<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>My Blog &#187; Mailing List Parapemikir</title>
	<atom:link href="http://parapemikir.wordpress.com/category/mailing-list-parapemikir/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://parapemikir.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Mon, 14 Nov 2011 06:14:52 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='parapemikir.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>My Blog &#187; Mailing List Parapemikir</title>
		<link>http://parapemikir.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://parapemikir.wordpress.com/osd.xml" title="My Blog" />
	<atom:link rel='hub' href='http://parapemikir.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Tubuh itu Merekam</title>
		<link>http://parapemikir.wordpress.com/2009/08/05/tubuh-itu-merekam/</link>
		<comments>http://parapemikir.wordpress.com/2009/08/05/tubuh-itu-merekam/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 05 Aug 2009 03:29:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aksesb01</dc:creator>
				<category><![CDATA[Mailing List Parapemikir]]></category>
		<category><![CDATA[jasad]]></category>
		<category><![CDATA[memori tubuh]]></category>
		<category><![CDATA[memori tubuh manusia]]></category>
		<category><![CDATA[phisik manusia]]></category>
		<category><![CDATA[rekaman jasad manusia]]></category>
		<category><![CDATA[rekaman kehidupan]]></category>
		<category><![CDATA[rekaman phisik manusia]]></category>
		<category><![CDATA[Rekaman tubuh]]></category>
		<category><![CDATA[tubuh]]></category>
		<category><![CDATA[tubuh itu merekam]]></category>
		<category><![CDATA[tubuh merekam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://parapemikir.com/?p=516</guid>
		<description><![CDATA[DALAM Alquran (Yasin: 65) dinyatakan, di akhirat kelak anggota tubuh kita akan memberikan kesaksian atas apa yang diperbuatnya selama di dunia. Tangan, kaki, dan anggota badan lain akan berbicara sehingga mulut tidak bisa membantah dan berbohong. Pendeknya dalam pengadilan di akhirat kelak kita tak akan mampu membohongi diri sendiri dan malaikat karena anggota tubuh akan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=parapemikir.wordpress.com&#038;blog=8959315&#038;post=516&#038;subd=parapemikir&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_517" class="wp-caption alignleft" style="width: 160px"><a href="http://parapemikir.com/tubuh-itu-merekam.html"><img class="size-thumbnail wp-image-517" title="rekaman-tubuh" src="http://parapemikir.com/wp-content/uploads/2009/08/rekaman-tubuh-150x150.gif" alt="tubuh merekam" width="150" height="150" /></a><p class="wp-caption-text">tubuh merekam</p></div>
<p style="text-align:justify;">DALAM Alquran (Yasin: 65) dinyatakan, di akhirat kelak anggota tubuh kita akan memberikan kesaksian atas apa yang diperbuatnya selama di dunia.</p>
<p>Tangan, kaki, dan anggota badan lain akan berbicara sehingga mulut tidak bisa membantah dan berbohong. Pendeknya dalam pengadilan di akhirat kelak kita tak akan mampu membohongi diri sendiri dan malaikat karena anggota tubuh akan menjadi saksi yang bisa memberatkan atau meringankan, tergantung pada perbuatan yang pernah dilakukan di dunia. Hakim yang kita hadapi di akhirat kelak bukanlah hakim yang dapat disuap dengan uang sebagaimana yang terjadi di dunia. </p>
<p style="text-align:justify;"><span id="more-516"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Tak akan ada yang mampu menolong diri kita kecuali rekaman iman dan amal kebajikan kita sendiri. Apa yang disampaikan Alquran di atas secara ilmiah sangat mudah untuk dibuktikan bahwa tubuh itu merekam apa yang biasa kita lakukan dan pikirkan. Contoh yang paling sederhana adalah rekaman pengalaman naik sepeda. Mungkin ada di antara kita sudah puluhan tahun tidak pernah naik sepeda.Tetapi karena dahulunya pernah dan biasa naik sepeda, andaikan disodori sepeda pasti bisa mengendarainya.</p>
<p style="text-align:justify;">Mengapa? Karena tubuh kita, terutama kaki dan tangan,memiliki rekaman bagaimana mengendarai sepeda,sehingga rekaman tadi muncul lagi ketika disuruh naik sepeda. Namun, mereka yang dahulunya tidak pernah,yang berarti tidak memiliki rekaman pengalaman, pasti perlu waktu lama dan mulai dari nol untuk belajar naik sepeda. Contoh ini dapat diperbanyak lagi, misalnya apa yang direkam oleh lidah tentang rasa makanan.</p>
<p style="text-align:justify;">Tanpa diberi tahu apa namanya, begitu melihat, mencium baunya, dan merasakan rasa makanan yang dahulu suka kita makan waktu kecil sudah langsung tahu apa nama makanan itu dan bagaimana rasanya. Bahkan andaikan makanan itu disajikan dalam keadaan gelap, kita akan bisa mengenalinya. Bagaimana bisa? Karena lidah kita memiliki rekaman akan berbagai rasa makanan.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam sebuah penelitian kajian neurologi dibuktikan bahwa selsel otak ternyata menyimpan berbagai informasi dan pengalaman yang terekam sejak kecil yang umumnya sudah kita lupakan. Ketika dilakukan eksperimen dengan pembedahan otak, tetapi yang bersangkutan tetap sadar, ternyata ketika dirangsang sel-sel saraf tertentu mampu menceritakan berbagai pengalaman sewaktu kecil.Eksperimen ini memperkuat teori bahwa semua yang pernah kita ketahui dan pikirkan terekam dalam jaringan saraf otak. Jadi, apa yang dikatakan Alquran tadi semakin diperkuat oleh eksperimen ilmiah.</p>
<p style="text-align:justify;">Teori bahwa tubuh merekam saya amati dan buktikan sendiri ketika ayah saya sakit, dirawat di rumah sakit di Magelang selama satu minggu. Saya mendapatkan pelajaran yang sangat berharga dari peristiwa ini. Betapa tidak? Bayangkan, ketika dia sembuh dan telah kembali ke rumah, saya bertanya kepadanya, “Bagaimana pengalaman Bapak ketika di rumah sakit?”Dia jawab, “Saya lupa.” Sungguh ini hal yang aneh. Dia bilang sudah lupa dengan apa yang terjadi di rumah sakit. Jadi, secara fisik sebenarnya dia memang sakit, tetapi secara mental dia sama sekali tidak merasa dirinya sakit.</p>
<p style="text-align:justify;">Yang sangat mengesankan saya, saat dirawat di rumah sakit, setiap kali datang waktu salat, dia selalu minta air untuk wudu atau minta diberi kesempatan untuk tayamum karena mau salat. Rupanya tubuh dan mentalnya merekam ritme jadwal salat sehingga setiap datang waktu salat, jam badannya (biological clock) memberi isyarat secara refleks dan otomatis bergegas untuk mendirikan salat karena ayah saya ketika sehat selalu salat tepat waktu lima kali sehari.</p>
<p style="text-align:justify;">Jadi, ketika sakit, jam badan itu bekerja layaknya weaker yang memberi isyarat karena di dalamnya memiliki rekaman habit. Contoh lain yang dengan mudah kita saksikan dalam peristiwa-peristiwa sehari-hari adalah pengalaman sopir bus malam lintas kota. Dulu, waktu tol Cipularang belum dibuat, sebagian besar orang menggunakan jalur Puncak untuk pergi dari Jakarta ke Bandung. Pernahkah kita membayangkan bagaimana hebatnya para sopir bus jurusan Jakarta– Bandung itu ketika melawati Ciawi, Megamendung, Cisarua, Puncak Pass, Cipanas, Cianjur, dan Bandung?</p>
<p style="text-align:justify;">Sopir-sopir bus itu dengan mudahnya menyusuri jalan berkelok yang naik-turun. Mereka sangat lihai. Mereka hafal betul kapan dan di mana harus berbelok. Mereka tahu kapan dan di mana akan ada tanjakan dan tikungan, bahkan mereka tahu di mana akan ada banyak kerumunan orang di jalan. Mengapa mereka bisa sehebat itu? Mengapa sopir itu bisa secara refleks mengendarai dan hafal situasi jalur Jakarta–Bandung? Jawabannya kita pasti tahu: itu karena kebiasaan.</p>
<p style="text-align:justify;">Mereka telah terbiasa setiap hari melewati rute itu sehingga anggota tubuhnya merekam situasi dan keadaan yang dilaluinya. Begitu juga orang yang dulu pernah mahir bermain ping-pong atau bermain badminton, ketika dia sudah tua, meskipun sudah meninggalkan kebiasaan itu selama puluhan tahun, pasti dia akan sanggup memainkannya kembali. Mungkin gerakan dan tingkat kelihaiannya berbeda dengan masa mudanya, tetapi kemampuan dan teknik dasar bermainnya tentu akan terlihat.Jadi, kebiasaan masa lalu tak akan mudah terlupakan karena tubuh ini merekam secara kuat apa yang pernah menjadi kebiasaan dan kesukaan atau hobi.</p>
<p style="text-align:justify;">Cerita di atas menyimpan pesan yang sangat dalam. Bahwa hendaknya kita membiasakan berpikir, berbicara, dan berbuat yang baik-baik, agar ketika sakit atau menjelang ajal nanti, rekaman kebaikan itu yang akan menemani dan mengawal kita menempuh perjalanan lebih lanjut. Coba renungkan, ada kejadian pada orangtua yang menjelang ajal, tetapi sangat-angat sulit untuk mengucapkan zikir seperti tahlil, tahmid, takbir. Hal ini disebabkan di masa hidupnya bacaan-bacaan zikir itu sangat asing, hati dan lidahnya tidak memiliki rekaman zikir.</p>
<p style="text-align:justify;">Dia tidak mempunyai memori yang dapat membangkitkan kesadarannya untuk mengucapkan kalimah tayyibahitu menjelang ajalnya. Sebaliknya,sering kali saya menyaksikan bagaimana mudahnya seseorang mengucapkan zikir atau membaca asmaul husna pada saat menjelang kematiannya.Ini lantaran dia telah terbiasa untuk mengucapkan kalimat itu di masa hidupnya. Dia telah membiasakan diri untuk membasahi lidahnya dengan kalimat zikir.</p>
<p style="text-align:justify;">Siang malam dia berzikir. Sebelum dan sesudah salat dia berzikir. Ketika tersandung batu dia beristigfar. Ketika mendengar petir dia bertasbih. Praktis, kalimat zikir telah menjadi bagian dari kebiasaannya sehari-hari sehingga ketika ajal datang menjemput dia dengan mudah mengucapkan kalimat zikir untuk menutup usianya. Karena itu, bagi orang yang mempunyai kebiasaan buruk yang selalu mengucapkan kata-kata kotor di masa hidupnya, bisa jadi menjelang sakaratul maut yang akan diingatnya hanya kata-kata kotor.</p>
<p style="text-align:justify;">Orang yang biasa mengejek, mengomel, atau mencemooh orang lain akan tertutup hatinya untuk mengucapkan kata-kata yang baik, sebab rekaman atau memori hidupnya selalu dipenuhi dengan kebiasaan buruk itu. Saya sering kali mendapatkan kisah-kisah nyata yang menceritakan hal itu. Semoga kisah-kisah di atas dapat menjadi pelajaran berharga untuk menghadapi kematian sehingga kita menjumpai Izrail dengan senyum persahabatan.</p>
<p style="text-align:justify;">Mari kita membiasakan diri untuk melafalkan kata-kata yang baik,selalu berzikir dan mengingat Allah SWT,membiasakan diri mengerjakan salat, berpuasa dan bersedekah,serta berbuat baik kepada sesama,sebab semua itu akan terekam dalam memori kita sepanjang hayat, baik saat hidup di dunia, menjelang sakaratul maut, atau setelah kematian kita. Husnul khatimah (pengujung yang baik) di masa kematian kita itu tidak bisa diraih dengan tiba-tiba.</p>
<p style="text-align:justify;">Ia tak bisa dipaksa dan dibimbing oleh orang lain dengan mudah karena diri kitalah yang menentukan apakah kita sanggup mendapatkan akhir yang baik atau tidak. Husnul khatimah merupakan akumulasi dari perjalanan panjang seseorang di masa hidupnya. Rekam jejak kehidupan seseorang menentukan hasil akhir dari perjalanan hidupnya di dunia.(*)</p>
<p> </p>
<p><em>PROF DR KOMARUDDIN HIDAYAT<br />
Rektor UIN Syarif Hidayatullah</p>
<p>Taken from mailing list : <a href="mailto:parapemikir@yahoogroups.com">parapemikir@yahoogroups.com</a> </em></p>
<p><em>Fosted by  : lasykarlima@   &#8212;-&gt; </em><em>from : www.seputar-indonesia.com</em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/parapemikir.wordpress.com/516/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/parapemikir.wordpress.com/516/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/parapemikir.wordpress.com/516/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/parapemikir.wordpress.com/516/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/parapemikir.wordpress.com/516/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/parapemikir.wordpress.com/516/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/parapemikir.wordpress.com/516/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/parapemikir.wordpress.com/516/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/parapemikir.wordpress.com/516/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/parapemikir.wordpress.com/516/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/parapemikir.wordpress.com/516/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/parapemikir.wordpress.com/516/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/parapemikir.wordpress.com/516/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/parapemikir.wordpress.com/516/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=parapemikir.wordpress.com&#038;blog=8959315&#038;post=516&#038;subd=parapemikir&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://parapemikir.wordpress.com/2009/08/05/tubuh-itu-merekam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/937a324ba87642b2af63ec361902dc3b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">aksesb01</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://parapemikir.com/wp-content/uploads/2009/08/rekaman-tubuh-150x150.gif" medium="image">
			<media:title type="html">rekaman-tubuh</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hologram</title>
		<link>http://parapemikir.wordpress.com/2009/06/27/hologram/</link>
		<comments>http://parapemikir.wordpress.com/2009/06/27/hologram/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 27 Jun 2009 07:08:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aksesb01</dc:creator>
				<category><![CDATA[Mailing List Parapemikir]]></category>
		<category><![CDATA[alam semesta seperti hologram]]></category>
		<category><![CDATA[apakah hologram]]></category>
		<category><![CDATA[arti hologram]]></category>
		<category><![CDATA[Hologram]]></category>
		<category><![CDATA[seperti hologram]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://parapemikir.com/?p=233</guid>
		<description><![CDATA[Alam Semesta sebagai Hologram Pada tahun 1982 terjadi suatu peristiwa yang menarik. Di Universitas Paris, sebuah tim peneliti dipimpin oleh Alain Aspect melakukan suatu eksperimen yang mungkin merupakan eksperimen yang paling penting di abad ke-20. Anda tidak mendapatkannya dalam berita malam. Malah, kecuali Anda biasa membaca jurnal-jurnal ilmiah, Anda mungkin tidak pernah mendengar nama Aspect, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=parapemikir.wordpress.com&#038;blog=8959315&#038;post=233&#038;subd=parapemikir&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Alam Semesta sebagai Hologram</strong></p>
<div id="attachment_234" class="wp-caption alignleft" style="width: 160px"><a href="http://parapemikir.com/hologram"><img class="size-thumbnail wp-image-234" title="hologram" src="http://parapemikir.com/wp-content/uploads/2009/05/hologram-150x150.jpg" alt="hologram" width="150" height="150" /></a><p class="wp-caption-text">hologram</p></div>
<p style="text-align:justify;">Pada tahun 1982 terjadi suatu peristiwa yang menarik. Di Universitas Paris, sebuah tim peneliti dipimpin oleh Alain Aspect melakukan suatu eksperimen yang mungkin merupakan eksperimen yang paling penting di abad ke-20. Anda tidak mendapatkannya dalam berita malam. Malah, kecuali Anda biasa membaca jurnal-jurnal ilmiah, Anda mungkin tidak pernah mendengar nama Aspect, sekalipun sementara orang merasa temuannya itu mungkin akan mengubah wajah sains.</p>
<p style="text-align:justify;"><span id="more-233"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Aspect bersama timnya menemukan bahwa dalam lingkungan tertentu partikel-partikel subatomik, seperti elektron, mampu berkomunikasi dengan seketika satu sama lain tanpa tergantung pada jarak yang memisahkan mereka. Tidak ada bedanya apakah mereka terpisah 10 kaki atau 10 milyar km satu sama lain.</p>
<p style="text-align:justify;">Entah bagaimana, tampaknya setiap partikel selalu tahu apa yang dilakukan oleh partikel lain. Masalah yang ditampilkan oleh temuan ini adalah bahwa hal itu melanggar prinsip Einstein yang telah lama dipegang, yakni bahwa tidak ada komunikasi yang mampu berjalan lebih cepat daripada kecepatan cahaya. Oleh karena berjalan melebihi kecepatan cahaya berarti menembus dinding waktu, maka prospek yang menakutkan ini menyebabkan sementara ilmuwan fisika mencoba menyusun teori yang dapat menjelaskan temuan Aspect. Namun hal itu juga mengilhami sementara ilmuwan lain untuk menyusun teori yang lebih radikal lagi.</p>
<p style="text-align:justify;">Pakar fisika teoretik dari Universitas London, David Bohm, misalnya, yakin bahwa temuan Aspect menyiratkan bahwa realitas obyektif itu tidak ada; bahwa sekalipun tampaknya pejal [solid], alam semesta ini pada dasarnya merupakan khayalan, suatu hologram raksasa yang terperinci secara sempurna.</p>
<p style="text-align:justify;">Untuk memahami mengapa Bohm sampai membuat pernyataan yang mengejutkan ini, pertama-tama kita harus memahami sedikit tentang hologram. Sebuah hologram adalah suatu potret tiga dimensional yang dibuat dengan sinar laser. Untuk membuat hologram, obyek yang akan difoto mula-mula disinari dengan suatu sinar laser. Lalu sinar laser kedua yang dipantulkan dari sinar pertama ditujukan pula kepada obyek tersebut, dan pola interferensi yang terjadi (bidang tempat kedua sinar laser itu bercampur) direkam dalam sebuah pelat foto. Ketika pelat itu dicuci, gambar terlihat sebagai pusaran-pusaran garis-garis terang dan gelap. Tetapi ketika foto itu disoroti oleh sebuah sinar laser lagi, muncullah gambar tiga dimensional dari obyek semula di situ.</p>
<p style="text-align:justify;">Sifat tiga dimensi dari gambar seperti itu bukan satu-satunya sifat yang menarik dari hologram. Jika hologram sebuah bunga mawar dibelah dua dan disoroti oleh sebuah sinar laser, masing-masing belahan itu ternyata masih mengandung gambar mawar itu secara lengkap (tetapi lebih kecil). Bahkan, jika belahan itu dibelah lagi, masing-masing potongan foto itu ternyata selalu mengandung gambar semula yang lengkap sekalipun lebih kecil. Berbeda dengan foto yang biasa, setiap bagian sebuah hologram mengandung semua informasi yang ada pada hologram secara keseluruhan.</p>
<p style="text-align:justify;">Sifat &#8220;keseluruhan di dalam setiap bagian&#8221; dari sebuah hologram, memberikan kepada kita suatu cara pemahaman yang sama sekali baru terhadap organisasi dan order. Selama sebagian besar sejarahnya, sains Barat bekerja di bawah prinsip yang bias, yakni bahwa cara terbaik untuk memahami fenomena fisikal &#8211;baik seekor katak atau sebuah atom&#8211; adalah dengan memotong-motongnya dan meneliti bagian-bagiannya.</p>
<p style="text-align:justify;">Sebuah hologram mengajarkan bahwa beberapa hal dari alam semesta ini mungkin tidak akan terungkap dengan pendekatan itu. Jika kita mencoba menguraikan sesuatu yang tersusun secara holografik, kita tidak akan mendapatkan bagian-bagian yang membentuknya, melainkan kita akan mendapatkan keutuhan yang lebih kecil.</p>
<p style="text-align:justify;">Pencerahan ini menuntun Bohm untuk memahami secara lain temuan Aspect. Bohm yakin bahwa alasan mengapa partikel-partikel subatomik mampu berhubungan satu sama lain tanpa terpengaruh oleh jarak yang memisahkan mereka adalah bukan karena mereka mengirimkan isyarat misterius bolak-balik di antara satu sama lain, melainkan oleh karena keterpisahan mereka adalah ilusi. Bohm berkilah, bahwa pada suatu tingkat realitas yang lebih dalam, partikel-partikel seperti itu bukanlah entitas-entitas individual, melainkan merupakan perpanjangan [extension] dari sesuatu yang esa dan fundamental.</p>
<p style="text-align:justify;"> </p>
<p style="text-align:justify;">Agar khalayak lebih mudah membayangkan apa yang dimaksudkannya, Bohm memberikan ilustrasi berikut:</p>
<p style="text-align:justify;">Bayangkan sebuah akuarium yang mengandung seekor ikan. Bayangkan juga bahwa Anda tidak dapat melihat akuarium itu secara langsung, dan bahwa pengetahuan Anda tentang akuarium itu beserta apa yang terkandung di dalamnya datang dari dua kamera televisi: yang sebuah ditujukan ke sisi depan akuarium, dan yang lain ditujukan ke sisinya.</p>
<p style="text-align:justify;">Ketika Anda menatap kedua layar televisi, Anda mungkin menganggap bahwa ikan yang ada pada masing-masing layar itu adalah dua ikan yang berbeda. Bagaimana pun juga, karena kedua kamera diarahkan dengan sudut yang berbeda, masing-masing gambar ikan itu sedikit berbeda satu sama lain. Tetapi sementara Anda terus memandang kedua ikan itu, akhirnya Anda akan menyadari bahwa ada hubungan tertentu di antara kedua ikan itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Kalau yang satu berbelok, yang lain juga membuat gerakan yang berbeda tapi sesuai; jika yang satu menghadap kamera, yang lain menghadap ke suatu sisi. Jika Anda tidak menyadari seluruh situasinya, Anda mungkin menyimpulkan bahwa kedua ikan itu saling berkomunikasi secara seketika, tetapi jelas bukan demikian halnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Menurut Bohm, inilah sesungguhnya yang terjadi di antara partikel-partikel subatomik dalam eksperimen Aspect itu. Menurut Bohm, hubungan yang tampaknya &#8220;lebih cepat dari cahaya&#8221; di antara partikel-partikel subatomik sesungguhnya mengatakan kepada kita bahwa ada suatu tingkat realitas yang lebih dalam, yang selama ini tidak kita kenal, suatu dimensi yang lebih rumit di luar dimensi kita, dimensi yang beranalogi dengan akuarium itu. Tambahnya, kita memandang obyek-obyek seperti partikel-partikel subatomik sebagai terpisah satu sama lain oleh karena kita hanya memandang satu bagian dari realitas sesungguhnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Partikel-partikel seperti itu bukanlah &#8220;bagian-bagian&#8221; yang terpisah, melainkan faset-faset dari suatu kesatuan (keesaan) yang lebih dalam dan lebih mendasar, yang pada akhirnya bersifat holografik dan tak terbagi-bagi seperti gambar mawar di atas. Dan oleh karena segala sesuatu dalam realitas fisikal terdiri dari apa yang disebut &#8220;eidolon-eidolon&#8221; ini, maka alam semesta itu sendiri adalah suatu proyeksi, suatu hologram. Di samping hakekatnya yang seperti bayangan, alam semesta itu memiliki sifat-sifat lain yang cukup mengejutkan. Jika keterpisahan yang tampak di antara partikel-partikel subatomik itu ilusif, itu berarti pada suatu tingkat realitas yang lebih dalam segala sesuatu di alam semesta ini saling berhubungan secara tak terbatas.</p>
<p style="text-align:justify;">Elektron-elektron didalam atom karbon dalam otak manusia berhubungan dengan partikel-partikel subatomik yang membentuk setiap ikan salem yang berenang, setiap jantung yang berdenyut, dan setiap bintang yang berkilauan di angkasa. Segala sesuatu meresapi segala sesuatu; dan sekalipun sifat manusia selalu mencoba memilah-milah, mengkotak-kotakkan dan membagi-bagi berbagai fenomena di alam semesta, semua pengkotakan itu mau tidak mau adalah artifisial, dan segenap alam semesta ini pada akhirnya merupakan suatu jaringan tanpa jahitan.</p>
<p style="text-align:justify;">Di dalam sebuah alam semesta yang holografik, bahkan waktu dan ruang tidak dapat lagi dipandang sebagai sesuatu yang fundamental. Oleh karena konsep-konsep seperti &#8216;lokasi&#8217; runtuh di dalam suatu alam semesta yang di situ tidak ada lagi sesuatu yang terpisah dari yang lain, maka waktu dan ruang tiga dimensional &#8211;seperti gambar-gambar ikan pada layar-layar TV di atas&#8211; harus dipandang sebagai proyeksi dari order yang lebih dalam lagi.</p>
<p style="text-align:justify;"> </p>
<p style="text-align:justify;">Pada tingkatan yang lebih dalam, realitas merupakan semacam superhologram yang di situ masa lampau, masa kini, dan masa depan semua ada (berlangsung) secara serentak. Ini mengisyaratkan bawah dengan peralatan yang tepat mungkin di masa depan orang bisa menjangkau ke tingkatan realitas superholografik itu dan mengambil adegan-adegan dari masa lampau yang terlupakan.</p>
<p style="text-align:justify;">Apakah ada lagi yang terkandung dalam superhologram itu merupakan pertanyaan terbuka. Bila diterima &#8211;dalam diskusi ini&#8211; bahwa superhologram itu merupakan matriks yang melahirkan segala sesuatu dalam alam semesta kita, setidak-tidaknya ia mengandung setiap partikel subatomik yang pernah ada dan akan ada &#8212; setiap konfigurasi materi dan energi yang mungkin, dari butiran salju sampai quasar, dari ikan paus biru sampai sinar gamma. Itu bisa dilihat sebagai gudang kosmik dari &#8220;segala yang ada&#8221;.</p>
<p style="text-align:justify;">Sekalipun Bohm mengakui bahwa kita tidak mempunyai cara untuk mengetahui apa lagi yang tersembunyi di dalam superhologram itu, ia juga mengatakan bahwa kita tidak mempunyai alasan bahwa superhologram itu tidak mengandung apa-apa lagi. Atau, seperti dinyatakannya, mungkin tingkat realitas superholografik itu &#8220;sekadar satu tingkatan&#8221;, yang di luarnya terletak &#8220;perkembangan lebih lanjut yang tak terbatas.&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;"> </p>
<p style="text-align:justify;">Bohm bukanlah satu-satunya peneliti yang menemukan bukti-bukti bahwa alam semesta ini merupakan hologram. Dengan bekerja secara independen di bidang penelitian otak, pakar neurofisiologi Karl Pribram dari Universitas Stanford, juga menerima sifat holografik dari realitas.</p>
<p style="text-align:justify;">Pribram tertarik kepada model holografik oleh teka-teki bagaimana dan di mana ingatan tersimpan di dalam otak. Selama puluhan tahun berbagai penelitian menunjukkan bahwa alih-alih tersimpan dalam suatu lokasi tertentu, ingatan tersebar di seluruh bagian otak.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam serangkaian penelitian yang bersejarah pada tahun 1920-an, ilmuwan otak Karl Lashley menemukan bahwa tidak peduli bagian mana dari otak tikus yang diambilnya, ia tidak dapat menghilangkan ingatan untuk melakukan tugas-tugas rumit yang pernah dipelajari tikus itu sebelum dioperasi. Masalahnya ialah tidak seorang pun dapat menjelaskan mekanisme penyimpanan ingatan yang bersifat &#8220;semua di dalam setiap bagian&#8221; yang aneh ini.</p>
<p style="text-align:justify;">Lalu pada tahun 1960-an Pribram membaca konsep holografi dan menyadari bahwa ia telah menemukan penjelasan yang telah lama dicari-cari oleh para ilmuwan otak. Pribram yakin bahwa ingatan terekam bukan di dalam neuron-neuron (sel-sel otak), melainkan di dalam pola-pola impuls saraf yang merambah seluruh otak, seperti pola-pola interferensi sinar laser yang merambah seluruh wilayah pelat film yang mengandung suatu gambar holografik.</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan kata lain, Pribram yakin bahwa otak itu sendiri merupakan sebuah hologram. Teori Pribram juga menjelaskan bagaimana otak manusia dapat menyimpan begitu banyak ingatan dalam ruang yang begitu kecil. Pernah diperkirakan bahwa otak manusia mempunyai kapasitas mengingat sekitar 10 milyar bit informasi selama masa hidup manusia rata-rata (atau kira-kira sebanyak informasi yang terkandung dalam lima set Encyclopaedia Britannica).</p>
<p style="text-align:justify;"> </p>
<p style="text-align:justify;">Demikian pula telah ditemukan bahwa di samping sifat-sifatnya yang lain, hologram mempunyai kapasitas untuk menyimpan informasi &#8212; hanya dengan mengubah sudut kedua sinar laser itu jatuh pada permukaan pelat film, dimungkinkan untuk merekam banyak gambar berbeda pada permukaan yang sama. Telah dibuktikan bahwa satu sentimeter kubik pelat film dapat menyimpan sebanyak 10 milyar bit informasi.</p>
<p style="text-align:justify;">Kemampuan mengagumkan dari manusia untuk mengambil informasi yang diperlukan dari gudang ingatan yang amat besar itu dapat lebih dipahami jika otak berfungsi menurut prinsip-prinsip holografik. Jika seorang teman minta Anda mengatakan apa yang terlintas dalam pikiran ketika ia menyebut &#8220;zebra&#8221;, Anda tidak perlu tertatih-tatih melakukan sorting dan mencari dalam suatu file alfabetis raksasa dalam otak untuk sampai kepada suatu jawaban. Alih-alih, berbagai asosiasi seperti &#8220;bergaris-garis&#8221; , &#8220;macam kuda&#8221;, dan &#8220;binatang dari Afrika&#8221; semua muncul di kepala Anda dengan seketika.</p>
<p style="text-align:justify;">Sesungguhnya, salah satu hal paling mengherankan tentang proses berpikir manusia adalah bahwa setiap butir informasi tampaknya dengan seketika berkorelasi- silang dengan setiap butir informasi lain&#8211; ini merupakan sifat intrinsik dari hologram. Oleh karena setiap bagian dari hologram saling berhubungan secara tak terbatas satu sama lain, ini barangkali merupakan contoh terbaik dari alam tentang suatu sistem yang saling berkorelasi.</p>
<p style="text-align:justify;">Penyimpanan ingatan bukan satu-satunya teka-teki neurofisiologis yang lebih dapat dijelaskan dengan model otak holografik Pribram. Teka-teki lain adalah bagaimana otak mampu menerjemahkan serbuan frekuensi-frekuensi yang diterimanya melalui pancaindra (frekuensi cahaya, frekuensi suara, dan sebagainya) menjadi dunia konkrit dari persepsi manusia. Merekam dan menguraikan kembali frekuensi adalah sifat terunggul dari sebuah hologram. Seperti hologram berfungsi sebagai semacam lensa, alat yang menerjemahkan frekuensi-frekuensi kabur yang tak berarti menjadi suatu gambar yang koheren, Pribram yakin bahwa otak juga merupakan sebuah lensa yang menggunakan prinsip-prinsip holografik untuk secara matematis mengubah frekuensi-frekuensi yang diterimanya melalui pancaindra menjadi persepsi di dalam batin kita.</p>
<p style="text-align:justify;">Sejumlah bukti yang mengesankan mengisyaratkan bahwa otak menggunakan prinsip-prinsip holografik untuk menjalankan fungsinya. Sesungguhnya, teori Pribram makin diterima di kalangan pakar neurofisiologi. Peneliti Argentina-Italia, Hugo Zucarelli, baru-baru ini memperluas model holografik ke dalam fenomena akustik. Menghadapi teka-teki bahwa manusia dapat menetapkan sumber suara tanpa menggerakkan kepalanya, bahkan jika mereka hanya memiliki pendengaran pada satu telinga saja, Zucarelli menemukan prinsip-prinsip holografik dapat menjelaskan kemampuan ini. Zucarelli juga mengembangkan teknologi suara holofonik, suatu teknik perekaman yang mampu mereproduksi suasana akustik dengan realisme yang mengagumkan.</p>
<p style="text-align:justify;">Keyakinan Pribram bahwa otak kita secara matematis membangun realitas &#8220;keras&#8221; dengan mengandalkan diri pada masukan dari suatu domain frekuensi juga telah mendapat dikungan sejumlah eksperimen. Telah ditemukan bahwa masing-masing indra kita peka terhadap suatu bentangan frekuensi yang jauh lebih lebar daripada yang dianggap orang sebelum ini. Misalnya, para peneliti telah menemukan bahwa sistem penglihatan kita peka terhadap frekuensi suara, bahwa indra penciuman kita sebagian bergantung pada apa yang sekarang dinamakan &#8220;frekuensi osmik&#8221;, dan bahkan sel-sel tubuh kita peka terhadap suatu bentangan luas frekuensi. Temuan-temuan seperti itu menandakan bahwa hanya di dalam domain kesadaran holografik saja frekuensi-frekuensi seperti itu dipilah-pilah dan dibagi-bagi menjadi persepsi konvensional.</p>
<p style="text-align:justify;">Tetapi aspek yang paling membingungkan dari model otak holografik Pribram adalah apa yang terjadi apabila model itu dipadukan dengan teori Bohm. Oleh karena, bila kekonkritan alam semesta ini hanyalah realitas sekunder dan bahwa apa yang ada &#8220;di luar sana&#8221; sesungguhnya hanyalah kekaburan frekuensi holografik, dan jika otak juga sebuah hologram dan hanya memilih beberapa saja dari frekuensi-frekuensi yang kabur dan secara matematis mengubahnya menjadi persepsi sensorik, apa jadinya dengan realitas yang obyektif?</p>
<p style="text-align:justify;">Secara sederhana, realias obyektif itu tidak ada lagi. Seperti telah lama dinyatakan oleh agama-agama dari Timur, dunia materi ini adalah Maya, suatu ilusi, dan sekalipun kita mungkin berpikir bahwa kita ini makhluk fisikal yang bergerak di dalam dunia fisikal, ini juga suatu ilusi.</p>
<p style="text-align:justify;">Kita ini sebenarnya adalah &#8220;pesawat penerima&#8221; yang mengambang melalui suatu lautan frekuensi kaleidoskopik, dan apa yang kita ambil dari lautan ini dan terjemahkan menjadi realitas fisikal hanyalah satu channel saja dari sekian banyak yang diambil dari superhologram itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Gambaran realitas yang baru dan mengejutkan ini, yakni sintesis antara pandangan Bohm dan Pribram, dinamakan paradigma holografik, dan sekalipun banyak ilmuwan memandangnya secara skeptik, paradigma itu menggairahkan sementara ilmuwan lain. Suatu lingkungan kecil ilmuwan &#8211;yang jumlahnya makin bertambah&#8211; percaya bahwa paradigma itu merupakan model realitas yang paling akurat yang pernah dicapai sains. Lebih dari itu, sementara kalangan percaya bahwa itu dapat memecahkan beberapa misteri yang selama ini belum dapat dijelaskan oleh sains, dan bahkan dapat menegakkan hal-hal paranormal sebagai bagian dari alam. Banyak peneliti, termasuk Bohm dan Pribram, mencatat bahwa banyak fenomena para-psikologis menjadi lebih dapat dipahami dalam kerangka paradigma holografik.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam suatu alam semesta yang di situ otak individu sesungguhnya adalah bagian yang tak terbagi dari hologram yang lebih besar dan segala sesuatu saling berhubungan secara tak terbatas, maka telepati mungkin tidak lebih dari sekadar mengakses tingkat holografik itu. Jelas itu jauh lebih mudah dapat memahami bagaimana informasi dapat berpindah dari batin individu A kepada batin individu B yang berjauhan, dan memahami sejumlah teka-teki yang belum terpecahkan dalam psikologi. Khususnya, Grof merasa bahwa paradigma holografik menawarkan model untuk memahami banyak fenomena membingungkan yang dialami orang dalam keadaan &#8220;kesadaran yang berubah&#8221; [altered states of consciousness] .</p>
<p style="text-align:justify;">Pada tahun 1950-an, ketika melakukan penelitian terhadap anggapan bahwa LSD adalah alat penyembuhan psikoterapi, Grof mempunyai seorang pasien wanita yang tiba-tiba merasa yakin bahwa dia mempunyai identitas seekor reptil betina prasejarah. Selama halusinasinya, dia tidak hanya menguraikan secara amat mendetail tentang bagaimana rasanya terperangkap dalam wujud seperti itu, melainkan juga mengatakan bahwa bagian anatomi binatang jantan adalah sepetak sisik berwarna pada sisi kepalanya.</p>
<p style="text-align:justify;">Yang mengejutkan Grof ialah bahwa, sekalipun wanita itu sebelumnya tidak mempunyai pengetahuan tentang hal-hal itu, suatu percakapan dengan seorang ahli zoologi belakangan menguatkan bahwa pada beberapa spesies reptilia tertentu bagian-bagian berwarna dari kepala memainkan peran penting untuk membangkitkan birahi.</p>
<p style="text-align:justify;">Pengalaman wanita itu bukan sesuatu yang unik. Selama penelitiannya, Grof bertemu dengan pasien-pasien yang mengalami regresi dan mengenali dirinya sebagai salah satu spesies dalam deretan evolusi. Tambahan pula, ia mendapati bahwa pengalaman-pengalam an seperti itu sering kali mengandung informasi zoologis yang jarang diketahui yang belakangan ternyata akurat.</p>
<p style="text-align:justify;">Regresi ke dalam dunia binatang bukanlah satu-satunya fenomena psikologis yang menjadi teka-teki yang ditemukan Grof. Ia juga mempunyai pasien-pasien yang tampak dapat memasuki alam bawah sadar kolektif atau rasial. Orang-orang yang tidak terdidik tiba-tiba memberikan gambaran yang terperinci tentang praktek penguburan Zoroaster dan adegan-adegan dari mitologi Hindu. Jenis pengalaman yang lain adalah orang-orang yang memberikan uraian yang meyakinkan tentang perjalanan di luar tubuh, atau melihat sekilas masa depan yang akan terjadi, atau regresi ke dalam inkarnasi dalam salah satu kehidupan lampau.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam riset-riset lebih lanjut, Grof menemukan bentangan fenomena yang sama muncul dalam sesi-sesi terapi yang tidak menggunakan obat-obatan [psikotropika] . Oleh karena unsur yang sama dalam pengalaman-pengalam an seperti itu tampaknya adalah diatasinya kesadaran individu yang biasanya dibatasi oleh ego dan/atau dibatasi oleh ruang dan waktu, Grof menyebut fenomena itu sebagai &#8220;pengalaman transpersonal&#8221; , dan pada akhir tahun 1960-an ia membantu mendirikan cabang psikologi yang disebut &#8220;psikologi transpersonal&#8221; yang sepenuhnya mengkaji pengalaman-pengalaman seperti itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Sekalipun perhimpunan yang didirikan oleh Grof, Perhimpunan Psikologi Transpersonal [Association of Transpersonal Psychology], menghimpun sekelompok profesional yang jumlahnya semakin bertambah, dan telah menjadi cabang psikologi yang terhormat [di kalangan sains], selama bertahun-tahun Grof maupun rekan-rekannya tidak dapat memberikan suatu mekanisme yang dapat menjelaskan berbagai fenomena psikologis aneh yang mereka saksikan. Tetapi semua itu berubah dengan lahirnya paradigma holografik.</p>
<p style="text-align:justify;">Sebagaimana dicatat Grof baru-baru ini, jika batin memang bagian dari suatu kontinuum, suatu labirin yang berhubungan bukan hanya dengan setiap batin lain yang ada dan yang pernah ada, melainkan berhubungan pula dengan setiap atom, organisme, dan wilayah di dalam ruang dan waktu yang luas itu sendiri, maka fakta bahwa batin kadang-kadang bisa menjelajah ke dalam labirin itu dan mengalami hal-hal transpersonal tidak lagi tampak begitu aneh.</p>
<p style="text-align:justify;">Paradigma holografik juga mempunyai implikasi bagi sains-sains &#8220;keras&#8221; seperti biologi. Keith Floyd, seorang psikolog di Virginia Intermont College, mengatakan bahwa jika realitas yang konkrit tidak lebih dari sekadar ilusi holografik, maka tidak benar lagi pernyataan yang mengklaim bahwa otak menghasilkan kesadaran. Alih-alih, justru kesadaranlah yang menciptakan perwujudan dari otak &#8212; termasuk juga tubuh dan segala sesuatu di sekitar kita yang kita tafsirkan sebagai fisikal.</p>
<p style="text-align:justify;">Pembalikan cara melihat struktur-struktur biologis seperti itu menyebabkan para peneliti mengatakan bahwa ilmu kedokteran dan pemahaman kita mengenai proses penyembuhan juga dapat mengalami transformasi berkat paradigma holografik ini. Jika struktur yang tampaknya fisikal dari badan ini tidak lain daripada proyeksi holografik dari kesadaran, maka jelas bahwa masing-masing dari kita jauh lebih bertanggung- jawab bagi kesehatan diri kita daripada yang dinyatakan oleh pengetahuan kedokteran masa kini. Apa yang sekarang kita lihat sebagai penyembuhan penyakit yang bersifat &#8220;mukjizat&#8221; mungkin sesungguhnya disebabkan oleh perubahan-perubahan dalam kesadaran yang pada gilirannya mempengaruhi perubahan-perubahan dalam hologram badan jasmani.</p>
<p style="text-align:justify;">Demikian pula, teknik-teknik penyembuhan baru yang kontroversial, seperti visualisasi, mungkin berhasil baik oleh karena dalam domain pikiran yang holografik gambar-gambar pada akhirnya sama nyatanya dengan &#8220;realitas&#8221;. Bahkan berbagai visiun dan pengalaman yang menyangkut realitas yang &#8220;tidak biasa&#8221; dapat dijelaskan dengan paradigma holografik. Dalam bukunya &#8220;Gifts of Unknown Things&#8221;, pakar biologi Lyall Watson menceritakan pertemuannya dengan seorang dukun perempuan Indonesia yang, dengan melakukan semacam tarian ritual, mampu melenyapkan sekumpulan pepohonan. Watson mengisahkan, sementara ia dan seorang pengamat lain terus memandang perempuan itu dengan takjub, ia membuat pepohonan itu muncul kembali, lalu melenyapkannya dan memunculkannya lagi beberapa kali berturut-turut.</p>
<p style="text-align:justify;">Sekalipun pemahaman saintifik masa kini tidak mampu menjelaskan peristiwa-peristiwa seperti itu, berbagai pengalaman seperti ini menjadi lebih mungkin jika realitas &#8220;keras&#8221; tidak lebih dari sekadar proyeksi holografik. Mungkin kita sepakat tentang apa yang &#8220;ada&#8221; atau &#8220;tidak ada&#8221; oleh karena apa yang disebut &#8220;realitas konsensus&#8221; itu dirumuskan dan disahkan di tingkat bawah sadar manusia, yang di situ semua batin saling berhubungan tanpa terbatas. Jika ini benar, maka ini adalah implikasi paling dalam dari paradigma holografik, oleh karena hal itu berarti bahwa pengalaman-pengalam an sebagaimana dialami oleh Watson adalah tidak lazim hanya oleh karena kita tidak memprogram batin kita dengan kepercayaan- kepercayaan yang membuatnya lazim. Di dalam alam semesta yang holografik, tidak ada batas bagaimana kita dapat mengubah bahan-bahan realitas. Yang kita lihat sebagai &#8216;realitas&#8217; hanyalah sebuah kanvas yang menunggu kita gambari dengan gambarapa pun yang kita inginkan. Segala sesuatu adalah mungkin, mulai dari melengkungkan sendok dengan kekuatan batin sampai peristiwa-peristiwa fantastik yang dialami oleh Castaneda selama pertemuannya dengan dukun Indian bangsa Yaqui, Don Juan, oleh karena sihir adalah hak asasi kita, tidak lebih dan tidak kurang adikodratinya daripada kemampuan kita menghasilkan realitas yang kita inginkan ketika kita bermimpi.</p>
<p style="text-align:justify;">Sesungguhnya, bahkan paham-paham kita yang paling mendasar tentang realitas patut dipertanyakan, oleh karena di dalam alam semesta holografik, sebagaimana ditunjukkan oleh Pribram, bahkan perisitiwa yang terjadi secara acak [random] harus dilihat sebagai berdasarkan prinsip holografik dan oleh karena itu bersifat determined. &#8216;Sinkronisitas&#8217; atau peristiwa-peristiwa kebetulan yang bermanfaat, tiba-tiba masuk akal, dan segala sesuatu dalam realitas harus dilihat sebagai metafora, oleh karena bahkan peristiwa yang paling kacau mengungkapkan suatu simetri tertentu yang mendasarinya.</p>
<p style="text-align:justify;">Apakah paradigma holografik Bohm dan Pribram akan diterima oleh sains atau tenggelam begitu saja masih akan kita lihat, tetapi pada saat ini agaknya dapat dikatakan bahwa paradigma itu telah berpengaruh terhadap pemikiran sejumlah ilmuwan. Dan bahkan jika kelak terbukti bahwa model holografik tidak memberikan penjelasan terbaik bagi komunikasi seketika yang tampaknya berlangsung bolak-balik di antara partikel-partikel subatomik, setidak- tidaknya, sebagaimana dinyatakan oleh Basil Hiley, seorang pakar fisika di Birbeck College di London, temuan Aspect &#8220;menunjukkan bahwa kita harus siap mempertimbangkan paham-paham baru yang radikal mengenai realitas.&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;"> -by anonim-</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Posted at </em><a href="mailto:parapemikir@yahoogroups.com"><em>parapemikir@yahoogroups.com</em></a></p>
<p style="text-align:justify;"> </p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/parapemikir.wordpress.com/233/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/parapemikir.wordpress.com/233/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/parapemikir.wordpress.com/233/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/parapemikir.wordpress.com/233/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/parapemikir.wordpress.com/233/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/parapemikir.wordpress.com/233/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/parapemikir.wordpress.com/233/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/parapemikir.wordpress.com/233/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/parapemikir.wordpress.com/233/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/parapemikir.wordpress.com/233/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/parapemikir.wordpress.com/233/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/parapemikir.wordpress.com/233/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/parapemikir.wordpress.com/233/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/parapemikir.wordpress.com/233/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=parapemikir.wordpress.com&#038;blog=8959315&#038;post=233&#038;subd=parapemikir&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://parapemikir.wordpress.com/2009/06/27/hologram/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/937a324ba87642b2af63ec361902dc3b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">aksesb01</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://parapemikir.com/wp-content/uploads/2009/05/hologram-150x150.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">hologram</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pelihara Roh Anda</title>
		<link>http://parapemikir.wordpress.com/2009/06/10/pelihara-roh-anda/</link>
		<comments>http://parapemikir.wordpress.com/2009/06/10/pelihara-roh-anda/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Jun 2009 20:50:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aksesb01</dc:creator>
				<category><![CDATA[IRFAN]]></category>
		<category><![CDATA[Mailing List Parapemikir]]></category>
		<category><![CDATA[alam malakut]]></category>
		<category><![CDATA[badan]]></category>
		<category><![CDATA[jasmani]]></category>
		<category><![CDATA[jiwa]]></category>
		<category><![CDATA[Roh]]></category>
		<category><![CDATA[sufi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://parapemikir.com/?p=389</guid>
		<description><![CDATA[Pada suatu hari Abu Bashir berada di Masjid A-Haram. la terpesona rnenyaksikan ribuan orang yang bergerak mengelilingi Kabah, mendengarkan gemuruh tahlil, tasbih, dan takbir mereka. Ia membayangkan betapa beruntungnya orang-orang itu. Mereka tentu akan mendapat pahala dan ampunan Tuhan. Imam Ja&#8217;far Al-Shadiq, tokoh spiritual yang terkenal dan salah seorang ulama besar dari keluarga Rasulullah saw, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=parapemikir.wordpress.com&#038;blog=8959315&#038;post=389&#038;subd=parapemikir&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="mceTemp">
<dl class="wp-caption alignleft">
<dt class="wp-caption-dt"><a href="http://parapemikir.com/pelihara-roh-anda"><img class="size-thumbnail wp-image-390" title="roh" src="http://parapemikir.com/wp-content/uploads/2009/06/roh-150x150.jpg" alt=" " width="150" height="150" /></a></dt>
<dd class="wp-caption-dd"></dd>
</dl>
</div>
<p style="text-align:justify;">Pada suatu hari Abu Bashir berada di Masjid A-Haram. la terpesona rnenyaksikan ribuan orang yang bergerak mengelilingi Kabah, mendengarkan gemuruh tahlil, tasbih, dan takbir mereka. Ia membayangkan betapa beruntungnya orang-orang itu. Mereka tentu akan mendapat pahala dan ampunan Tuhan. Imam Ja&#8217;far Al-Shadiq, tokoh spiritual yang terkenal dan salah seorang ulama besar dari keluarga Rasulullah saw, menyuruh Abu Bashir menutup matanya. Imam Ja&#8217;far mengusap wajahnya. Ketika ia membuka lagi matanya, ia terkejut. Di sekitar Ka&#8217;bah ia melihat banyak sekali binatang dalam berbagai jenisnya- mendengus, melolong, mengaum. Imam Ja&#8217;far berkata, &#8220;Betapa banyaknya lolongan atau teriakan; betapa sedikitnya yang haji.&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;"><span id="more-389"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Apa yang disaksikan Abu Bashir pada kali yang pertama adalah tubuh-tubuh manusia. Apa yang dilihat kedua kalinya adalah bentuk-bentuk roh mereka. Kita adalah makhluk yang hidup di dua alam sekaligus. Tubuh kita hidup di alam fisik, terikat dalam ruang dan waktu. Para ulama menyebut alam fisik ini sebagai alam nasut, alam yang bisa kita lihat dan kita raba, Kita dapat menggunakan pancaindera kita untuk mencerapnya. Sementara itu, roh kita hidup di alam metafisik, tidak terikat dalam ruang dan waktu. Para ulama menyebut alam ini alam malakut. Menurut Al-Quran, bukan hanya manusia, tetapi segala sesuatu mempunyai malakut-nya. &#8220;Maka Mahasuci (Allah) yang di tangan-Nya malakut segala sesuatu. Dan kepada-Nyalah kamu dikembalikan.&#8217; (QS. Yasin 83); &#8216;Dan demikianlah kami perlihatkan kepada Ibrahim, malakut langit dan bumi.&#8221; (QS. Al-An&#8217;arn 75)</p>
<p style="text-align:justify;">Roh kita, karena berada di alam malakut, tidak dapat dilihat oleh mata lahir kita. Roh adalah bagian batiniah dari diri kita. Ia hanya dapat dilihat oleh mata batin. Ada sebagian di antara manusia yang dapat melihat roh dirinya atau orang lain. Mereka dapat menengok ke alam malakut. Kemampuan itu diperoleh karena mereka sudah melatih mata batinya dengan riyadhah kerohanian atau karena anugrah Allah (al-mawahib al-rabbaniyyah). Para Nabi, para walli, dan orang-orang saleh seringkali mendapat kesempatan melihat ke alam rnalakut itu.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Makanan Roh</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Roh -seperti tubuh-juga dapat berada dalam berbagai keadaan. Imam Ali kw berkata, &#8216;Sesungguhnya tubuh mengalami enam keadaan; sehat, sakit, mati, hidup, tidur, dan bangun. Demikian pula roh. Hidupnya adalah ilmunya, matinya adalah kebodohannya., sakitnya adalah keraguannya, dan sehatnya adalah keyakinannya, tidurnya adalah kelalaiannya, dan bangunnya ialah penjagaannya.&#8217; (BiharAl-Anwar 61:40)</p>
<p style="text-align:justify;">Seperti tubuh, roh pun memerlukan makanan. Mulla Shadra tidak menyebutnya makanan. Ia menyebutnya rezeki. Ia berkata, &#8216;Setiap yang hidup perlu rezeki, dan rezeki arwah adalah cahaya-cahaya ilahiah dan ilmu-ilmu rabbaniah.&#8217; (Mafatih AI-Ghaib 545)</p>
<p style="text-align:justify;">Untuk meningkatkan kualitas roh, supaya ia sehat dan kuat, kita perlu memberikan kepadanya cahaya-cahaya ilahiah dalam bentuk zikir, doa, dan ibadat-ibadat lainnya seperti salat, puasa, dan haji. Pada Bulan Ramadhan, kita berusaha menerangi roh kita dengan berbagai makanan rohani. Kita mandikan roh kita dengan proses pensucian batin, seperti istighfar, mengendalikan hawa nafsu, dan menjauhi kemaksiatan. Karena itu Nabi saw bersabda, &#8216;Bulan Ramadhan adalah bulan yang diwajibkan atas kamu puasanya dan disunnahkan bagimu bangun malamnya. Barangsiapa yang berpuasa dan melakukan salat malamnya dengan iman dan ikhlas, Tuhan akan mengampuni dosa-dosanya yang terdahulu. (Dalam riwayat lain) la akan keluar dari dosa-dosanya seperti ketika ia keluar dari perut ibunya.&#8217;</p>
<p style="text-align:justify;">Kita menghidupkan roh dengan ilmu-ilmu rabbaniah. Inilah yang kita maksud dengan dimensi intelektual dari keberagamaan kita. Ada ilmu-ilmu yang membantu kita untuk memelihara kesehatan tubuh kita seperti ilmu gizi, kedokteran, ekologi, dan sebagainya. Di samping itu, ada ilmu-ilmu yang menolong kita untuk menyehatkan roh kita: ilmu-ilmu tentang Al-Quran dan Sunnah (syariat), ilmu-ilmu tentang cara mendekatkan diri kita kepada Allah (thariqat), dan ilmu-ilmu berkenaan dengan pengalaman rohaniah (haqiqat).</p>
<p style="text-align:justify;">Seperti tubuh, roh yang tidak diperhatikan dan dipelihara, roh yang kekurangan makanan akan menjadi roh yang lemah, sakit-sakitan, dan akan dikuasai setan. Roh yang sakit tampak dalam gejala-gejala seperti kegelisahan, keresahan, kebingungan, hidup yang tidak bermakna, hidup tanpa tujuan, kosongan eksistensial (existential vacuum). Pendeknya, roh yang sakit tampak dalam hidup yang tidak tentram. Al-Quran melukiskannya, &#8216;Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit dan kami menghimpunkannya pada Hari Kiamat dalam keadaan buta.&#8221; (QS. Thaha 124); &#8220;Barangsiapa yang Allah menghendaki akan diberikan kepadanya pet-unjuk, niscaya dia melapangkan dadanya untuk Islam. Dan barangsiapa dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki ke langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman.&#8217; (QS. Al-An&#8217;am 120).</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Keindahan Roh</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Seperti tubuh, arwah mempunyai rupa yang bermacam-macam: buruk atau indah; juga mempunyai bau yang berbeda: busuk atau harum. Rupa roh jauh lebih beragam dari rupa tubuh. Berkenaan dengan wajah lahiriah, kita dapat saja menyebut wajahnya mirip binatang, tapi pasti ia bukan binatang. Roh dapat betul-betul berupa binatang -babi atau kera. Tuhan berkata, &#8216;Katakanlah: apakah akan Aku beritakan kepadamu tentang orang-orang yang lebih buruk kedudukannya di sisi Allah, yaitu orang-orang yang dikutuki dan dimurkai Allah, di antara mereka ada yang dijadikan kera dan babi dan penyembah Thagut? Mereka itu lebih buruk tempatnya dan lebih tersesat dari jalan yang lurus. (Al-Maidah 60)</p>
<p style="text-align:justify;">Al-Ghazali menulis: &#8216;Al-Khuluq dan Al-Khalq kedua-duanya digunakan. Misalnya si Fulan mempunyai khuluq dan khalq yang indah -yakni indah lahir dan batin. Yang dimaksud dengan khalq adalah bentuk lahir, yang dimaksud dengan khuluq adalah bentuk batin. Karena manusia terdiri dari tubuh yang mencerap dengan mata lahir dan roh yang mencerap dengan mata batin. Keduanya mempunyai rupa dan bentuk baik jelek maupun indah. Roh yang mencerap dengan mata batin memiliki kemampuan yang lebih besar dari tubuh yang mencerap dengan mata lahir. Karena itulah Allah memuliakan roh dengan menisbahkan kepada diri-Nya. Ia bersabda, &#8216;Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat, Aku menjadikan manusia dan&#8217; tanah. Maka apabila telah kusempurna kan kejadiannya dan kutiupkan kepadanya rohku; maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadanya.&#8217;(QS. Shad 71-72). Allah menunjukkan bahwa jasad berasal dari tanah dan roh dari Tuhan semesta alam. (Ihya Ulum Al-Din, 3:58).</p>
<p style="text-align:justify;">Khuluq -dalam bahasa Arab- berarti akhlak. Roh kita menjadi indah dengan akhlak yang baik dan menjadi buruk dengan akhlak yang buruk. Dalam teori akhlak dari Al-Ghazali, orang yang selalu mengikuti hawa nafsunya, akan memiliki roh yang berbentuk babi; orang yang pendengki dan pendendam akan memiliki roh yang berbentuk binatang buas; orang yang selalu mencari dalih buat membenarkan kemaksiatannya akan mempunyai roh yang berbentuk setan (monster) dan seterusnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Ketika turun ke bumi, karena berasal dari Mahasuci, roh kita dalam keadaan suci. Ketika kita kembali kepadanya, roh kita datang dalam bentuk bermacam-macam. Ketika pohon pisang lahir ke dunia, ia lahir sebagai pohon pisang. Ketika mati, ia kembali sebagai pohon pisang lagi. Ketika manusia lahir, ia lahir sebagai manusia. Ketika mati, ia kembali kepada Tuhan dalam berbagai bentuk, tidak hanya dalam bentuk manusia saja. Ia dapat kembali dalam bentuk binatang, setan, atau cahaya.</p>
<p style="text-align:justify;">Walhasil, untuk memperindah bentuk roh kita, kita harus melatihkan akhlak yang baik. Meningkatkan kualitas spiritual, berarti mernperindah akhlak kita. Kita menyimpulkan prinsip ini dalam doa ketika bercermin. &#8220;Allahumma kama ahsanta khalqi fa hassin khuluqi.&#8217; (Ya Allah, sebagaimana Engkau indahkan tubuhku, indahkan juga akhlakku).</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Roh dalam Maut</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Kita kutipkan di sini hadits yang panjang; </p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Kami sedang mengantarkan jenazah di Baqi. Kemudian datanglah Nabi dan duduk bersama kami di dekat jenazah. Kami tundukkan kepala kami seakan-akan burung hinggap di atasnya. Ia berkata: Aku berlindung dari siksa kubur, 3X. Sesungguhnya manusia mukmin ketika hendak memasuki akhirat dan meninggalkan dunia, turunlah malaikat kepadanya dengan wajah yang bersinar seperti cahaya matahari. Mereka duduk di dekat rnayit sepanjang mata memandang. Lalu datanglah malakal maut dan duduk di dekat kepalanya dan berkata: Hai roh yang baik, keluarlah menuju ampunan Allah dan keridhaannya. Maka keluarlah roh itu mengalir seperti rnengalirnya tetesan air dari mulut cerek. Malaikat maut mengambilnya. Apabila ia sudah mengambilnya, ia tidak membiarkannya berada di tangannya sekejap mata pun sampai ia menyimpannya di dalam kafan. Dari roh itu keluarlah bau harum semerbak memenuhi permukaan bumi. Para malaikat naik membawa roh itu. Setiap kali mereka rnelewati kelompok malaikat yang lain, mereka ditanya, &#8216;Siapa roh yang baik ini?&#8217; Mereka menyebut Fulan bin Fulan dengan nama-nama yang indah yang diperolehnya di dunia. Ketika sampai di langit dunia, dibukakanlah pintu baginya. Pada setiap langit, malaikat mengantarkannya sampai ke langit berikutnya dan seterusnya sampai ke Allah Ta&#8217;ala. </p>
<p style="text-align:justify;">Allah berfirman: &#8216;Tuliskan kitab hamba-Ku di tempat yang tinggi. Kembalikan dia ke bumi karena aku menciptakannya dari bumi, mengembalikannya ke bumi, dan mengeluarkannya dari bumi sekali lagi. Lalu rohnya dikembalikan ke jasadnya. Dua malaikat datang dan duduk bersamanya seraya berkata: Siapa Tuhanmu? Ia berkata: Tuhanku Allah. Apa agamamu? Agamaku Islam. Siapa laki-laki yang diutus kepadamu? Rasulullah. Darimana kamu mengetahui hal ini? Aku membaca Kitabullah, beriman kepadanya, dan membenarkannya. Seorang penyeru berseru dari langit: Benar hambaku. Hamparkan baginya tikar dari surga. Bukakan baginya pintu dari surga. Lalu angin dan semerbak surga datang kepadanya. Kuburan dilegakan seluas pandangan mata. Seseorang yang berwajah cantik datang kepadanya dengan baju yang indah dan bau yang harum. Ia berkata: Bergembiralah dengan apa-apa yang akan membahagiakan kamu. Inilah hari yang dijanjikan kepadamu. Mayit bertanya: siapakah kamu? Wajahmu wajah yang membawa kebaikan. Ia berkata: Saya. amal shalehmu. Ia berkata: Tuhanku, tegakkanlah hari kiamat supaya aku kembali kepada keluargaku dan kekayaanku.</p>
<p style="text-align:justify;">Bila seorang kafir meninggalkan dunia dan memasuki akhirat, dari langit turunlah mialaikat berwajah buruk dan membawa kain yang buruk. Mereka duduk di dekat mayit sepanjang mata memandang. Lalu datanglah malakal maut dan duduk di dekat kepalanya dan berkata: Hai roh yang buruk, keluarlah menuju kemurkaan Allah dan kemarahan-Nya.. Malaikat maut mencabut nyawanya seperti sisir besi mencabuti bulu yang basah. Mailakat maut mengambilnya. Apabila ia sudah mengarnbilnya, ia tidak membiarkannya berada di tangannya sekejap mata pun sampai ia menyimpannya di dalam kain buruk itu. Dari roh itu keluar bau yang lebih busuk dari bau bangkai dan memenuhi permukaan bumi. Para malaikat naik mernbawa roh itu. Setiap kali mereka melewati kelompok malaikat yang lain mereka ditanya. &#8220;Siapa roh yang buruk ini&#8221;? Mereka menjawab; Fulan bin Fulan dan menyebutnya dengan nama-nama yang buruk yang diperolehnya dari dunia. Ketika ia sampai ke langit dunia, ia minta dibukakan pintu langit, tetapi tidak dibukakan kepadanya. Kemudian. Rasulullah saw membaca ayat Al-Quran, &#8220;Sesingguhnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat kami dan menyombongkan diri terhadapnya, sekali-kali tidak akan dibukakan kepada mereka pintu-pintu langit dan tidak pula mereka masuk surga, seperti tidak mungkinnya unta masuk ke lubang jarum. (QS. Al-A&#8217;raf 40) </p>
<p style="text-align:justify;">Allah berfirman, &#8216;Tuliskan kitabnya di bumi yang paling rendah.&#8217; Maka dilemparkanlah rohnya. Kemudian Nabi membaca ayat Al-Quran, &#8216;Dan barangsiapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka adalah ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh. (QS. AI-Haj 31) Lalu rohnya dikembalikan ke jasadnya. Dua malaikat datang dan duduk bersamanya, seraya berkata: Siapa Tuhanmu? Ia berkata: Ah, aku tidak tahu. Seorang penyeru berteriak dari langit: Bohong hambaku. Hamparkan kepadanya tikar dari api neraka. Bukakan baginya pintu neraka. Panas dan keringnya neraka mendatanginya. Kuburannya disempitkan sampai pecah tulang-tulangnya. Seseorang yang berwajah buruk, berpakaian buruk, berbau busuk datang kepadanya dan berkata: Terimalah berita yang menyusahkan kamu. Inilah hari yang telah dijanjikan kepadamu. Mayit bertanya, &#8216;Siapakah kamu? Wajahmu wajah yang membawa keburukan.&#8217; Ia menjawab, &#8216;Aku amalmu yang buruk.&#8217; Mayit itu berkata: Tuhanku jangan tegakkan hari kiamat. (Ibn Qayyim Al-Jawziyyah, Al-Roh hal 44-45).</p>
<p style="text-align:justify;">Wallahu&#8217;alambishawab</p>
<p style="text-align:justify;">Oleh : Prof.Dr.KH. Jalaluddin Rakhmat</p>
<p style="text-align:justify;">Posted by :</p>
<div style="font:10pt arial;">&#8212;&#8211; Original Message &#8212;&#8211;</div>
<div style="background:#e4e4e4;font:10pt arial;"><strong>From:</strong> ismardhani</div>
<div style="font:10pt arial;"><strong>To:</strong> <a title="parapemikir@yahoogroups.com" href="mailto:parapemikir@yahoogroups.com">parapemikir@yahoogroups.com</a></div>
<div style="font:10pt arial;"><strong>Sent:</strong> Wednesday, June 10, 2009 9:00 AM</div>
<div style="font:10pt arial;"><strong>Subject:</strong> [parapemikir] Pelihara Roh Anda !</div>
<p style="text-align:justify;"> </p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/parapemikir.wordpress.com/389/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/parapemikir.wordpress.com/389/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/parapemikir.wordpress.com/389/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/parapemikir.wordpress.com/389/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/parapemikir.wordpress.com/389/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/parapemikir.wordpress.com/389/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/parapemikir.wordpress.com/389/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/parapemikir.wordpress.com/389/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/parapemikir.wordpress.com/389/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/parapemikir.wordpress.com/389/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/parapemikir.wordpress.com/389/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/parapemikir.wordpress.com/389/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/parapemikir.wordpress.com/389/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/parapemikir.wordpress.com/389/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=parapemikir.wordpress.com&#038;blog=8959315&#038;post=389&#038;subd=parapemikir&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://parapemikir.wordpress.com/2009/06/10/pelihara-roh-anda/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/937a324ba87642b2af63ec361902dc3b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">aksesb01</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://parapemikir.com/wp-content/uploads/2009/06/roh-150x150.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">roh</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Menghilangkan aku menghadirkan Tuhan</title>
		<link>http://parapemikir.wordpress.com/2008/09/26/menghilangkan-aku/</link>
		<comments>http://parapemikir.wordpress.com/2008/09/26/menghilangkan-aku/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 26 Sep 2008 12:54:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aksesb01</dc:creator>
				<category><![CDATA[IRFAN]]></category>
		<category><![CDATA[Mailing List Parapemikir]]></category>
		<category><![CDATA[antropomorfisme]]></category>
		<category><![CDATA[Menghilangkan aku menghadirkan Tuhan]]></category>
		<category><![CDATA[skularisme]]></category>
		<category><![CDATA[teomorfisme]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://parapemikir.com/?p=199</guid>
		<description><![CDATA[In parapemikir@ yahoogroups. com, Ahmad Samantho &#60;ay_samantho@ &#8230;&#62; wrote: Dalam kehidupan modern, sering dibedakan antara kebenaran Tuhan dengan kebenaran manusia. Sehingga teologi harus diturunkan pada level kemanusiaan (antropomorfisme). Ketuhanan baru berarti, jika mampu menyelesaikan dan berangkat dari paradigma kemanusiaan. Sampai-sampai sekularisme mensyaratkan &#8220;hilangnya Tuhan&#8221; demi kemajuan dunia. Kita tentu bertanya, bagaimana bisa ciptaan terbebas dari [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=parapemikir.wordpress.com&#038;blog=8959315&#038;post=199&#038;subd=parapemikir&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>In parapemikir@ yahoogroups. com, Ahmad Samantho</p>
<p>&lt;ay_samantho@ &#8230;&gt;</p>
<p>wrote:</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam kehidupan modern, sering dibedakan antara kebenaran Tuhan dengan kebenaran manusia. Sehingga teologi harus diturunkan pada level kemanusiaan (antropomorfisme). Ketuhanan baru berarti, jika mampu menyelesaikan dan berangkat dari paradigma kemanusiaan. Sampai-sampai sekularisme mensyaratkan &#8220;hilangnya Tuhan&#8221; demi kemajuan dunia.</p>
<p style="text-align:justify;">Kita tentu bertanya, bagaimana bisa ciptaan terbebas dari pencipta? Bisa kata Newton, sebab alam seperti jam yang memiliki mesin sendiri. Jadi, setelah Tuhan mencipta &#8220;jam&#8221; itu, maka Dia dianggap nganggur. Manusia dengan akalnya telah mampu melihat dan bahkan menguasai mesin (hukum alam) yang membuat jam berdetak. Maka dimana lagi tersedia ruang bagi Tuhan?</p>
<p style="text-align:justify;">Adalah Muhammad Bagir MA, dosen filsafat dan tasawuf pada Islamic College for Advanced Studies (ICAS) Jakarta, yang menjadi salah satu garda depan, dari pihak yang mengritik paradigma ini. Melalui filsafat perenial, sebuah disiplin keilmuan yang menggabungkan antara rasionalitas filosofis dengan dimensi irfani dari tasawuf, ia mencoba mengklarifikasi salah paham akal modern, yang menciptakan degradasi makna berpikir, dari intelek (akal batin), kepada reason (rasio). Baginya, pemisahan antara akal dan jiwa inilah yang membuat manusia modern, menjadi tuhan-tuhan kecil diatas bumi, yang sayangnya tak mampu melepaskan diri dari jerat samsara (kesengsaraan), akibat kedunguan spiritualitas, dan arogansi egoisme. Meminjam Lukacs, manusia modern tengah mengalami transcendental homelessness : hilangnya hubungan harmonis dan keterkaitan batiniyah dengan dunia. Orang tidak lagi menemukan makna dan tujuan hidup, justru ketika berbagai alat kemanusiaan telah dikuasai. Berikut ini wawancara Cahaya Sufi dengan dosen kelahiran Singapura dan lulusan Universitas Qum Teheran tersebut.<span id="more-199"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Menurut Mas Bagir, bagaimana tasawuf bisa menjelaskan, bahwa ketika berada di jalan Tuhan, maka kita bisa menyelesaikan masalah dunia (kemanusiaan)?</p>
<p style="text-align:justify;">Kita lihat dalam Kristen dulu ya. Dalam Kristen, the word (kalimat) itu mendaging, meat, flesh. Antropomorfisme. Maknanya, Tuhan turun dalam form manusia. Ketika Tuhan turun dalam form manusia, sepertinya Tuhan merasakan kesengsaraan manusia. Dia mau menunjukkan, bahwa Aku dalam form manusia bisa menyelamatkan kalian dari kesengsaraan. Tuhan berkata, bahwa ketika manusia terhubung dengan Aku, mereka bisa selamat, salvation. Sementara dalam Islam kan teo-morfisme, bukan antropomorfisme. Tuhan tidak &#8220;mendaging&#8221; dalam manusia, tetapi manusia melangit. Jadi teo-morfisme merupakan tajalli Tuhan. Perbedaannya ada tapi tidak mencari mana yang benar mana yang salah. Disini manusia jadi tajalli-nya Tuhan. Berarti manusia jadi refleksi. Dan ketika manusia menjadi tajalli Tuhan, dirinya sendiri sudah tidak ada lagi. Jadi dalam Islam, manusia bisa menghilangkan individualisme untuk mencapai pada the divine (ketuhanan).</p>
<p style="text-align:justify;">Apa kaitannya dengan individualisme?</p>
<p style="text-align:justify;">Semua suffering, masalah dunia di hidup kita kan karena individualitas kita. Karena kita mengakui &#8220;aku&#8221;, dalam Buddhism kan gitu juga. Kalau aku-nya hilang, ya nggak akan ada masalah. Misalnya kalau kita bawa dalam preposisi: ada subjek ada predikat. Predikat bisa gembira, sedih, aku sedih, aku gembira, aku stress. Coba kalau subjek (aku) -nya hilang, nggak ada apa-apa lagi kan? Kita boleh saja sedih, sakit, tetapi karena &#8220;aku&#8221; tak ada, maka tak ada yang merasakan segala kesakitan itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Nah disini bedanya ilmu akhlak dan metafisik. Misalnya, akhlak takabur. Dalam ilmu akhlak dijelaskan, definisi takabur itu apa, efek yang akan merusak jiwa kita gimana? Jadi kita harus gantikan pada predikat yang positif. Disini ilmu akhlak lebih konsentrasi pada predikat. Tapi selagi ada subjek, tetap ada predikat kan? Sementara irfan dan tasawuf konsentrasi pada subjek. Hilangkan subjek dong. Ketika subjek hilang, Subjek dengan &#8220;S&#8221; besar muncul. Aku (Ana) yang besar, maka predikat-predikatnya muncul kan, Asmaul husna. Itu namanya tajalli. Dengan cara itu manusia selamat dari segala kesengsaraan dalam kehidupan individualisnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Bagaimana cara untuk menghilangkan &#8220;aku&#8221;?</p>
<p style="text-align:justify;">Harus ada ilmu. Ilmu yang selama ini kita pelajari ada dua macam. Ada accumulatif knowledge, ada yang annihilatif knowledge. Accumulatif itu kan akumulasi. Kita semakin banyak mencari ilmu. Ketika terjadi akumulasi, maka harus ada subjek, dan subjek ini mengakumulasi knowledge. Aku &#8216;alim, aku mengetahui, aku lebih pintar. Tetapi annihilation, nihilasi (fana&#8217;), ilmu yang menghilangkan subjek. Misalnya, laa ilaahaillallah, tiada Tuhan selain Allah. Kenapa? Karena Dia mutlak. Sesuatu yang mutlak, jelas tidak terbatas. Sesuatu yang tidak terbatas, tidak mengizinkan dua realitas. Ketika dia terbatas, pasti ada yang lain. Jadi konsep tauhid juga berkata seperti itu. Tidak ada realitas, selain Dia menghilang semuanya. Kalau hilang subjek ya sudah. Kita akan melihat seluruh alam ini dengan kaca mata Dia, bukan kaca mata individualis lagi. Jadi kalau ada masalah, kita kan sering lari darinya, dan masuk masalah lain. Yang harus kita lakukan seharusnya beyond, melampaui. Apa yang bisa bawa kita keluar dari masalah.</p>
<p style="text-align:justify;">Karena masyarakat modern kan, kalau ingin menyelesaikan masalah ekonomi ya dengan ekonomi, politik dengan politik, dsb. Nah kalau pendekatan spiritual, misalnya kalau kita menghadapi masalah politik, yang kita lakukan adalah &#8220;penghancuran kedalam&#8221; ya?</p>
<p style="text-align:justify;">Ya, karena kalau sudah hancur aku-nya, yang muncul kan tajalli-nya Allah. Contoh, Banyak teman-teman yang tanya sama saya, &#8220;Saya takut mau suluk&#8221;. Kenapa? &#8220;Kalau saya suluk, mungkin saya akan tinggalkan dunia ini&#8221;. Seorang istri akan bimbang kalau suaminya tinggalkan dia, tidak perdulikan nafkah, anak-anak.</p>
<p style="text-align:justify;">Seolah-olah Tuhan itu di barat, dan dunia di timur ya. Kalau ke barat ya harus ninggalin timur?</p>
<p style="text-align:justify;">Makanya saya terus bilang, &#8220;Bu, kalau orang suluk, dia akan hilang egonya, individualnya, ananiyah-nya. Yang akan tajalli itu Tuhan. Ketika Tuhan tajalli, Tuhan al-&#8217;alim, Tuhan al-raziq, Tuhan arrahman. Lalu ibu akan berinteraksi dengan siapa? Jadi suami ibu nggak ada, yang ada hanya Yang Pengasih dan Penyayang. Pasti dia al-raziq. Ketika dia kerja, kasih uang, dia sebagai al-raziq, bukan sebagai manusia yang memberi nafkah pada isteri. Nah banyak orang melupakan hal ini. Ketika manusia menyatu dengan Tuhan, orang pikir kalau kita mau suluk, kita akan tinggalkan semuanya. Padahal dalam al-Qur&#8217;an Allah itu kan wahuwa ma&#8217;akum, Dia bersama dengan kalian, ainamaa kuntum, dimana saja kalian berada. Jadi kalau kita menjadi manifestasi Tuhan, kita bukan hanya dengan keluarga, kita bersama dengan semua manusia, pohon, alam, dsb. Contoh. Nabi Muhammad saw. sampai sekarang hadir bersama kita. Nabi Muhammad saw. bukan keberadaan temporal. Sampai sekarang ia bersama kita. Assalamu&#8217;alaika ayyuhan Nabi. Jadi bukan terputus dari kehidupan, justru semakin terkait dengan kehidupan.</p>
<p style="text-align:justify;">Nah, ada juga problem Mas. Masyarakat kan sering memisahkan akal dengan hati. Artinya, mungkin bisa dijelaskan perbedaan fungsional antara reason (rasio) dengan intelek (qalbu)?</p>
<p style="text-align:justify;">Kalau reason, kan berada di wilayah ilmu hushuli, konseptual. Padahal ilmu konseptual sebenarnya produksi manusia sendiri. Tapi kalau intelek itu ilmu hudhuri, dimana subjek dan objek tidak terpisah. Antara yang mengetahui dan yang diketahui tidak pernah terpisah. Dia menyatu. Seperti, saya sadar dengan diri saya sendiri. Aku tahu aku. Aku subjek, aku juga objek kan. Demikian juga, aku lapar. Lapar itu satu objek pengetahuan, kita tahu. Subjek ilmu, saya kan. Tapi lapar bukan berada diluar saya, tetapi didalam diri saya sendiri. Bukan identitas saya juga, tetapi sebagian dari aspek saya.</p>
<p style="text-align:justify;">Kalau Maulana Rumi menceritakan perbedaan itu. Diceritakan ada kompetisi melukis, menggambar taman bunga. Satu group minta kanvas, kuas, dan cat yang paling bagus. Sementara group lain hanya minta cermin. Setelah jadi dilihat, oh ini lukisannya bagus, lukisan di kanvas, persis seperti taman, tapi cuma satu dimensi saja. Sementara cermin kan refleksi, oh ini persis sekali. Nah, kalau filsuf itu melukis realitas, dengan konsep, ide dan pemahamannya. Kalau seorang &#8216;arif, realitas dimasukkan dalam hatinya, cermin itu qalbu-nya. Realitasnya ada didalam cermin, jadi tidak terpisah dari dia. Makanya dalam hadist, &#8220;Bumi tidak bisa menempatkan Aku, langit juga tidak bisa, kecuali qalbu mu&#8217;min&#8221;. Nah dimana kita menempatkan Tuhan yang tidak terbatas? Dengan merefleksikan Dia tentunya.</p>
<p style="text-align:justify;">Cermin itu didalam manusia?</p>
<p style="text-align:justify;">Qalbu itu cermin. Allah ada disitu. Qalbu kan divine, bukan human. Gimana qalbu bisa menempatkan Tuhan yang tidak terbatas, kecuali kalau qalbu itu sendiri adalah Tuhan. Man &#8216;arafa nafsahu faqad &#8216;arafa Rabbahu, maksudnya ya Tuhan yang mengenal diri-Nya sendiri. Nggak mungkin manusia kenal Tuhan. Jadi Tuhan itu mengenal diri-Nya sendiri.</p>
<p style="text-align:justify;">Intelek seperti itu. Kalau ilmu hushuli kan konsep, melukis realitas. Kalau ilmu hudhuri, kita masukkan realitas dalam hati. Kalau kita melihat politik dengan kaca mata Tuhan gimana? Nabi melihat politik dengan kaca mata Tuhan gimana? Jadi Nabi setiap ada permasalahan selalu bertanya kepada Allah, itu bahasa teologisnya. Tetapi sebenarnya, Aku adalah Dia. Jadi bukan politik humanis lagi, tapi politik divine. Disini filsafat perennial, tasawuf, atau irfan, mau menghidupkan divinity (ketuhanan) dalam diri manusia. Ketika Tuhan hadir, kan alaa bi dzikrillahi tathmainnul qulub. Salah satu nama Tuhanpun al-Mu&#8217;min, Yang Memberi Keamanan. Jadi ketika Dia hadir, Dia akan memberi keamanan pada semunya. Khan ada hadist, al-mu&#8217;min miratul mu&#8217;min (mukmin adalah cermin bagi mukmin). Disini yang bercermin bukan antara dua manusia mukmin, tetapi antara mukmin manusia dengan al-Mukmin (Tuhan).</p>
<p style="text-align:justify;">Di Paramadina saya pernah ditanya, &#8220;Tuhan dengan manusia kan beda?&#8221; Saya jelaskan, dalam al-Qur&#8217;an ada ayat tentang Nabi Muhammad, innama ana basyarun mistlukum (Sesungguhnya aku adalah manusia seperti kalian). Saya bertanya pada Bapak itu, &#8220;Pak, disini jelas bahwa Muhammad itu seperti manusia, seperti kalian, mistlukum. Seperti, jadi sebenarnya bukan persis manusia. Lalu kalau begitu, Muhammad itu apa?&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">Maksudnya?</p>
<p style="text-align:justify;">Tuhan mau menyelamatkan manusia di bumi ini. Tetapi kalau Tuhan menurunkan manusia, sama kan, kualitas, kharakter. Jadi nggak bakal selamat. Maka yang harus membimbing manusia itu harus Aku, kata Tuhan. Makanya Aku akan jadikan manusia, khalifah: cermin Aku sendiri. Jadi Tuhan, mau membimbing manusia tanpa meninggalkan langit, caranya bagaimana? Bahasa simbolisnya kan. Kalau Tuhan turun, langit kosong dong. Khan di al-Qur&#8217;an, fi al-samaai Ilaahun fi al-ardli Ilaahun (di langit Tuhan, di bumi Tuhan). Satu cara untuk Tuhan turun ke bumi, tanpa meninggalkan langit itu, taruh cermin dibawah, namanya khalifatullah. Dia sendiri yang datang. Al-Haadi, Yang Memberi Petunjuk.</p>
<p style="text-align:justify;">Cara atau metodologi dalam kedua ilmu yang berbeda itu seperti apa Mas? Al-Ghazali berkata, bahwa pencarian kebenaran tidak hanya melalui rasio, tetapi juga eksperimental ruhaniyah. Apakah seperti itu?</p>
<p style="text-align:justify;">Mereka yang belum menyadari kehadiran intelek, paling tidak memiliki panca indera, dan rasio. Indera kita gunakan untuk melihat, afalaa tadabbarun, kamu lihat langit dan bumi, dan kamu kontemplasi. Rasio untuk berpikir. Sementara proses pemikiran kan berada dibawah bimbingan wahyu, dari Dia juga. Jadi tidak terputus dari Tuhan. Nah kita gunakan semua ini, untuk diarahkan pada kesadaran intelektus tadi. Ada beberapa langkah yang harus kita lakukan.</p>
<p style="text-align:justify;">Pertama, kita harus menempatkan diri kita dalam ruang agama. Tidak mungkin diluar agama. Sekarang di Barat ada yang nggak pakai agama, spiritual universal. Kata mereka, kalau sudah terikat oleh agama, maka tidak universal lagi. Padahal kalau kita terikat pada satu agama, kita makin universal. Karena tidak mungkin ada universal tanpa partikular. Contoh. Orang bilang kalau sudah ada batin, nggak butuh dhahir lagi. Bisa nggak saya bilang, saya kenal atas, tapi bawah saya nggak tahu? Nggak bisa kan. Kenal atas karena kenal bawah. Dhahir itu ada, karena ada batin kan, demikian sebaliknya. Nah, dalam agama ada jalan esoteris, jalan yang menghubungan manusia dengan al-Haq. Manusia harus ikut jalan itu. Itu syarat yang berada diluar diri manusia.</p>
<p style="text-align:justify;">Kedua, cara yang ada dalam diri manusia. Yakni himmah (aspirasi yang tinggi). Kata Syeh Ahmad Mustafa al-Alawy, dalam buku Sufi Abad ke-20 (Mizan), syarat minimal jika manusia ingin menuju Tuhan adalah himmah, aspirasi yang tinggi untuk mendekatkan diri pada-Nya. Misal, dalam satu tempat yang gelap, maka satu lubang cahaya yang dikit saja, itu sudah cukup. Kalau nggak ada lubang, semua tertutup, kita nggak bisa melampaui ruang yang gelap.</p>
<p style="text-align:justify;">Kata hadist Qudsy, &#8220;Jika hamba-Ku mendekati-Ku sejengkal, maka Aku akan mendekatinya sehasta&#8221;.</p>
<p style="text-align:justify;">Ya. Ketika ada aspirasi baru ada respon, Jadi adzkuruunii adzkurukum, jika kau mengingat Aku, maka Aku pun mengingatmu. Setelah himmah, maka harus ada iman. Iman kepada agama. Agama terbentuk dari wahyu, dan wahyu sebenarnya manifestasi dari Dia, jadi iman kepada Dia sebenarnya. Ini yang subjektif, himmah dan iman. Sementara yang objektif tadi, agama dan jalan dalam agama. Seorang sufi berkata, &#8220;Dari Tuhan kepada manusia ada jalannya. Tapi dari manusia ke Tuhan, nggak ada jalannya&#8221;. Jadi kalau ada orang tenggelam, yang melempar tali itu siapa? Orang yang dikapal atau yang tenggelam? Jadi jalan dari kapal ke laut ada, tapi kalau sebaliknya tidak ada. Oleh karena itu syariat dari Tuhan, bukan manusia yang membuat syariat. Jalan thariqah pun harus dari Tuhan. Karena kita kan berada di luar, mau kedalam. Apa kita buat jalan sendiri? Nggak mungkin. Itu yang saya maksudkan, agama harus ada &#8220;jalan kedalam&#8221;, dari batin agama itu sendiri.</p>
<p style="text-align:justify;">=======================</p>
<p style="text-align:justify;">&gt; &gt; Nidlol Masyhud &lt;nidlol@&#8230;. com&gt; wrote:</p>
<p style="text-align:justify;">Pertanyaan serius untuk para pendukung filsafat perenial aliran wihdatul wujud, ittihad, dan wujud mutlak seperti Pak Bagir ini,serta aliran-aliran seperguruan lainnya yang sama-sama parakonsisten:</p>
<p style="text-align:justify;">Ketika aku dihilangkan, apa logikanya sehingga aku itu digantikan oleh &#8220;Aku&#8221;? Mengapa yang menggantikannya bukan &#8220;syetan&#8221; atau &#8220;tetangga&#8221;? Segini dulu..</p>
<p style="text-align:justify;">Salam,</p>
<p style="text-align:justify;">Nidlol.</p>
<p style="text-align:justify;">========================</p>
<p style="text-align:justify;"> &#8212; On Tue, 9/16/08, Johnson Derry &lt;steffan74derry@ &#8230;&gt; wrote:</p>
<p style="text-align:justify;">From: Johnson Derry &lt;steffan74derry@ &#8230;&gt;</p>
<p style="text-align:justify;">Subject: Re: [parapemikir] Re: Menghilangkan Aku : Menghadirkan Tuhan</p>
<p style="text-align:justify;">To: parapemikir@ yahoogroups. com</p>
<p style="text-align:justify;">Date: Tuesday, September 16, 2008, 1:33 AM</p>
<p style="text-align:justify;"> </p>
<p style="text-align:justify;">Dear all,</p>
<p style="text-align:justify;">Mistikus dan spiritualis tak gampang dibedah oleh filsuf. Yang disebut terakhir akan paham jika ia mengalami pengalaman kedua yang disebut pertama.</p>
<p style="text-align:justify;"> </p>
<p style="text-align:justify;">Salam dan Hormat,</p>
<p style="text-align:justify;"> </p>
<p style="text-align:justify;">Johnson</p>
<p style="text-align:justify;"> </p>
<p style="text-align:justify;">========================</p>
<p style="text-align:justify;"> </p>
<p style="text-align:justify;"> </p>
<p style="text-align:justify;">&#8212; In parapemikir@ yahoogroups. com, Ahmad Samantho &lt;ay_samantho@ &#8230;&gt;</p>
<p style="text-align:justify;"> </p>
<p style="text-align:justify;">wrote:</p>
<p style="text-align:justify;"> </p>
<p style="text-align:justify;">Akhi Nidhol, Anda belum paham apa yang dipahami ustadz Muhammad Bagir.  Apakah setan itu secara hakiki benar-benar &#8220;Ada&#8221; (Eksis)? Bukankah tiada Yang Ada selain Tuhan Allah. &#8220;Kemana pun kamu hadapkan wajahmu, maka yang akan terlihat hanyalah wajah Allah.&#8221; (terj. Al Qur&#8217;an), &#8220;Semua selain-Nya adalah fana, yang baqo (Abadi) hanyalah Wajah Tuhan Rabb-mu Dzul Jalali wal Ikrom&#8230;&#8221; (Terjm. Al-Qur&#8217;an).</p>
<p style="text-align:justify;"> </p>
<p style="text-align:justify;">Kalau Antum belum kenal siapa hakikat diri Antum sendiri, maka Antum tak akan kenal Siapa Tuhanmu (&#8220;Man arofa nafsahu fa qad arofa Rabbahu.&#8221;).</p>
<p style="text-align:justify;">Semua di sisa umur Antum, Antum akan dapat menemukan kembali jalan pulang ke asalmu (dan asal kita semua: Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun).</p>
<p style="text-align:justify;"> </p>
<p style="text-align:justify;">============================</p>
<p style="text-align:justify;"> </p>
<p style="text-align:justify;">&#8212; On Tue, 9/16/08, Nidlol Masyhud &lt;nidlol@&#8230;&gt; wrote:</p>
<p style="text-align:justify;">From: Nidlol Masyhud &lt;nidlol@&#8230;&gt;</p>
<p style="text-align:justify;">Subject: [parapemikir] Re: Menghilangkan Aku : Menghadirkan Tuhan</p>
<p style="text-align:justify;">To: parapemikir@yahoogroups.com</p>
<p style="text-align:justify;">Date: Tuesday, September 16, 2008, 9:39 PM</p>
<p style="text-align:justify;"> </p>
<p style="text-align:justify;">Pak Ahmad,</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan logika itu, yang disebut sebagai Ustadz Muhammad Bagir itu juga tidak benar-benar ada.. Yang disebut milis &#8216;parapemikir&#8217; itu juga sebenarnya tidak ada.. Moderatornya yang disebut Mas Iman Alexander itu juga tidak ada.. Saya dan Anda juga tidak ada.. Pokoknya semua selain Tuhan itu tidak ada.</p>
<p style="text-align:justify;"> </p>
<p style="text-align:justify;">Sesuatu yang tidak ada, kok bisa ya berkata2..</p>
<p style="text-align:justify;">Sesuatu yang tidak ada, apa gunanya dikenali?</p>
<p style="text-align:justify;">Statemen &#8220;man &#8216;arofa nafsahu, &#8216;arofa rabbahu&#8221; dalam logika wihdatul</p>
<p style="text-align:justify;">wujud ini, akan otomatis berubah menjadi:</p>
<p style="text-align:justify;"> </p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;man &#8216;arofa laa syai&#8217; fa qod arofa rabballaa syai&#8217;&#8221; (&#8220;siapa yang telahmengenal nothing, berarti telah mengenal tuhannya nothing&#8221;).</p>
<p style="text-align:justify;"> </p>
<p style="text-align:justify;">Sebuah statemen yang sangat absurd, tidak masuk akal, tidak masuk jiwa, tidak masuk hati, dan tidak diajarkan oleh Rasulullah saw.</p>
<p style="text-align:justify;"> </p>
<p style="text-align:justify;">BTW, tejemahan yang betul untuk ayat di Al-Baqorah tersebut adalah:</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Kemanapun engkau menghadap, maka di situlah kiblat Allah&#8221; (versi penafsiran Imam Asy-Syafi&#8217;i dll)</p>
<p style="text-align:justify;"> </p>
<p style="text-align:justify;">atau:</p>
<p style="text-align:justify;"> </p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Kemanapun engkau menghadap, maka di arah itulah wajah Allah&#8221; (versi penafsiran Imam Ath-Thabari dll)</p>
<p style="text-align:justify;"> </p>
<p style="text-align:justify;">Sedangkan versi penafsiran yang Bapak sebutkan, saya belum menjumpai imam otoritatifnya.</p>
<p style="text-align:justify;"> </p>
<p style="text-align:justify;">=======================</p>
<p style="text-align:justify;"> </p>
<p style="text-align:justify;">&#8212; In parapemikir@yahoogroups.com, Ahmad Samantho &lt;ay_samantho@&#8230;&gt;</p>
<p style="text-align:justify;">wrote:</p>
<p style="text-align:justify;"> </p>
<p style="text-align:justify;">Assalamu&#8217;alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh,</p>
<p style="text-align:justify;"> </p>
<p style="text-align:justify;">Akhi Nidhol Mashyud, Ana memahami kenapa Antum masih punya pemahamanseperti itu, yang belum sepaham dengan Ustadz Muhammad Bagir.  Karena Antum alumni universitas Al-Azhar Mesir, maka disiplin ilmu keislaman yang Antum kuasai dan pahami mungkin dominan paham fiqhiyahnya atau kalam (teologi), dibanding falsafah atau tasawuf (irfan/islamic mysticism).</p>
<p style="text-align:justify;"> </p>
<p style="text-align:justify;">Pengertian &#8220;Ada&#8221; yang saya pakai Antum juga masih salah paham.Baiklah ijinkanlah saya menjelaskannya, semoga Antum mendapat hidayah Allah untuk dapat memahaminya.</p>
<p style="text-align:justify;"> </p>
<p style="text-align:justify;">Tuhan Allah, menurut para hukama wal arifin (filosof dan para sufi,seperti Ibnu A&#8217;rabi, Jalaluddin Rumi, dan Mulla Sadra), adalah Wajibal-Wujud (Wujud Mutlak= &#8220;Ada Mutlak&#8221; = &#8220;Absolute Existence&#8221;), Yang keber-ADA-an-Nya, tidak disebabkan oleh eksistensi (ada-ada) yang lain.  Dia &#8216;Ada&#8217; dengan sendirinya, Huwal awwalu wa alakhiru, dzahiru wal batinu,</p>
<p style="text-align:justify;"> </p>
<p style="text-align:justify;">Sedangkan yang selain Allah adalah makhluk ciptaan Allah, yang keberadaannya tidaklah mutlak (mumkin al wujud), karena keberadaannya hanyalah mungkin bisa ada karena disebabkan oleh &#8216;ADA&#8217; yang Mutlak (Absolute Existence), yaitu Allah SWT. Maka secara hakiki (Haqiqat) yang sebenarnya ADA (EXISTENCE) itu hanyalah Allah SWT saja. Yang lainnya hanya bisa ada atau mungkin ada kalau Tuhan Allah SWT menciptakannya dan mengadakannya. Silahkan kaji ayat-ayat al-Qur&#8217;an lebih banyak dan lebih mendalam, dengan menggunakan kacamata (epistemologi dan ontologi) yang lebih besar dan lebih jernih dan fokus ketika menerawang hal-hal yang detil dan lebih complex.</p>
<p style="text-align:justify;"> </p>
<p style="text-align:justify;">Bahkan keberdaan Antum dengan segala kondisinya saat ini, itupun tak lepas dari Causa Prima: Wajib al Wujud (Allah SWT), dan Antum, sebagaimana saya dan semua keberadaan lainnya, hanyalah tajaliyat (manifestasi dan refleksi/cerminan) dari Wajib al Wujud (Tuhan Allah SWT). Inilah yang dimaksud dengan &#8220;Wahdatul Wujud&#8221;. Alam semesta, kata ustadz Quraisy Shibab, Ahli tafsir Qur&#8217;an, hanyalah merupaka alamat atau tanda-tanda (addres) yang akan menyingkap dan menujukkan Realitas Al-Alim, Tuhan Yang Maha Mengetahui, Maha ber-Ilmu. Antum kan sudah tahu term Alam, Ilmu dan Alamat, masdarnya sama, yang terdiri dari huruf Alif, Lam, Mim.</p>
<p style="text-align:justify;"> </p>
<p style="text-align:justify;">Inilah pemahaman Tauhidi dari para Hukama wal &#8216;Arifin, terhadap asas pokok Islam dan asas pokok alam semesta: Wahdatul Wujud / Wihdatul Wujud atau &#8220;Ketuhanan Yang Maha Esa&#8221; (dalam bahasa Pancasila). konsekuensinya selain daripada Allah, hanyalah merupakan mumkinul wujud (contingent existence/contingent being) yang tergantung keberadaannya hanya pada Allah SWT. Kalau Allah yang berhekendak mengadakannya, maka ia tidak ada. Dari Wujud Yang Wahid / Ahad diciptakan keberadaan makhluk-makhluk dan alam semesta, yang beragam jenis, bentuk dan manifestasinya (pluralitas berasal dari unitas dan akan kembali kepada Yang Esa. Inilah makna &#8220;Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun.&#8221; Inilah makna &#8220;Bhineka Tunggal Ika&#8221;. Realitas yang beraneka ragam (plural)  yang tak terhitung jumlah species dan genus</p>
<p style="text-align:justify;">(jenisnya), namun semuanya merefleksikan suatu REALITAS TUNGGAL (Wahdah al-Wujud): yaitu Allah SWT. </p>
<p style="text-align:justify;"> </p>
<p style="text-align:justify;">Sementara sampai sini dulu diskusinya, insya-Allah, kalau Antum berkenan dan Allah SWT mengijinkan, kita lanjutkan diskusi dan proses pembelajaran kita ya Akhina, yang sama- sama merindukan Tuhan Allah.</p>
<p style="text-align:justify;"> </p>
<p style="text-align:justify;">Wallahu &#8216;Alam bi Shawab,</p>
<p style="text-align:justify;"> </p>
<p style="text-align:justify;">Akhuka al-faqir fillah: Ahmad Samantho</p>
<p style="text-align:justify;"> </p>
<p style="text-align:justify;">===================================</p>
<p style="text-align:justify;"> </p>
<p style="text-align:justify;"><strong>To:</strong> <a title="parapemikir@yahoogroups.com" href="mailto:parapemikir@yahoogroups.com">parapemikir@yahoogroups.com</a></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Sent:</strong> Wednesday, September 17, 2008 9:12 PM</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Subject:</strong> [parapemikir] Re: Menghilangkan Aku : Menghadirkan Tuhan</p>
<p style="text-align:justify;"> </p>
<p style="text-align:justify;"> </p>
<p style="text-align:justify;">Pak Ahmad yth,</p>
<p style="text-align:justify;"> </p>
<p style="text-align:justify;">Saya menghargai niat, usaha, dan semangat Antum untuk membela aqidah</p>
<p style="text-align:justify;">dan keyakinan yang memang antum anut.. apalagi Antum juga belum</p>
<p style="text-align:justify;">melihat ketidakcocokannya dengan akal sehat dan ajaran agama.</p>
<p style="text-align:justify;"> </p>
<p style="text-align:justify;">Tapi marilah kita telaah masalah ini secara lebih jernih dan terarah,</p>
<p style="text-align:justify;">serta detail dan obyektif. saya melihat, dalam komentar di bawah ini,</p>
<p style="text-align:justify;">Antum mencampurkan antara dua hal yang sama sekali berbeda.</p>
<p style="text-align:justify;"> </p>
<p style="text-align:justify;">Dalam paparan di bawah, Antum menmbawakan konsep dualitas &#8216;wajibul</p>
<p style="text-align:justify;">wujud&#8217; (entitas niscaya) dan &#8216;mumkinul wujud&#8217; (entitas kontigen) serta</p>
<p style="text-align:justify;">ketergantungan mumkinul wujud terhadap wajibul wujud. Saya heran, ini</p>
<p style="text-align:justify;">sama sekali bukan konsep khas aliran wahdatulk wujud. Ini justru</p>
<p style="text-align:justify;">adalah konsepnya para teolog mutakallimin dan para filsuf paripatetik.</p>
<p style="text-align:justify;">Ini adalah konsepnya Mu&#8217;tazilah, Jahmiyyah, Kullabiyyah, Asy&#8217;ariyyah,</p>
<p style="text-align:justify;">Karramiyyah, dan Salimiyyah. Serta (meskipn dalam format yang berbeda)</p>
<p style="text-align:justify;">juga merupakan konsepsinya Al-Faraby, Ibnu Sina, Ibnu Rusyd,</p>
<p style="text-align:justify;">Al-Abhury, dan Al-Urmuwy. Jadi sama sekali bukan konsep khas para</p>
<p style="text-align:justify;">penganjur wahdatul wujud dan pentheisme.</p>
<p style="text-align:justify;"> </p>
<p style="text-align:justify;">Antum juga perlu membedakan antara &#8216;wajibul wujud&#8217; dengan &#8216;al-wujud</p>
<p style="text-align:justify;">al-mutlak&#8217;. Yang pertama berarti &#8216;entitas niscaya&#8217; yag ada dengan</p>
<p style="text-align:justify;">sendirinya. Sedangkan yang kedua berarti &#8216;keberadaan&#8217; itu sendiri yang</p>
<p style="text-align:justify;">tidak mengandung atribut apapun selain atribut-atribut negasional dan</p>
<p style="text-align:justify;">atribut-atribut relasional. Baik Ibnu Sina cs maupun Ibu Arobi cs,</p>
<p style="text-align:justify;">Tuhan itu &#8220;al-wujud al-mutlak&#8221;. Tapi bagi Ibnu Sina cs, Tuhan itu</p>
<p style="text-align:justify;">wujud mutlak yang &#8220;bisyarthil ithlaq&#8221; (tak terspesifikasi). Sedangkan</p>
<p style="text-align:justify;">bagi Ibnu Arobi cs, Tuhan itu mujud mutlak yang &#8220;bighairi syarthil</p>
<p style="text-align:justify;">ithlak&#8221; (menspesifikasi). Bagi Ibnu Aroby, Spesifikai wujud mutlak ini</p>
<p style="text-align:justify;">merata pada semua entitas di alam (baik yang wajibul wujyud maupun</p>
<p style="text-align:justify;">yang mumkinul wujud), sehingga konsepnya pun disebut &#8220;al-ittihad</p>
<p style="text-align:justify;">al-&#8217;aam&#8221;. Sementara bagi Husein Al-Hallaj, spesifikasi ini terjadi</p>
<p style="text-align:justify;">secara personal pada pribadi-pribadi tertentu (termasuk dirinya),</p>
<p style="text-align:justify;">sehigga konsepnya pun disebut &#8220;al-huluul al-khaash&#8221;.</p>
<p style="text-align:justify;"> </p>
<p style="text-align:justify;">Jadi pagi aliran Wahdatul Wujud, Tuhan itu &#8216;properti&#8217;, dan bukan</p>
<p style="text-align:justify;">&#8216;entitas&#8217;. Tuhan itu bagi mereka adalah &#8216;wujud&#8217; dan bukannya &#8216;maujud&#8217;.</p>
<p style="text-align:justify;"> </p>
<p style="text-align:justify;">Lalu lebih dari itu, Ibnu Arobi juga menganggap bahwa entitas-entitas</p>
<p style="text-align:justify;">ini pada hakekatnya satu. Sehingga baginya, Nabi Ibrahim bukan</p>
<p style="text-align:justify;">bermimpi menyembelih putra beliau, Ismail (alaihimassalam), akan</p>
<p style="text-align:justify;">tetapi menyembelih dirinya sendiri. Dan baginya, Nabi Adam</p>
<p style="text-align:justify;">(alaihissalam) itu juga tidak menikahi Hawa yang merupakan orang lai,</p>
<p style="text-align:justify;">melainkan menikahi dirinya sendiri. Baginya, Fir&#8217;aun (la&#8217;natullaahi</p>
<p style="text-align:justify;">&#8216;alaih) itu bukan orang kafir, tapi orang mukmin yang sudah mencapai</p>
<p style="text-align:justify;">derajat hakekat.. sejajar atau bahkan lebih tinggi dari Musa</p>
<p style="text-align:justify;">(alaihissalam). Inilah konsepsi-konsepsi sejati wahdatul wujud,</p>
<p style="text-align:justify;">sebagaimana yang jelas tertera dalam buku-buku induk para penanjurnya,</p>
<p style="text-align:justify;">semisal bukunya Ibnu Arobi yang disebutnya &#8216;Fushushul Hikam&#8217; dan</p>
<p style="text-align:justify;">bukunya Sahruwardi yang disebutnya &#8216;Hikmatul Isyraq&#8217;..</p>
<p style="text-align:justify;"> </p>
<p style="text-align:justify;">Sehingga, dalam wahdatul wujud, tidak ada lagi dualitas &#8220;hamba&#8221; dan</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;tuhan&#8221;, apalagi &#8220;muslim&#8221; dan &#8220;kafir&#8221;. maka tidak heran, kalau</p>
<p style="text-align:justify;">mengawini keledai adalah sepadan dengan shalat di mushalla. Dalam</p>
<p style="text-align:justify;">konsepsi sophis ini, tidak ada lagi jeda antara &#8216;kausa&#8217; dan &#8216;efek&#8217;,</p>
<p style="text-align:justify;">apalagi antara &#8216;penurun hukum&#8217; dan &#8216;pelaksana hukum&#8217;. Apalagi kalau</p>
<p style="text-align:justify;">yang kita bincang adalah konsepsi wahdatul wujud ekstrim ala</p>
<p style="text-align:justify;">At-Tilmisani dan Ibnu Sab&#8217;in cs. Wah, malah lebih gak karu2qan..</p>
<p style="text-align:justify;"> </p>
<p style="text-align:justify;">Demikian. Kalau poin-poin ini jelas dan bisa dicerna, silakan</p>
<p style="text-align:justify;">dikomentari.. dan kita akan lanjutkan pada beberapa poin berikutnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Salam hangat,</p>
<p style="text-align:justify;">Nidhol Ms.</p>
<p>Bersambung dimailing list <a href="mailto:parapemikir@yahoogroups.com">parapemikir@yahoogroups.com</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/parapemikir.wordpress.com/199/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/parapemikir.wordpress.com/199/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/parapemikir.wordpress.com/199/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/parapemikir.wordpress.com/199/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/parapemikir.wordpress.com/199/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/parapemikir.wordpress.com/199/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/parapemikir.wordpress.com/199/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/parapemikir.wordpress.com/199/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/parapemikir.wordpress.com/199/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/parapemikir.wordpress.com/199/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/parapemikir.wordpress.com/199/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/parapemikir.wordpress.com/199/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/parapemikir.wordpress.com/199/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/parapemikir.wordpress.com/199/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=parapemikir.wordpress.com&#038;blog=8959315&#038;post=199&#038;subd=parapemikir&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://parapemikir.wordpress.com/2008/09/26/menghilangkan-aku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/937a324ba87642b2af63ec361902dc3b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">aksesb01</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
