Mereka yang disebut kaum intelektual

September 3, 2009 at 4:55 am | Posted in TEOLOGI | 3 Comments
Tags: , , , , , , ,
intelektual

intelektual

Bahasan kali ini adalah sambungan dari artikel sebelumnya yang kami beri judul ‘ada berapakah agama yang benar’. Kita telah sampai kepada pertanyaan ketiga yaitu apakah orang-orang yang tidak mengikuti agama yang benar TETAPI melakukan pekerjaan dan perbuatan sesuai dengan ajaran agama yang benar, semua amalannya itu akan diterima oleh Tuhan?

Misalnya agama yang benar telah memerintahkan untuk berbuat baik kepada semua manusia, mendukung hak-hak orang yang tertindas, menengahi perselisihan, memerangi para pemeras dan penindas, menolong orang-orang yang bernasib malang, membantu orang-orang miskin, menegakkan keadilan dan memberikan pendidikan sebagaimana tugas kenabian pada setiap zamannya. Lalu kita bertanya apakah mereka yang melakukan tugas-tugas kenabian tersebut akan diberi pahala atau tidak?

Dengan kata lain apakah keimanan kepada satu agama yang benar adalah sebagai prasyarat untuk memperoleh pahala disisi Tuhan? Disini kita akan menemukan dua jalan pikiran yang paling berpengaruh. Pertama adalah logika perdamaian mutlak (Absolute Conciliation) yang dibawakan oleh kaum intelektual, dan yang kedua adalah logika manifestasi murka Tuhan yang melebihi kasih sayang-Nya yang dibawakan oleh orang-orang sholeh yang kaku.

Mereka yang disebut kaum intelektual ini mengajukan argumennya dengan berbagai macam bukti, baik bukti rasional maupun bukti yang ditemukan didalam kitab suci Al-quran

Mereka mengatakan bahwa semua perbuatan baik sebagaimana yang disebutkan diatas itu pastilah akan mendapat pahala dari Tuhan dengan alasan :

Pertama, Allah memiliki hubungan yang sama terhadap semua wujud yang ada, Allah tidak memiliki hubungan kekerabatan dengan siapapun. Allah tidak rasis, Dia ada dibarat dan juga ada ditimur, Ada diatas dan juga ada dibawah, Allah ada dimasa sekarang, masa lalu dan masa yang akan datang. Bagi Allah sama saja semuanya, Dia meliputi segala sesuatu, dia tidak beranak dan tidak diperanakkan.

Allah tidak memiliki ikatan keluarga dan hubungan khusus dengan siapapun dan dari bangsa manapun, tidak dengan orang barat, timur, utara, selatan atau yang lainnya. Oleh karena itu tidak masuk akal kalau Tuhan memilih-milih siapa yang akan dimurkainya dan siapa yang akan dikasihinya dengan mengabaikan amal perbuatan manusia dari golongan tertentu dan menerima amal perbuatan dari kelompok yang lain.

Karena hubunga Allah dengan semua manusia adalah sama saja, maka tidak mungkin dan tidak masuk akal kalau Allah menerima perbuatan baik dari satu orang dan tidak dari orang yang lain. Jika perbuatan baiknya sama maka seyogyanya diterima dengan cara yang sama pula berdasarkan perinsip keadilan Illahi.

Kedua, Kebaikan dan keburukan itu hakikatnya ada pada perbuatan tersebut. Misalnya kejujuran, berkata-kata sopan, menegakkan keadilan dan lain-lain disebut baik karena pada hakikatnya pekerjaan tersebut adalah baik. Demikian juga keburukan, seperti mencuri, berbohong, korupsi dan lain-lain disebut buruk karena hakikat perbuatan tersebut memang sudah buruk dari sononya (innate).

Jujur, sopan, menegakkan keadilan disebut baik bukanlah karena Allah memerintahkan untuk mengerjakannya. Demikian juga mencuri, rampok, korupsi disebut buruk bukanlah karena Allah telah melarangnya.

Dengan memperhatikan alasan kedua ini maka tidak alasan bagi Tuhan untuk menolak amalan baik dari seseorang dan menolaknya dari orang yang lain.

Kedua, Tuhan sudah menyatakan didalam Al-quran pada surat 5 ayat 69 :

“Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, Shabiin dan orang-orang Nasrani, siapa saja (diantara mereka) yang benar-benar beriman kepada Allah dan hari akherat serta beramal saleh, maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.”

Jelas isi al-quran itu tidak terbantahkan lagi bahwa siapa saja yang beramal baik akan diterima disisi Tuhan.

B e r s a m b u n g . . .

3 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Perdebatan ini muncul karena ada satu hal yang dilupakan, yaitu unsur keserakahan manusia terhadap kebaikan yang mungkin bisa mereka peroleh dengan sarana yang mereka miliki. Jadi ketika manusia meyakini bahwa dia memiliki sebuah sarana yang paling sah untuk memperoleh kebaikan, dia merasa cukup yakin pula untuk memiliki kemampuan menyingkirkan orang lain dari kemungkinan memperoleh kebaikan yang sama.
    Karena surga adalah hal terbaik yang bisa mereka dambakan, jadi lumrah jika mereka ingin memonopolinya. Sayangnya mereka lupa bahwa surga itu — sebagaimana diri mereka sendiri pula — ada pemilik sahnya, yaitu Tuhan yang telah menciptakannya.
    Jadi sangat absurd sebetulnya jika kita berfikir bahwa hanya kitalah yang berhak masuk surga, sementara orang lain tidak. Itu sebetulnya sudah berada di luar batas urusan yang kita bisa ikut campur didalamnya.
    ‘Wa qaalu lay-yadhulal-jannata illa man kaana huudan aw nashara, tilka amaniyyuhum.’
    Ummat yang terdahulu sebelum kita (Yahudi dan Nashrani) pernah membuat klaim semacam itu dan malah diejek Al Quran dengan perkataan “Tilka amaniyyuhum”.
    Dan mereka pernah mangklaim sebagai satu-satunya kelompok yang memiliki petunjuk dan ajaran yang paling sah,dan dibantah Allah dalam Al Quran. Jadi sangat tidak pantas jika kita, sebagai ummat islam, bersikap dan berpendirian seperti mereka.
    Menurut saya yang tepat itu menjalankan apa yang diajarkan kepada kita oleh Nabi Muhammad sebagai satu-satunya sarana yang kita miliki dan yakini dan tetap mempunyai keyakinan dan harapan bahwa ummat yang mengikuti ajaran Nabi-Nabi yang lain pun akan diselamatkan jika mengamalkan semua ajaran itu seperti apa yang diajarkan pada mereka oleh Nabi-Nabinya.
    Sangat tidak pantas memonopoli kebenaran, sangat tidak sopan mengharapkan kebaikan hanya untuk kita sendiri, dan betul-betul sangat melanggar ajaran agama jika kita mengharapkan orang lain celaka, kecuali bagi mereka yang memang berbuat kezhaliman di muka bumi.

  2. “Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, Shabiin dan orang-orang Nasrani, siapa saja (diantara mereka) yang benar-benar beriman kepada Allah dan hari akherat serta beramal saleh, maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.”
    Ayat di atas banyak digunakan golongan pluralisme sebagai argumen pendukung paham mereka bahwa semua agama adalah benar(walaupun dari pihak masing2 agama menolak bahwa agama mereka sama dengan agama lain),padahal bila kita lihat ayat di atas bahwa siapa saja (diantara mereka) yang benar-benar beriman kepada Allah dan hari akherat serta beramal saleh seketika itulah statusnya menjadi seorang muslim,jadi bukannya al quran menyatakan semua agama benar,tetapi sekali lagi bahwa al quran menyatakan siapa saja (diantara mereka) yang benar-benar beriman kepada Allah dan hari akherat serta beramal saleh statusnya menjadi seorang muslim
    Kemudian menaggapi pernyataan bahwa;
    Ummat yang terdahulu sebelum kita (Yahudi dan Nashrani) pernah membuat klaim bahwa satu-satunya kelompok yang memiliki petunjuk dan ajaran yang paling sah dan malah diejek Al Quran dengan perkataan “Tilka amaniyyuhum”.
    Dan mangklaim sebagai satu-satunya kelompok yang memiliki petunjuk dan ajaran yang paling sah,dan dibantah Allah dalam Al Quran. Jadi sangat tidak pantas jika ummat islam, bersikap dan berpendirian seperti mereka.
    Pernyataan di atas sangat tidak masuk akal karena yang digunakan sebagai pembanding yaitu umat nasrani dan yahudi di mana dari sisi kitab mereka yang sudah dicampuraduk oleh tangan2 manusia ,sehingga dari segi isi sudah tidak murni lagi ,mana yang dari Allah dan mana yang buatan manusia sudah tak dapat dipisahkan lagi.Jadi tak perlu heran jika Allah menyindir mereka .Tetapi masalahnya kenapa hal itu disamakan dengan Islam yang dari segi kitab sucinya yaitu al quran masih terjaga kemurniannya.???????!!!!!

  3. Assalaamualaikum dan salam hormat.

    Islam dasarnya adalah Tauhid dan disusuli dengan amal soleh. Maka Islam tidak akan berkompromi dengan kemusyrikan. Apakah Islam berkompromi dengan mereka yang tidak mentauhidkan ALLah Taala tetapi melakukan amal kebaikan?

    Ramai antara kita hanya mengambil ayat “orang mukmin, Sabi’in, yahudi, nasani…” diatas untuk mengclaim semuanya akan masuk syurga jika melakukan amal kebaikan. Namun sering kita lupa bahawa ALLah Taala telah menyatakan bahawa orang yang kafir kepada ALLah Taala amal mereka tiada nilai walau sebesar hama dan ia akan dihumbankan ke neraka.

    Apakah nilai kebaikan yang dilakukan oleh orang yang menolak Tauhid? Tiada sama sekali di sisi ALLah Taala, hanya pada mata manusia sahaja yang ada. Jadi bagaimanakah dikatakan “mereka akan mendapat balasan yang baik dari ALLah Taala”?

    Apakah kita layak mendapat genjaran kebaikan dalam pada yang sama kita mensyirikkan ALLah Taala?

    Maka haruslah dikaji apakah krateria yang dikatakan “orang mukmin, orang yahudi, orang nasrani, orang sabi’in…” itu? Maaflah, awaslah jangan kita hanya membaca ayat al-Quran terus sahaja memberikan tafsir menurut hawa nafsu kita semata-mata. Dan diruang manakah yang melayakkan mereka menerima ganjaran kebaikan mereka di dunia?

    Ketahuilah balasan ALLah Taala kepada kebaikan mereka di dunia hanyalah sebatas semasa mereka di dunia ini sahaja. Mereka akan dikurniakan kekayaan, kesenangan hidup, harta dan kekuasaan sebagai balasan kebaikan mereka. Namun di akhirat kelak, iktiqad mereka akan menentukan apakah mereka akan ke neraka atau ke syurga. Kemusyrikan adalah (maaf) neraka layaknya.

    Sesungguhnya kenyataan al-Quran harus dinyatakan tanpa ragu.

    Wassalam


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: