingent being) yang tergantung keberadaannya hanya pada Allah SWT. Kalau Allah yang berhekendak mengadakannya, maka ia tidak ada. Dari Wujud Yang Wahid / Ahad diciptakan keberadaan makhluk-makhluk dan alam semesta, yang beragam jenis, bentuk dan manifestasinya (pluralitas berasal dari unitas dan akan kembali kepada Yang Esa. Inilah makna &#8220;Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun.&#8221; Inilah makna &#8220;Bhineka Tunggal Ika&#8221;. Realitas yang beraneka ragam (plural)  yang tak terhitung jumlah species dan genus</p>
<p style="text-align:justify;">(jenisnya), namun semuanya merefleksikan suatu REALITAS TUNGGAL (Wahdah al-Wujud): yaitu Allah SWT. </p>
<p style="text-align:justify;"> </p>
<p style="text-align:justify;">Sementara sampai sini dulu diskusinya, insya-Allah, kalau Antum berkenan dan Allah SWT mengijinkan, kita lanjutkan diskusi dan proses pembelajaran kita ya Akhina, yang sama- sama merindukan Tuhan Allah.</p>
<p style="text-align:justify;"> </p>
<p style="text-align:justify;">Wallahu &#8216;Alam bi Shawab,</p>
<p style="text-align:justify;"> </p>
<p style="text-align:justify;">Akhuka al-faqir fillah: Ahmad Samantho</p>
<p style="text-align:justify;"> </p>
<p style="text-align:justify;">===================================</p>
<p style="text-align:justify;"> </p>
<p style="text-align:justify;"><strong>To:</strong> <a title="parapemikir@yahoogroups.com" href="mailto:parapemikir@yahoogroups.com">parapemikir@yahoogroups.com</a></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Sent:</strong> Wednesday, September 17, 2008 9:12 PM</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Subject:</strong> [parapemikir] Re: Menghilangkan Aku : Menghadirkan Tuhan</p>
<p style="text-align:justify;"> </p>
<p style="text-align:justify;"> </p>
<p style="text-align:justify;">Pak Ahmad yth,</p>
<p style="text-align:justify;"> </p>
<p style="text-align:justify;">Saya menghargai niat, usaha, dan semangat Antum untuk membela aqidah</p>
<p style="text-align:justify;">dan keyakinan yang memang antum anut.. apalagi Antum juga belum</p>
<p style="text-align:justify;">melihat ketidakcocokannya dengan akal sehat dan ajaran agama.</p>
<p style="text-align:justify;"> </p>
<p style="text-align:justify;">Tapi marilah kita telaah masalah ini secara lebih jernih dan terarah,</p>
<p style="text-align:justify;">serta detail dan obyektif. saya melihat, dalam komentar di bawah ini,</p>
<p style="text-align:justify;">Antum mencampurkan antara dua hal yang sama sekali berbeda.</p>
<p style="text-align:justify;"> </p>
<p style="text-align:justify;">Dalam paparan di bawah, Antum menmbawakan konsep dualitas &#8216;wajibul</p>
<p style="text-align:justify;">wujud&#8217; (entitas niscaya) dan &#8216;mumkinul wujud&#8217; (entitas kontigen) serta</p>
<p style="text-align:justify;">ketergantungan mumkinul wujud terhadap wajibul wujud. Saya heran, ini</p>
<p style="text-align:justify;">sama sekali bukan konsep khas aliran wahdatulk wujud. Ini justru</p>
<p style="text-align:justify;">adalah konsepnya para teolog mutakallimin dan para filsuf paripatetik.</p>
<p style="text-align:justify;">Ini adalah konsepnya Mu&#8217;tazilah, Jahmiyyah, Kullabiyyah, Asy&#8217;ariyyah,</p>
<p style="text-align:justify;">Karramiyyah, dan Salimiyyah. Serta (meskipn dalam format yang berbeda)</p>
<p style="text-align:justify;">juga merupakan konsepsinya Al-Faraby, Ibnu Sina, Ibnu Rusyd,</p>
<p style="text-align:justify;">Al-Abhury, dan Al-Urmuwy. Jadi sama sekali bukan konsep khas para</p>
<p style="text-align:justify;">penganjur wahdatul wujud dan pentheisme.</p>
<p style="text-align:justify;"> </p>
<p style="text-align:justify;">Antum juga perlu membedakan antara &#8216;wajibul wujud&#8217; dengan &#8216;al-wujud</p>
<p style="text-align:justify;">al-mutlak&#8217;. Yang pertama berarti &#8216;entitas niscaya&#8217; yag ada dengan</p>
<p style="text-align:justify;">sendirinya. Sedangkan yang kedua berarti &#8216;keberadaan&#8217; itu sendiri yang</p>
<p style="text-align:justify;">tidak mengandung atribut apapun selain atribut-atribut negasional dan</p>
<p style="text-align:justify;">atribut-atribut relasional. Baik Ibnu Sina cs maupun Ibu Arobi cs,</p>
<p style="text-align:justify;">Tuhan itu &#8220;al-wujud al-mutlak&#8221;. Tapi bagi Ibnu Sina cs, Tuhan itu</p>
<p style="text-align:justify;">wujud mutlak yang &#8220;bisyarthil ithlaq&#8221; (tak terspesifikasi). Sedangkan</p>
<p style="text-align:justify;">bagi Ibnu Arobi cs, Tuhan itu mujud mutlak yang &#8220;bighairi syarthil</p>
<p style="text-align:justify;">ithlak&#8221; (menspesifikasi). Bagi Ibnu Aroby, Spesifikai wujud mutlak ini</p>
<p style="text-align:justify;">merata pada semua entitas di alam (baik yang wajibul wujyud maupun</p>
<p style="text-align:justify;">yang mumkinul wujud), sehingga konsepnya pun disebut &#8220;al-ittihad</p>
<p style="text-align:justify;">al-&#8217;aam&#8221;. Sementara bagi Husein Al-Hallaj, spesifikasi ini terjadi</p>
<p style="text-align:justify;">secara personal pada pribadi-pribadi tertentu (termasuk dirinya),</p>
<p style="text-align:justify;">sehigga konsepnya pun disebut &#8220;al-huluul al-khaash&#8221;.</p>
<p style="text-align:justify;"> </p>
<p style="text-align:justify;">Jadi pagi aliran Wahdatul Wujud, Tuhan itu &#8216;properti&#8217;, dan bukan</p>
<p style="text-align:justify;">&#8216;entitas&#8217;. Tuhan itu bagi mereka adalah &#8216;wujud&#8217; dan bukannya &#8216;maujud&#8217;.</p>
<p style="text-align:justify;"> </p>
<p style="text-align:justify;">Lalu lebih dari itu, Ibnu Arobi juga menganggap bahwa entitas-entitas</p>
<p style="text-align:justify;">ini pada hakekatnya satu. Sehingga baginya, Nabi Ibrahim bukan</p>
<p style="text-align:justify;">bermimpi menyembelih putra beliau, Ismail (alaihimassalam), akan</p>
<p style="text-align:justify;">tetapi menyembelih dirinya sendiri. Dan baginya, Nabi Adam</p>
<p style="text-align:justify;">(alaihissalam) itu juga tidak menikahi Hawa yang merupakan orang lai,</p>
<p style="text-align:justify;">melainkan menikahi dirinya sendiri. Baginya, Fir&#8217;aun (la&#8217;natullaahi</p>
<p style="text-align:justify;">&#8216;alaih) itu bukan orang kafir, tapi orang mukmin yang sudah mencapai</p>
<p style="text-align:justify;">derajat hakekat.. sejajar atau bahkan lebih tinggi dari Musa</p>
<p style="text-align:justify;">(alaihissalam). Inilah konsepsi-konsepsi sejati wahdatul wujud,</p>
<p style="text-align:justify;">sebagaimana yang jelas tertera dalam buku-buku induk para penanjurnya,</p>
<p style="text-align:justify;">semisal bukunya Ibnu Arobi yang disebutnya &#8216;Fushushul Hikam&#8217; dan</p>
<p style="text-align:justify;">bukunya Sahruwardi yang disebutnya &#8216;Hikmatul Isyraq&#8217;..</p>
<p style="text-align:justify;"> </p>
<p style="text-align:justify;">Sehingga, dalam wahdatul wujud, tidak ada lagi dualitas &#8220;hamba&#8221; dan</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;tuhan&#8221;, apalagi &#8220;muslim&#8221; dan &#8220;kafir&#8221;. maka tidak heran, kalau</p>
<p style="text-align:justify;">mengawini keledai adalah sepadan dengan shalat di mushalla. Dalam</p>
<p style="text-align:justify;">konsepsi sophis ini, tidak ada lagi jeda antara &#8216;kausa&#8217; dan &#8216;efek&#8217;,</p>
<p style="text-align:justify;">apalagi antara &#8216;penurun hukum&#8217; dan &#8216;pelaksana hukum&#8217;. Apalagi kalau</p>
<p style="text-align:justify;">yang kita bincang adalah konsepsi wahdatul wujud ekstrim ala</p>
<p style="text-align:justify;">At-Tilmisani dan Ibnu Sab&#8217;in cs. Wah, malah lebih gak karu2qan..</p>
<p style="text-align:justify;"> </p>
<p style="text-align:justify;">Demikian. Kalau poin-poin ini jelas dan bisa dicerna, silakan</p>
<p style="text-align:justify;">dikomentari.. dan kita akan lanjutkan pada beberapa poin berikutnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Salam hangat,</p>
<p style="text-align:justify;">Nidhol Ms.</p>
<p>Bersambung dimailing list <a href="mailto:parapemikir@yahoogroups.com">parapemikir@yahoogroups.com</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/parapemikir.wordpress.com/199/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/parapemikir.wordpress.com/199/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/parapemikir.wordpress.com/199/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/parapemikir.wordpress.com/199/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/parapemikir.wordpress.com/199/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/parapemikir.wordpress.com/199/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/parapemikir.wordpress.com/199/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/parapemikir.wordpress.com/199/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/parapemikir.wordpress.com/199/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/parapemikir.wordpress.com/199/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/parapemikir.wordpress.com/199/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/parapemikir.wordpress.com/199/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/parapemikir.wordpress.com/199/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/parapemikir.wordpress.com/199/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=parapemikir.wordpress.com&#038;blog=8959315&#038;post=199&#038;subd=parapemikir&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://parapemikir.wordpress.com/2008/09/26/menghilangkan-aku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/937a324ba87642b2af63ec361902dc3b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">aksesb01</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
