Sebab

May 4, 2009 at 1:51 am | Posted in FILSAFAT | Leave a comment
Tags: , , , , ,

Hukum sebab akibat, demikian bunyi kalimat yang sering kita jumpai disekitar kita. Apakah yang dibicarakan orang-orang disekitar hukum sebab akibat ini?

sebab

sebab

Pembicaraan tentang hukum sebab akibat ini walaupun dibolak balik rumus dan teorinya tetapi dalam satu hal haruslah selalu sama yaitu suatu sebab tertentu  haruslah menghasilkan akibat tertentu pula sesuai dengan ciri khusus penyebabnya. Atau bisa juga dikatakan bahwa suatu akibat tertentu haruslah bersumber dari sebab tertentu pula dan bukan berasal dari suatu sebab yang tidak ada sangkut paut dan kesesuaian sama sekali.

Dengan kata lain, Antara berbagai keberadaan (eksistensi) dialam raya ini, terdapat hubungan satu sama (hubungan korespondensi). Dengan begitu maka ‘setiap sesuatu’ tidak mungkin memunculkan ‘apa saja!’ , dan juga ‘setiap sesuatu ‘ tidak mungkin BERASAL DARI ‘apa saja’ , Sesuatu itu haruslah muncul dari sesuatu yang mempunyai hubungan korespondensi.

Kita lihat…

Belajar adalah ‘suatu’ SEBAB untuk menjadi pandai..
Minum adalah SEBAB bagi hilangnya rasa haus…
Makan adalah SEBAB bagi hilangnya rasa lapar…

Contoh diatas adalah contoh hubungan korespondensi antara suatu sebab dengan akibat yang dihasilkannya, dan untuk mengetahui akibat-akibat tersebut kita harus terlebih dahulu meneliti sebab-sebab khususnya.

Kita harus teliti, apakah makan bisa menyebabkan pintar?
Kita harus teliti, apakah minum bisa menyebabkan bodoh?
Kita harus teliti, apakah belajar bisa menyebabkan kenyang?

Tentu saja kita tidak pernah mendengar dan beranggapan demikian karena kita tidak pernah melihat hubungan antara sebab dan akibat yang serupa itu akan menghasilkan suatu korespondensi khusus.

Dengan contoh sederhana tersebut, kita bisa melihat bahwa dalam perkara memetakan hubungan korespondesi itu, kita dituntut harus menggunakan aturan berpikir yang benar sebagai tumpuan untuk meneliti sebab-sebab khusus dari suatu perkara, sehingga dibenak kita tidak akan terjadi kekeliruan atau kekacauan berpikir seperti beranggapan bahwa segala sesuatu di alam semesta ini terdiri dari sekumpulan kejadian yang tidak teratur dan terjadi ‘semaunya’ tanpa ada hubungan satu sama lain secara korenpondensi.

Alam ini memiliki suatu sistem yang tersusun rapi yang masing-masing partikularianya mempunyai hubungan ke khususan satu sama lain. Tidak ada satu partikulariapun yang menempati partikularia yang lain yang tidak mempunyai hubungan khusus.

Sekarang kita bertanya, apa sih yang dimaksud dengan sebab-sebab khusus itu? Menjawab pertanyaan semacam ini sebenarnya tidak bisa langsung spontan dengan mengemukakan definisi dan ciri kekhususan dari aneka sebab-sebab itu. Hal ini karena ditemukan fakta bahwa terdapat berbagai jawaban yang ‘menantang’ dalam ilmu pengetahuan modern. Misalnya, ilmu fisika, kimia, sosial, demokrasi, budaya dan lain-lain itu akan menjawab kekhususan suatu hubungan itu dengan pendekatan ‘terdekat’ dari bidang kajian masing-masing. Namun demikian apakah kita kemudian tidak mempunyai patokan atau acuan apapun dalam perkara meneliti sebab khusus itu?

Tentu saja kita punya, dan sebagai acuan terbanyak para ilmuwan masih mengacu kepada ‘ilmu lama’ dari Aristoteles yang membuat acuan dasar dalam meneliti kekhususan sebab, yakni :

1. SEBAB EFEKTIF

2. SEBAB FORMAL

3. SEBAB MATERIAL

4. SEBAB FINAL

Sekarang kita akan lihat tentang  acuan yang dipakai oleh para ilmuwan sekarang ini berdasarkan  ‘ilmu lama’ yang ditulis oleh Aristoteles tersebut. Aristoteles jauh-jauh hari memang sudah mengatakan walaupun dalam perkembangannya nanti akan ditemukan aneka ‘pengetahuan baru‘  maka pengetahuan baru tersebut pada dasarnya pastilah memiliki  keempat sebab kekhususan tersebut.

Kita lihat…

Misalnya kita akan membangun sebuah rumah, kita bisa teliti satu persatu sebab-sebab khusus bagi terciptanya sebuah rumah .

Kita mulai dari Tukang Bangunan , Tukang bangunan bagi terciptanya suatu rumah adalah SEBAB EFEKTIF, Dengan adanya tukang bangunan maka menciptakan suatu rumah akan menjadi mungkin dan efektif.

Yang kedua, adalah SEBAB FORMAL, yaitu bagaimana kita harus membuat rumah yang baik, disain yang benar, izin bangunan yang legal dan lain-lain sebagainya sebagai syarat khusus untuk terbentuk rumah yang ideal dan sekaligus legal.

Yang ketiga adalah SEBAB MATERIAL, bahan bangunan, semen, pasir, batu, besi , keramik, genteng, air dan lain-lain adalah SEBAB Material yang memungkinkan Tukang Bangunan untuk menciptakan rumah.

Kemudian yang terakhir, Keinginan kita untuk tinggal dirumah tersebut. Keinginan dan kemampuan kita untuk membeli bahan material, tanah dan alat-alat yang terkait dengan bangunan rumah tersebut disebut sebagai SEBAB FINAL.

Perumpamaan membangun rumah tersebut, apakah demikian juga urutan sebab-sebab khususnya bagi seseorang yang menelaah science, agama, dan ilmu-ilmu sosial lainnya? Apa kata orang -orang fisika misalnya?

Bagi fisikawan, tidak ada yang lain kecuali urusannya gerak menggerak , bagi fisikawan yang disebut dengan sebab khusus adalah PENGGERAK dan yang disebut dengan akibat khusus adalah yang BERGERAK.

Untuk contoh diatas, Tukang Bangunan bagi fisikawan adalah SEBAB, karena Tukang Bangunanlah yang membongkar dan memasang aneka bahan bangunan di posisi-posisi yang tepat untuk terciptanya sebuah bangunan.

Dan jangan kaget kalau nanti diprotes oleh ahli teologi yang mengatakan bahwa Tukang Bangunan tidaklah pantas disebut sebagai SEBAB karena mereka itu tidak lebih hanya menyusun barang-barang material yang sudah ada betebaran dimana-mana.

Begitu juga kalau kita ambil contoh yang lain, misalnya hubungan ayah dan ibu yang menghasilkan anak. Bagi fisikawan hal semacam ini adalah hal yang jelas dan terang benderang, bahwa mak dan bapak itu adalah SEBAB khusus akan terciptanya anak. Dan protes yang serupa juga datang dari ahli teologis, bahwa mak dan bapak si anak itu tidaklah pantas dikatakan sebagai SEBAB, karena kapasitas mereka berdua itu tidaklah lebih dari sekedar fasilitator saja.  

Nah lho, baru sedikit kita melihat kedalam tentang apa yang dibicarakan diseputar sebab akibat ini sudah kita temukan ‘obrolan yang hangat’ antara 2 kubu , ini yang bicara baru 2 kubu lho, bagaimana kalau 200 kubu?

Dan khabar baiknya adalah, walaupun yang bicara 200 kubu atau lebih, satuhal yang sudah disepakati oleh hampir semua kubu adalah bahwa alam semesta ini tidak tersusun secara acak-acakan, tidak tersusun secara kacau balau, melainkan tersusun dan tertata rapi…

TrackBack URI

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: