Universal dan Partial

June 2, 2009 at 8:37 am | Posted in LOGIKA | Leave a comment
Tags: , , , , , , , , ,

universal-dan-partialBermula dari diskusi di milist yahoogroup yang sedikit ‘alot’  tentang permasalahan penggunaan kata-kata umum dan khusus, maka tulisan ini sengaja saya buat untuk mempermudah kita dalam memilah kata-kata umum dan khusus yang sering digunakan dalam diskusi-diskusi online.

Pembicaraan tentang perkara umum dan khusus ini akan lebih mudah jika kita mengetahui terlebih dahulu tentang dua hal yang menjadi fokus dari permasalahan suatu subjek, yaitu pertama konsepsi tentang zat (esensi) dan yang kedua pendefinisian atau penilaian  tentang sifat (aksidental).

Pertama bicara tentang esensi, konsepsi tentang esensi ini sendiri bisa dikelompokkan menjadi  dua kelompok, yang pertama konsepsi tentang zat yang bersifat umum (universal) dan yang kedua adalah zat yang bersifat khusus (partikular).

Kita mulai dari esensi yang bersifat umum, pembicaran yang merujuk kepada hal-hal yang bersifat  universal atau umum lebih banyak dijumpai diranah ilmiah, dan seyogyanya memang digunakan untuk pembicaraan-pembicaraan yang bersifat ilmiah dan logis.

Misalnya, Apa yang dimaksud dengan lingkaran?
Misalnya, Apa yang dimaksud dengan kehidupan?
Misalnya, Apa yang dimaksud dengan manusia?
Misalnya, Apa yang dimaksud dengan segitiga?
Misalnya, Apa yang dimaksud dengan gunung?

Dst…

Pertanyaan-pertanyaan seperti diatas disebut sebagai pertanyaan universal, karena yang dimaksud dari sipenanya adalah tentang esensi dari masing-masing hal. Yang mana kemudian akan menghasilkan kesimpulan umum berupa :

Lingkaran itu adalah…
Kehidupan itu adalah…
Manusia itu adalah…
Segitiga itu adalah..
Gunung itu adalah….dst…

Pengertian umum yang dihasilkan dari pertanyaan tersebut akan menjadi acuan standar karena bisa digunakan dimana saja dan oleh siapa saja secara umum bahkan tanpa batas. Sehingga ketika orang bertanya apakah yang dimaksud dengan lingkaran maka sipenanya akan mendapatkan jawaban yang sama dari semua orang yang menjawab tanpa memandang perbedaan ras, negara, budaya dan agama sehingga terjaga independensi hakikat (esensi) dari perkara yang ditanyakan.

Sekarang ke esensi yang bersifat khusus. Pembicaraan yang bersinggungan dengan perihal-perihal khusus biasanya ditujukan kepada nama sesuatu dengan menunjuk  kepada benda/hal yang bersangkutan. Dan pembicaraan mengenai masalah ini umumnya ditemukan dalam kesehari-harian kita, dan memang seyogyanya pembicaraan mengenai sifat-sifat khusus ini digunakan dalam pembicaraan non ilmiah.

Misalnya, ketika kita bercerita dengan tetangga perihal  Hasan anaknya pak Husin.  Kata ‘Hasan’ dan ‘Pak Husin’ adalah ‘esensi khusus’ tentang orang yang bernama Hasan sebagai Anaknya Pak Husin. Esensi khusus disitu berbicara tentang satu pribadi, yaitu Pribadi Hasan.

Akan menjadi berbeda kalau kita bercerita kepada tetangga, bahwa nama Hasan adalah nama yang baik  untuk anak laki-laki. Pengertian kata ‘Hasan’ disana akan berubah makna menjadi esensi yang bersifat umum (universal) karena nama Hasan belum mengikat ke pribadi manapun.

Kasus ini persis seperti kasus ketika saya menemui diskusi yang sulit di yahoogroup yang membicarakan perbedaan penggunaan kata umum dan khusus terhadap satu objek. Misalnya kata ‘berlari’.  Kata ‘berlari’ adalah satu kata yang bersifat umum, tapi jika dilekatkan kepada objek tertentu, Misalnya kucing itu pandai berlari maka maknanya akan berubah menjadi esensi khusus , yaitu esensi tentang seekor kucing.

Atau dilekatkan kepada objek lain, Misalnya Irwansyah itu berlari Kencang…, maka pengertian umum dari kata ‘berlari’ akan berubah menjadi pengertian khusus tentang ‘seseorang yang bernama Irwansyah’ yang berlari kencang.

Membolak balik subjek dari kalimat yang akan dibicarakan seperti ini sering menjebak sipembicara kedalam diskusi yang berputar-putar tanpa arah jika kita tidak sempat memperhatikan bagaimana aturan penggunaan kata-kata khusus ataupun yang umum.

Pembolak-balikan bisa saja terjadi di kata ganti yang lainnya, misalnya bicara ‘Kucing’. Kucing adalah esensi universal…, dimana-mana kucing ya kucing. Tapi kalau kita akan membicarakan tentang kucing mati, maka yang dimaksud sipembicara tentulah satu kucing, atau kucing tertentu yang sudah atau akan mati.  Dan penyebutan seperti itu akan berubah esensi kucing secara universal menjadi kucing yang khusus.

Pertanyaannya sekarang adalah, apakah bisa esensi umum dikhususkan? Tentu bisa sebatas yang dikhususkan adalah objek yang sama. Misalnya kucing, kucing adalah esensi umum…dan bisa dikhususkan menjadi kucingnya pak budi, kucing itu, kucing mati, kucing itu bisa berlari dan lain-lain.

Kalau ditambahkan  Anjing, apakah kucing masih bisa dikhususkan? Dibandingkan? Atau disamakan?

Jawabannya TIDAK bisa jika kita masih berbicara tentang satu subjek khusus yang bernama kucing! Karena jika dibandingkan dengan subjek yang berbeda maka dia akan kehilangan esensi umumnya (universalnya) sebagai kucing.

Pengecualian hanya bisa jika kita ingin membicarakan esensi khusus dari kelompok yang lebih besar, yaitu Hewan.

Pengelompokan dari Universal ke khusus seperti itu akan meliputi suatu pembahasan yang lebih luas, seperti :

1. Pembahasan tentang Diferensi
2. Pembahasan tentang Ekuivalensi
3. Pembahasan tentang Implikasi
4. Pembahasan tentang Asosiasi

Dan pembahasan tentang keempat kondisi diatas sebenarnya akan menjadi lebih mudah jika kita bisa memahami dengan baik apa itu esensi universal dan apa itu esensi khusus dari suatu subjek.

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: