Eksistensi dan Esensi

April 26, 2009 at 9:39 pm | Posted in FILSAFAT | Leave a comment
Tags: , , , , ,
eksistensi vs esensi

eksistensi vs esensi

Banyak memang orang yang berbicara tentang filsafat tapi lebih banyak lagi orang yang pernah mendengarkannya…, Ada yang sudah pernah mendengar dan cuek, ada yang pernah mendengarkan dan komentar dikit sebagai penglaris, ah filsafat ? apa itu ? ah ndak ada gunanya filsafat…:),  tapi ada juga lho yang pernah mendengarkannya dan kemudian terusik sehingga mencari tahu, ada apa sih dengan filsafat…?

Diantara yang bicara filsafat, Ada yang bicara karena memang mak dan bapaknya nyuruh kuliah filsafat, terpaksa dech bicara filsafat supaya lulus kuliah J.  Ada juga jenis yang lain, bicara filsafat karena orang disekitarnya bicara filsafat alias ikut mode, dan yang lainnya lagi adalah orang-orang yang bicara filsafat karena memang mencintai filsafat, sehingga memberi tahu , ini lho filsafat bla..bla…bla..

Sekarang dimanakah kita?

Kita termasuk orang yang bicara filsafat, dan untuk mengukur kedekatan kita dengan filsafat, yuk kita cari tahu…ada apa dengan filsafat?

Filsafat pada dasarnya hanya membicarakan 2 faktor utama, yaitu eksistensi dan esensi. Bolak balik orang-orang sibuk membicarakannya dari jaman kejaman hingga sekarang ini, yang dibahas ya itu-itu saja, manakah yang lebih penting eksistensi atau esensi.

Bicara eksistensi dan esensi adalah seperti halnya orang bicara matematika dengan matematika (aritmetika, geometri dll) . Namu kalau bicara eksistensi maka artinya seperti membicarakan Aritmetika, maka ANGKA-ANGKALAH tentunya yang menjadi eksistensi telaahannya. Bicara Geometri, maka walaupun pembicaraanya dibolak balik dan temanya diutak atik, tapi aksistensi Geometri adalah TETAP membicarakan disekitar GARIS-GARIS JUGA. Semua GARIS! baik garis yang miring, yang tegak dan yang sudah tidak bisa tegak hehehe…

Sekarang dengan contoh perumpaman itu kita akan bicara lebih kedalam lagi, kita bicara mulai dari eksistensi dulu…

Eksistensi qua eksistensi, begitu kalimat yang sering kita dengar…yang berarti ada didalam ada (wujud qua wujud). Ini kalimat sangat padat, dan membicarakannya juga kita harus satu-satu dulu.

Perlu diketahui bahwa kemanapun orang muter-muter bicaranya, tidak peduli apa latar belakangnya, baik yang sudah terbiasa menelaah filsafat, ataupun yang masih baru akan selalu membicarakan tentang masalah eksistensi dengan yang menjadi dua lawannya yaitu esensi dan adam (tidak ada).

Contoh untuk permasalahan aksistensi dengan dua lawannya ini bisa kita lihat dari kehidupan kita sehari-hari. Bagi kita yang hidup dialam indrawi, yang kita sebut dengan ada adalah ada yang kelihatan dan terasa oleh pancaindara kita. Misalnya  bakwan, mobil, pesawat terbang, kapal laut, pisang goreng , bulan, bintang, kerupuk, peyek dain-lain…,  kita bilang ada karena memang kita bisa lihat dan bahkan sebagian bisa kita makan J , Bendanya betul-betul “ada terlihat”.

Tapi filsafat tidak berhenti di ada yang terlihat saja, filsafat tidak berhenti sampai dengan peyek tadi tok. Filsafat angkat bicara jauh diatas itu, filsafat bicara tentang hal-hal yang ADA (eksistensi) selain dengan yang ADA ‘terlihat’ dengan pancaindra.

Filsafat memberitahukan kita tentang ADA yang lain, misalnya adanya bayangan kota Barcelona, bayangan pacar atau calon pacar  dipikiran kita. Sang pacar atau calon pacar ini betul-betul “ADA” dalam pikiran kita, tapi coba dibedah kepala kita cari tahu  apakah memang betul-betul  ADA TERLIHAT di isi kepala kita ada orang atau kota yang kita bayangkan tadi?.

Lho ini maksudnya gimana sih?

Maksudnya, bahwa ada susuatu yang betul-betul ADA tapi tidak ADA dalam bentuk nyata. Bukti dia ADA adalah dia bisa bekerja dan bahkan menciptakan bayangan dan rencana-rencana. Bahkan banyak ditemukan sesuatu yang ADA dalam dunia modern ini adalah ADA danTERCIPTA dari ADA-nya bayangan dan rencana-rencana yang ada dialam pikiran.

Ini jangan dikira gampang lho, kalau ADA nya bisa digapai dengan panca indra PASTI setelah TIDAK ADA nya pun bisa digapai dengan pancaindra. Misalnya didepan rumah saya ADA pohon durian dan kelihatan ADA dengan pancaindra, tapi kalau pohon itu saya TEBANG dan kemudian saya buang ke laut, sekarang bisa disaksikan dengan jelas bahwa didepan rumah saya sudah TIDAK ADA pohon durian. Tadinya ADA sekarang TIDAK ADA dan bisa dilihat dialam nyata, ini mah gampang🙂

Tapi bagaimana kalau tadinya ADA didalam alam pikiran, apakah bisa menjadi TIDAK ADA?

Filsafat mengatakan bahwa ADA bisa menjadi TIDAK ADA hanya berlaku untuk yang ADA secara realita. Tetapi untuk hal-hal yang ADA nya bukan dialam realita, tetapi di ada alam mental (dzhini) maka sesungguhnya dia tidak mengenal istilah TIDAK ADA melainkan istilahnya adalah TIDAK MEMPUNYAI ESENSI.

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: